Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Bertemu Hira


__ADS_3

Setelah sholat dhuhur dan makan siang Rio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sahabatnya hati berkecamuk, rindu dan cemas, hari ini dia akan bertemu dengan debaran jantungnya, Gadis kecil bermata biru putri sahabatnya itu.


Rio telah jatuh cinta pada gadis itu saat masih bayi, dia pikir waktu itu adalah perasaan yang menganggap Hira seperti putrinya sendiri. Namun, kemudian dia merasa bukan seperti itu yang terjadi pada dirinya.


Dia selalu gelisah jika tak bertemu gadis itu, sedikit senyuman saja membuatnya nyaman, dia telah mencoba berjalan pada realita yang ada, mencoba mencari cinta dari wanita halalnya. Namun, kenapa hatinya masih terasa hampa?


Kini dia seperti remaja yang sedang mengejar cinta yang tak mungkin di dapatkannya dan hanya menjadi pengagum seumur hidup tanpa bisa meraih, memetik dan memilikinya.


Rio membelokan mobilnya memasuki pintu gerbang rumah Dantai sahabat karibnya dan berhenti di halaman rumah itu. Dia tidak langsung keluar dari mobilnya menatap sekelilingnya menarik memori yang telah lama tersimpan di otaknya. 'Ya, sudah begitu lama tidak datang kesini,' gumamnya dalam hati.


Rio menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Dengan langkah tegapnya ia berjalan menuju rumah sahabatnya, mengucapkan salam Ketika sudah sampai di depan pintu rumahnya.


Terdengar suara yang familiar membuat Dantai dan Aril berdiri dan berjalan menuju kearah pintu keluar rumahnya.


Terlihat sahabatnya berdiri tak jauh di hadapannya ia pun menghampiri dan memeluknya sahabat karibnya. "Kemana saja? kenapa gak muncul samasekali?"tanya Dantai beruntun.


"Karena kau sudah bahagia makanya aku menghilang," kelakarnya pada Dantai.


"Bukankah kau juga bahagia? kau sudah menikah, 'kan?" tanya Dantai balik.


Rio hanya tertawa sumbang, "Tak seperti dirimu dan Aril, Dan,"kata Rio pada mereka berdua.


"Ayo masuk! Kau sendirian? mana istrimu?"tanya Dantai sambil matanya mencari seseorang namun tidak di temukan si sana.


"Aku, sendiri Dan," jawab Rio pada Dantai.


"Kenapa gak diajak sih, Ri. aku juga ingin berkenalan dengan istrimu, Ri," kata Dantai pada Rio.


Rio hanya tertawa. "Dia lagi sibuk, Dan. Belum bisa diajak bepergian," kata Rio


"Ok! baiklah, Ayo masuk!" ajak Dantai.


Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama, kemudian Bik Mirna datang membawa minuman dan sepiring pisang goreng hangat untuk menemani berbincang-bincang.

__ADS_1


Hira yang mendengar suara Rio pun bergegas keluar, dengan berlari-lari kecil.


"Ehh, Om Rio," teriaknya sambil menghambur ke arah Rio dan duduk di pangkuan pria itu.


"Hira itu kangen sama Om tahu, kata ayah Surabaya ke Singapura itu sangat dekat, hanya dua jam perjalanan, kenapa Om gak pernah datang di rumah Hira di Singapura?" tanya Hira pada Rio.


Dantai menghelah nafas saat putrinya sudah duduk di pangkuan sahabatnya itu.


"Hira, turun dari pangkuan Om Rio, tidak sopan, Nak!" perintah Dantai pada Putrinya itu.


"Tidak apa-apa, Dan. Toh, dia masih kecil, kalau sudah besar tidak boleh lagi," kata Rio tertawa.


"Kenapa kalau sudah Hira tidak boleh duduk di pangkuan Om Rio lagi," kata Hira sambil menatap Rio.


