Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kemarahan Pak Dirga


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya, siswa-siswi mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya masing-masing. Terlihat Anta dan Bella sudah duduk di bangkunya, berbincang-bincang sambil menunggu Guru di jam pertama masuk kelas. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah Kaki dari luar kelas.


Tap! tap! tap!


Seorang lelaki mudah dengan tubuh tegak dan postur tubuh atletis masuk dengan memasang muka serius dan datar tanpa senyum menatap seluruh siswa di kelas itu. Ya dia adalah Pak Dirga guru matematika yang masih sangat mudah, serta terkenal paling disiplin dan tegas di sekolah itu. Seketika kelas menjadi sunyi, beliau mengucap salam, lalu menyuruh siswanya berdoa sebelum pelajaran di mulai.


"Rudi, tolong kau ambil buku tugas kalian yang ada di kantor!" perintah Pak Dirga


"Baik, Pak," jawab Rudi sambil mengajak Asep teman sebangkunya ikut juga dengannya, untuk mengambil buku tugas mereka di kantor. Tak lama kemudian mereka kembali kelas dengan membawa tumpukan buku di masing-masing tangan mereka, lalu meletakkannya di meja guru, kemudian mereka kembali ke tempat duduk mereka.


Pak Dirga meraih setumpuk buku tugas dan membantingnya dengan keras secara tiba-tiba.


Blam!


Rahangnya mengeras menandakan kemarahan yang luar biasa.


"Kenapa jawaban seluruh kelas ini sama? Siapa yang memberikan contekan pada kalian!?" tanya pak Dirga.


"Ayo jawab, jangan hanya diam saja!" seru pak Dirga dengan suara lantang.


"Saya Pak, maaf," jawab Anta sambil berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Saya Pak, saya juga salah, saya yang pertama kali menyontek pekerjaan Anta," jawab Bella lantang lalu menundukkan kepalanya.


Anta menoleh ke arah Bella sambil berbisik, "Mengapa ikut mengaku juga? biar aku saja yang bertanggung jawab!" Bella menggeleng sambil tersenyum pada Anta.


Tak lama kemudian Rudi juga berdiri di ikuti Asep juga.


"Saya juga salah Pak, selaku ketua kelas harusnya saya mencegah teman-teman mencontek," kata Rudi mengaku.


"Saya juga Pak, saya selaku wakil kelas juga ikut bertanggung jawab," kata Asep.


"Ok! kalian maju ke depan!" perintah pak Dirga


Ke empat anak itupun berjalan maju ke depan dan berdiri berjajar berlawanan arah dengan teman-teman kelas yang duduk.


Pak Dirga berjalan menghampiri mereka dengan menyimpan tangannya di balik punggungnya, pertama dia berdiri tepat di depan Rudi.


"Jadi sebagai ketua kelas kamu cuma berkewajiban melarang teman mu nyontek, tetapi kamu boleh nyontek begitu?" tanya pak Dirga pada Rudi


"Tidak Pak, harusnya saya kerjakan sendiri Pak, tidak nyontek, Pak," jawab Rudi, Kemudian pak Dirga beralih ke Asep.


"Kalau kamu bagaimana, Sep?" tanya Pak Dirga.


"Saya sama Pak, harusnya tidak mencontek?" jawab Asep. Pak Dirga pun beralih ke Bella sambil menatap tajam pada Bella


"Sama pak, saya harusnya gak mencontek," jawab Bella lirih sambil menunduk. Terakhir Pak Dirga bergeser tepat didepan Anta.


"Kau, jelaskan apa kesalahan mu," perintah Pak Dirga.


"Maaf pak saya salah harusnya saya tak memberi contekan, harusnya saya mengajari Bella, Rudi dan Asep, jika saya tidak bisa menjelaskan maka saya tidak boleh membuatnya bodoh, Pak," jawab Anta

__ADS_1


"Apa ada lagi kesalahan mu selain ini? Siapa namanya tadi?" tanya pak Dirga kembali


"Sa-- saya, Anta pak. Tidak, hanya itu kesalahan saya pak," jawab Anta pada pak Dirga


"Heeem benarkah, empat jam Anta kamu tidak kembali ke kelas, kemana kamu hah?" Tanya pak Dirga.


