Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Duka di Sore hari


__ADS_3

Sore harinya Dante dan Ariel juga Hira datang ke rumah sakit. Namun, Hira tidak masuk ke dalam. dia duduk di luar menunggu sang ayah dan omnya sedang memeriksa kondisi Jasmine.


Bagi gadis kecil seusia dia, tidak akan pernah mengerti akan pesan dari Jasmine, bahkan dia juga tidak mengerti bagaimana perasaannya terhadap Om Rio itu.


Yang ia tahu ketika ia ingin bertemu maka harus bertemu, ketika dia ingin mengatakan sesuatu maka harus dia katakan, ketika dia ingin memeluk, maka dia lakukan, hanya itu yang ada dalam benak Hira, tanpa tahu makna apa yang ada di dalam hatinya.


Mungkin begitu berat ketika melihat keakraban mereka. Akan tetapi dia sadar bahwa memang seperti itulah seorang suami istri, seperti ayah dan bundanya yang selalu menguatkan ketika bundanya dalam keadaan sedih.


Hira duduk di di kursi, di luar ruang perawatan Jasmine dengan mengayunkan kakinya, memandang di sudut ruang kosong, rasanya tak percaya, bahwa saat ini dia berada di sini.


Kemarin dia masih sibuk dengan hatinya dan kecemasannya. Sekarang pun hampir sama dia sibuk dengan perasaannya yang dia sendiri tidak tahu. Juga kecemasannya kepada wanita yang disebut sebagai istri dari Om Rionya itu.


Dantai dan Ariel masuk ke dalam Ariel melihat kondisi Jasmine belum ada tanda-tanda bahwa Jasmin akan sadar. Ariel menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan dia menatap ibah sahabatnya itu. "Aku harus jujur Rio, Jika dia tidak sadar selama 24 jam lebih maka aku tidak bisa menjamin bahwa dia bisa bertahan hidup.


Ini adalah penyakit bawaan di mana akan menurun pada seorang putrinya jika anak yang dilahirkan laki-laki akan tetap aman tapi jika perempuan akan mewarisi penyakit ini.


Berdoalah agar dia bisa bertahan dan sadar sebelum 24 jam berakhir.


Rio mengusap wajah dengan kasar, raut muka terlihat begitu frustasi.


Saat kegalauan melanda terdengar rintihan seperti memanggil nama seseorang begitu lirih hampir tak terdengar oleh telinga. "Hira ... Hira ... Hira."


Rio pun berjalan cepat menuju ke ranjang Jasmine. "Apa? Kau ingin apa? Katakan padaku!"


"Hira ... Hira ... Hira." panggil Jasmine pelan.


"Dan di mana Hira Jasmine ingin berbicara?" kata Rio.


"Sebentar dia ada di luar akan ku panggilkan dulu," jawab Dantai.


Dantai berjalan keluar ruangan Jasmine memanggil Hira yang duduk di luar. "Tante Jasmine mencarimu masuklah, Nak," kata santai dengan lembut.


Gadis itu pun turun dari tempat duduknya berjalan masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Jasmine yang berbaring di ranjang dengan wajah nampak pucat tersenyum kepada gadis kecil itu. Hira naik keranjang sambil bertanya, "Ada apa Tante kenapa Tante mencariku?"

__ADS_1


"Tolong ambilkan ini," katanya sambil menunjuk cincinnya pada Hira, gadis kecil itu menoleh ke Rio. "Om?" Rio menggangguk, dan Hira pun mengambil cincin yang ada di jari manis Jasmine.


"Ini Tante," kata Hira memberikan cincin itu pada Jasmine.


"Bawalah saat kau sudah dewasa dan siap untuk menjaga suamiku, maka pakailah cincin itu Hira," katanya terbata-bata.


Lalu dia menatap Rio dan berkata," tolong turuti apa yang menjadi keinginanku penuhi Mas Yo."


Rio menggeleng. "Tidak jas tetaplah denganku!"


"Tolong lakukan Mas untukku untuk putra kita," kata Jasmine


"Apa yang kau inginkan katakan dulu," kata Rio


"Tidak kau harus berjanji untuk mengabulkan keinginanku, kamu mencintaiku bukan jika kau mencintaiku maka kabulkan keinginanku," kata Jasmine.