"Karena Om Rio bukan mahrom, tidak seperti Ayahmu," kata Rio pada Hira


"Kalau begitu jika Hira sudah besar jadikan Hira mahrom biar bisa duduk di pangkuan Om, memeluk dan mencium seperti ini," kata Hira sambil memeluk leher Rio lalu mencium pipi pria dewasa itu. Rio hanya terkekeh menerima perlakuan dari putri kecil sahabatnya itu.


Dantai hanya bisa menghela napas.


"Om Rio pasti capek karena baru datang," kata Dantai pada putrinya lembut.


"Om, gak capek, 'kan? Om sudah janji sama Hira loh," protesnya pada Rio.


"Gak apa-apa, Dan. Nanti jam empat sore akan ku antar dia pulang," kata Rio pada Dantai.


"Baiklah, jaga dia yaa, Ri! pinta Dantai.


Rio pun mengangguk beranjak dari duduknya sambil menggendong Putri temannya itu keluar dari rumah Dantai dan masuk kedalam mobil yang meninggalkan rumahnya.


Dantai hanya bisa menghela napas menatap kepergian mobil sahabat itu.


Ia pun masuk kedalam dan menghempaskan pantatnya ke sofa.

__ADS_1


Sambil menatap iparnya itu ia mulai bertanya, "Apa kau tahu siapa istrinya? Aku baru tahu kalau dia sudah menikah."


"Yaa, dia memang sudah menikah, namun tak memberi kabar pada kami, bahkan terkesan menjauh, Dan," jawab Aril.


"Lalu bagaimana dengan Della? bukankah sewaktu kita SMU dia berhubungan dengan Della?" tanya Dantai yang membuat Aril terkejut mendengarnya.


"Kau sudah ingat, Dan?"tanya Aril dengan melebarkan matanya karena terkejut.


"Dia telah putus dengan Della, tepat satu bulan setelah kau menikah aku tak tahu apa yang terjadi diantara mereka. yang paling tahu adalah Gibran. Tapi saat ini dia tidak ada di Surabaya dia berada di Jogja menemui kliennys, waktu kutanya tadi di telepon, kapan dia menemimu? dia bilang besok akan menemuimu," jawab Aril.


"Emm, yaa aku mengerti kesibukan mereka Ril," kata Dantai sambil meminum Teh hangatnya.


...----------------...


Sementara itu, di mobil Rio, Hira begitu senangnya tak henti-henti berceloteh.


"Om, kata Ayah, Om sudah menikah, apa itu betul?" tanya Hira pada Rio.


"Iya, Hira. Om lelaki dewasa harus menikah saatnya sudah menikah, dan kau juga akan menikah kelak, Princess," katanya sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Kenapa Om tidak menunggu Hira besar, jika Hira tidak dengan Om, maka Hira tidak ingin akan menikah!" kata Hira sambil menatap tajam Rio.


Chiiiiiiiiit!


suara rem berbunyi keras karena di injak dengan tiba-tiba sebab Rio terkejut dengan apa yang dikatakan Hira.


Hira terhuyung kedepan dan keningnya hampir saja terantuk kaca mobil.


"Om, hati-hati kalau lagi bawah mobil!" saran Hira.


Berhenti sebentar menenangkan hatinya yang mulai kacau. sedangkan di belakang mobil mereka, bel bersautan memberikan peringatan pada Rio agar segera berjalan.


Rio kembali berjalan dan mengarahkan kendaraannya ke arah bahu jalan dan berhenti di sana. Di menatap gadis kecil itu. "Hira, saat kau sudah dewasa, om pasti sudah tua dan kau akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, sedangkan aku akan sangat tua bahkan mungkin kau tak akan tertarik lagi dengan pria tua ini," katanya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ok! mari kita buktikan, Om. Ketika aku sudah dewasa dan aku masih menyukai Om, maka saat itu, Om harus menikahiku, apa Om, berani bertaruh denganku?" tanya Hira dengan tatapan tajam, seolah bukan dirinya lah yang berbicara, gadis sekecil itu berani mempertaruhkan masa depannya, pada Pria dewasa yang berada di hadapannya.


__ADS_2