"Saya berada di toilet pak, perut saya sakit Pak, Maaf," jawab Anta kembali pada Pak Dirga yang berjalan sedikit mendekati Anta dan berkata lirih di dekat telinga Anta.


"Ada yang lihat kamu melompat pagar belakang, apa jawab mu?" tanya pak Dirga sinis. Anta hanya diam saja.


"Baik Anta karena kau suka sekali dengan toilet maka kamu saya hukum membersikan toilet bersama Bella, Rudi dan Asep. Setelah selesai keruangan saya, untuk kalian semua kerjakan soal yang saya berikan.


"Baik Pak," jawab anak-anak tidak terkecuali Anta, Bella, Rudi dan Asep. Setelah itu mereka pun keluar kelas menjalani hukuman, ketika sudah berada di luar kelas Anta mulai memarahi teman-temannya.


"Hooi! kalau contek yang cerdas dikit dong Bell, Rud, Asep! Kerjaan kalian itu salahkan satu dengan nomer yang berbeda. Bukan kau contek semuanya apalagi ini berjamaah benar semua, jelas saja ketahuan," katanya bersungut-sungut.


" Maaf An, gak kepikiran," jawab mereka bersamaan sambil terkekeh.


Sementara itu di kelas XII IPA 1 Dantai memberikan box berbungkus kertas kado kepada Rio. "Ini buat kamu aja."


"Gimana ceritanya ini buat aku Dan? itu kan dari dari Mutia Dan," jawab Rio


"Gak papa ambil aja, ukuran sepatumu kan sama denganku, 'kan?" jawab Dantai santai.


"makasih ya Dan, sering-sering aja begini," jawab.


"Kita mana Dan?" tanya Aril dan Gibran yang duduk di belakangnya bersamaan sambil mencolek pinggangnya.


mereka pun berbisik, "Dan ini gak papa kita ambil?"


"Hem," jawab Dantai mengangguk. Mereka pun mengucapkan terimakasih dengan berbisik. Dantai hanya mengangguk saja.


Flashback on


Waktu sebelum bel masuk berbunyi Dantai dan kawan-kawan sedang di kelas berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis yang bernama Lina. Ia kelas X-1 menghampiri Dantai.


"Hello kak Dantai, apa nanti sore ada waktu? Aku ingin mengajak kak Dantai ada cafe baru buka di dekat sini mungkin kak Dantai ingin mencoba menu di sana." kata Lina sambil tangan menyembunyikan sesuatu di punggungnya.


"Maaf Lina, Aku sibuk sekali jadi, tidak bisa," jawabnya dengan datar.


"Ok! kalau begitu terima ini ya dari aku kak Dan, dipakai ya kak Dan." kata Lina sambil berlalu keluar kelas dengan cepat.


Beberapa saat kemudian datang lagi seorang gadis bernama Nara kelas XI IPA 2.


"Hello kak Dantai, maaf aku ingin memberikan ini pada kakak, tolong di trima, yaa," kata Nara sambil meletakan bungkusan di meja lalu berlari keluar kelas, teman-teman kelas Dantai tak terlalu memperhatikan itu karena hal itu sudah biasa terjadi. Dantai memasukan bungkusan- bungkusan dalam tasnya. Tak lama kemudian Mutia masuk ke kelas Dantai.


"Kak Dan, kemarin Bokap nyokap ke Paris, aku nitip beliin ini ke mereka. Di pakainya kak buat pertandingan besok. biar menang." kata Mutia. Dantai hanya mengangguk sambil tersenyum. Sementara teman yang lain menahan tawanya.


"Kak, Rio juga kalau main yang bagus juga kak, biar menang." kata Mutia.


"Lah kalau aku kau suruh main bagus ya kasih aku juga dong, Tia jangan cuma Dantai aja," jawab Rio nyengir.

__ADS_1


"Yeh mintak Della dong kak, Della kan pacar situ, masak mintak aku," jawab Mutia sambil ngeloyor pergi.


"Eeh situ juga bukan pacar Dantai, tapi situ ngasi juga," jawab Rio sambil terkekeh.