"Baiklah, tolong jangan terlalu banyak bicara tunggu dirimu pulih kembali!"


"Jika Hira memakai cincin itu kelak maka kau harus menikahinya, jika tidak kau boleh memilih siapapun yang akan menjadi istrimu."


"Tante jangan pergi, tolong jangan pergi!"


"Aku tidak pergi kemana-mana aku hanya ingin tidur," katanya terseyum sambil memejamkan matanya.


Sejenak Rio merasa legah. Namun deteksi denyut jantung tiba-tiba melemah dan menghilang.


"Oh tidak! Apa yang terjadi? tolong Aril lakukan sesuatu!" pinta Rio dengan panik


Aril pun mengunakan alat untuk pemacu denyut jantung yang mulai menghilan. Namun, pada akhirnya nihil, Jasmine telah pergi meninggalkan putra yang tampan untuk sang suami. Di telah tidur untuk selamanya dalam dekapan suaminya. Suara tangisan Hira memacah keheningan sore itu.


Rio memeluk istrinya yang sudah tak bernyawa itu, hatinya terasa teriris sembilu. Ingin rasanya aku tetap bersamamu, tapi apa yang bisa kulakukan jika takdir menginginkan hal yang lain maka pergilah istriku aku ikhlas melepasmu, gumamnya dalam hati


Hira tak berhenti menangis, iya tak ingin ini terjadi, ia ingin melihat om Rio tertawa bahagia, Pria itu terlihat muram, dengan tatapan kosong masih memeluk tubuh wanitanya

__ADS_1


Hira tak mampu berbicara sepatah kata pun digengam erat cincin pemberian Jasmine, entahlah hatinya terasa sakit melihat pria yang dikaguminya terlihat rapuh.


Ariel mempersiapkan kepulangan jenazah Jasmin ke rumah orang tua Rio. "Maaf aku tak bisa menyelamatkannya," katanya pada sahabatnya itu. Rio hanya menggangguk.


Dantai menggendong putra sahabatnya itu. Bayi laki-laki itu menangis seolah tahu bahwa ibu yang melahirkannya telah tiada.


Setelah semuanya siap mobil ambulans dan segalanya Ariel pun berkata pada Rio.


"Yo, ikhlaskan! Mari kita antar ke peristirahatan terakhir, semua sudah siap," kata Aril.


Rio hanya bisa menggangguk, tak ada air mata yang menetes di pipi lelaki itu, tetapi tak pernah ada yang tahu seperih apa luka yang tertoreh di hatinya.


perawat datang dengan bankar dorong. Tubuh Jasmine dibaringkan di sana.


lalu mereka mendorongnya hingga masuk ke dalam ambulance.


Dantai menatap putrinya. "Tunggu di sini, Pak To akan menjemput mu, ayah dan Om akan ikut mobil ambulance itu, Om Aril sudah menghubungi pak To." Hira mengangguk, Dantai membelai rambut putrinya itu, sambil mendekap bayi mungil itu.


Dantai duduk di di samping pengemudi, sedangkan Rio dan Aril di belakang bersama jenasah.


Mobil Ambulance itu berjalan meninggalkan rumah sakit, menuju kediaman tuan Rahanda.


Ketika terdengar suara ambulance begitu dekat dengan rumahnya hatinya pun berdesir tulang kakinya terasa lemas, satu yang dipikirkannya yaitu sang menantu.


Dia berjalan pelan menuju pintu depan rumahnya lalu membukanya, Ia melihat mobil ambulance berhenti tepat di depan halaman rumahnya.


Begitu pula sang istri lari ke depan meninggalkan pekerjaannya di dapur setelah mendengar sirene mobil ambulance.


Mutia pun terpaku melihat pintu belakang terbuka begitupun di depan mobil itu.


Dantai yang keluar dengan membawa sang bayi berjalan ke arahnya lalu menyerakan bayi itu kepada Mutia. "Tante tolong tidurkan di dalam!" pinta Dantai pada wanita paruh baya itu.


Perawat keluar dengan bankar dorongnya yang membawa jenazah Jasmin dari mobil ambulance. Seketika rumah terlihat ramai berdatangan para tetangga yang ingin membantu.

__ADS_1


Maaf yaa, Author juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima ini 🤧 sedih sekali.


__ADS_2