"Kak Rio kalau iri, bilang dong," kata Mutia sambil berlari keluar kelas.


Flashback off


Dantai dan kawan-kawan sudah mulai fokus dengan pelajaran bu Ratna yang mengajarkan fisika pada saat itu, tiba-tiba saja Rio ingin buang air kecil.


"Dan Aku ke toilet dulu ya," kata Rio pada Dantai sambil berjalan mendekati bu Ratna untuk mintak ijin, lalu menghilang di balik pintu.


Di toilet pria terlihat Rudi dan Asep membersikannya, Rio menyapa teman sesama tim basket itu. "Loh Rud, lagi ngapain kamu?"


"Lagi di hukum noh sama Anta karena nyontek tugas matematika jama'ah satu kelas. Dia ada di toilet cewek sama Bella.


"Lah kok bisa?" tanya Rio


Rudi pun menjelaskan apa yang terjadi waktu pelajaran matematika. Rio pun terkekeh.


"Anta tuh kemarin nyasar di kebunnya Dantai Rud, nanti aku ceritain yaa. Aku mau ke toilet dulu," kata Rio bergegas masuk ke toilet sebelah yang sudah dibersihkan.


"hoi, siram yang banyak!" teriak Rudi dari luar.


"Beres bos!" teriak Rio dari dalam, tak lama kemudian Rio keluar. Samar-samar terdengar suara perkelahian dari toilet sebelah yaitu toilet wanita.


"Kayaknya Anta tuh Ri sama siapa ya ...?Ayo kita samperin!" Mereka bergegas ke toilet wanita.


Di toilet wanita tampak Mutia dan dua teman sedang beradu mulut dengan Anta.


"Hai, murid baru kau jangan gatal dong sama kak Dantai! Aku itu sudah lama dekat dengan kak Dan," Amuk Mutia dengan keras.


"Emang siapa yang gatal? dari tadi kita juga gak garuk-garuk kan yaa Bel. Apa kamu gak lihat aku bersihin toilet? apa kamu buta gak bisa bedakan garuk sama nyikat?" tanya Anta.


"Kamu itu dari kemarin itu rayu-rayu kak Dantai. Biar apa coba? biar kak Dantai suka sama kamu kan, jangan ngimpi kamu yaa!" Kata Mutia ketus.


"Hooi, mata lo buta apa? jelas gue gak lagi tidur lo bilang ngimpi. Kalau dia suka sama gue itu urusan dia sama perasaan dia, kalau lo suka sama dia, bukan urusan lo sama gue. Tapi lo sama dia tuh yang kau sebut Tai- Tai itu," jawab Anta Santai. Rio yang bersama yang ada dibalik tembok bersama Rudi dan Asep itu menahan tawa mendengar umpatan Anta sambil merekam adegan tersebut.


"Apa kamu berani sama aku, hah!?" kata Mutia sambil tangannya melayangkan ke pipi Anta.


Namun dengan sigap menangkap tangan Mutia lalu di putarnya tangan dibelakang lalu kembali berkata," Mau lengan lo patah atau tubuh lo yang remuk," ancamnya pada Mutia.


"Kalau gak mau dua-duanya, pergi lo dari sini sama teman-teman lo!" bentak Anta lagi pada Mutia sambil mendorong tubuh Mutia hingga bertabrakan dengan ke dua temannya. Mereka jatuh di tanah bersamaan. Mutia terjerembab ke depan dan ke dua teman ke belakang, mereka pun pergi dengan marah-marah. Setelah Mutia dan teman-temanya pergi, Rio, Rudi dan Asep segera menghampiri Anta.


"Wah- wah kamu hebat An. bisa hadapi cewek genit itu," kata Rio. "Udah deh aku balik kelas," katanya lagi sambil berlalu melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Sudah selesai?" tanya Rudi.


"Sudah yuk kita keruangan pak Dirga,"ajak Anta.


"Kau ke kelas dulu Rud! kasih tau pak Dirga kalau kita sudah di ruangannya!" perintah Anta.

__ADS_1


Mereka pergi berlawanan arah Rudi ke kelas sedangkan Anta, Bella serta Asep menuju ruangan pak Dirga.


__ADS_2