Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kau Akan Jadi Terindah Untukku.


__ADS_3

Rio mengajak disebuah restoran mewah dengan ruang privasi dengan makanan yang benar-benar istimewa, meminta sebuah gitar dan mulai memetik senar gitarnya lalu suara merdu terdengar melantunkan bait lagu kau terindah diperuntukkan sang istri.


Mungkinkah dia cinta kepadamu


Itulah yang ku harapkan


Sobat ayo kau katakan padanya


Ini dia


Kau terindah


Membuatku terpana


Kau sempurna


Tebarkan pesona


Kau terindah


Membuatku menggila


Kau sempurna


Tebarkan asmara


Mungkinkah dia cinta kepadamu


Itulah yang ku harapkan


Sobat ayo kau katakan padanya


Ini dia


Membuat Jasmine terpaku menatap sang suami hingga menyelesaikan bait-bait terakhir.

__ADS_1


Rio tersenyum menaruh gitarnya di


sandaran kursi dan menghampiri sang istri yang duduk di kursi depan meja yang terhampar makanan dan minuman yang menggugah selera.


Dia pun duduk di sebelah istrinya mengambil jemari tangan Istrinya, di sematkan cincin permata merah delima di jari manis Jasmine.


ini sangat indah Mas sungguh apakah ini mahal tanya Jasmine


sebanding dengan dirimu, Jas," jawab Rio


Ayo kita makan nikmati semuanya aku sengaja memesannya untukmu dan juga anakku yang ada di dalam perutmu," katanya


bagaimana bisa aku menghabiskan sebanyak ini kau terlalu banyak memesan Mas.


tidak apa-apa jika tidak habis kita bisa membawanya pulang kata Rio.


Jasmine pun tertawa. "Kau ini! Ini restoran mewah loh, apa boleh kita membungkusnya untuk di bawa pulang?" tanya Jasmine ragu,


Tentu saja boleh sayang, kita sudah bayar mahal lalu kenapa tidak boleh dibawa pulang? Jika tidak boleh dibawa pulang aku yang menghadap kepada pemiliknya," jawab Rio dengan santainya.


Rio menatap Jasmine dengan tidak berkedip. "Jadilah milikku selamanya, kau sangat cantik jika sedang tertawa.


...----------------...


Dantai duduk terpaku di ruang kerjanya setelah menerima telepon dari Jasmine serasa bingung untuk memutuskan sesuatu apakah ini harus dibicarakan dengan Rio ataukah tidak, tetapi jika dia membicarakan ini dengan dia akan menjadikan ketegangan buat Jasmine dan Rio,padahal saat ini mereka sedang dalam hangat-hangatnya.


Dantai mengembuskan nafasnya, akhirnya ia memilih untuk tetap diam hingga suatu saat nanti Jasmin sendiri lah yang memberitahunya.


Dantai berdiri dari tempat duduknya lalu melihat jam di tangannya masih sekitar pukul 01.00 siang dan ia segera keluar dari ruangannya melakukan kunjungan pada pasien-pasiennya sambil melakukan pemeriksaan rutin setiap harinya.


Setelah berkutat dengan pekerjaannya hingga pukul 04.00 sore, dia pun meninggalkan ruangannya menuju area parkir lalu masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit di mana dia bertugas. Sesampainya di rumah terlihat sangat sepi tidak ada celotehan anak-anak yang biasanya menyambutnya, mungkin mereka ada di kamar, pikirnya.


Dantai menuju kamarnya, lalu membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar anak-anaknya, pertama kali yang dilihat adalah Emir, sedang apakah putranya itu sehingga dia tidak tahu jika sang ayah sudah pulang dari pekerjaannya.


Dantai mengetuk pintu kamar putranya, tak lama kemudian kamar pun terbuka. Senyum manis terlihat di bibir putra kecilnya itu. "Sedang apa tanya Dantai aku sedang mengerjakan lukisan yang dipesan oleh Om Boy."

__ADS_1


"Tumben tidak menjemput ayah di depan saat pulang kerja," tanya Dantai "Kami sudah besar, Ayah juga sudah tua kami juga sudah tahu jam berapa Ayah pulang, tidak perlu disambut juga semuanya punya kesibukan sendiri-sendiri," kata Amir dengan pelan.


Dantai terkekeh. "Ya ... ya ... ya, Ayah memang sudah tua dan anak Ayah sudah dewasa," kata Dantai membuat mereka tertawa bersama.


"Apa Hira ada di kamar," tanyanya kepada Emir.


"Ke mana lagi kalau bukan di kamar, itu yang dia lakukan atau dia sedang ada show, tapi hari ini dia tidak ada show," kata Emir panjang lebar.


"Ok! Terima kasih, Ayah mau berbicara dengan Hira lanjutkan pekerjaanmu," ucap Dantai.


Dantai melangkah menuju kamar putrinya dan mengetuk pintu beberapa kali, tidak ada sahutan juga tidak segera terbuka, Dantai kembali mengetuk pintu kamar putrinya itu sambil memanggilnya," Hira buka pintunya Ayah mau bicara."


Saat itulah terdengar suara langkah yang diseret lalu pintu pun terbuka dengan muka masam Hira pun mempersilakan ayahnya masuk ke dalam kamarnya. "Ada apa, Ayah?" tanya Hira.


"Hai aku ini ayahmu mestinya Kau senang jika ayamu perhatikanmu," kata Datai sambil tersenyum.


"Hatiku tidak sedang baik-baik ayah," kata Hira.


"Iya kah? Apa yang harus Ayah perbuat untuk membuat Putri ayah dalam keadaan baik-baik saja?" kata Dantai.


"Nomor Om Rio tidak aktif dia tidak pernah lagi menghubungiku, aku tahu dia itu sibuk dengan keluarganya juga dengan pekerjaannya, setidaknya dia tetap ingat aku," katanya pada ayahnya.


Dantai tertawa. "Hai girl jangan cemberut, dia selalu ingat kau hanya saja dia sedang sibuk, sayang. Dengar Ayah ingin bicara serius denganmu, tolong jangan kau potong yaa, dengarkan dulu dengan baik-baik," kata Dante.


"Baiklah, Ayah. Katakanlah apa yang ingin Ayah katakan! Istri Om Rio tadi menghubungi ayah ingin bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu, Ayah tidak tahu seberapa pentingnya, sehingga dia ingin berbicara denganmu, tapi sebaiknya kau menemuinya, agar tahu apa sebenarnya yang ingin dibicarakan padamu, Ayah tahu bahwa kamu masih kecil, tapi setidaknya hargai orang yang ingin berbicara denganmu, jika kau tidak keberatan maka besok kita akan berangkat ke Surabaya," kata Dantai pada Hira.


"Mengapa tiba-tiba istri Om Rio ingin mengajak bicara, sementara Om Rio saja tidak mau bicara denganku," kata Hira.


"Istri Om Rio sakit dia ingin berbicara denganmu, entah Ayah tidak tahu apa yang akan dibicarakan nanti, tapi yang jelas dia meminta pertolongan sama ayah, untuk membawamu ke sana dan bertemu langsung denganmu," kata Dantai pada putrinya itu.


"Ayah aku takut sekali, takut kalau istri Om Rio ingin menemuiku karena ingin memarahiku," kata Hira pada ayahnya.


Kenapa harus memarahimu, apa kau berbuat salah?" tanya Dantai.


"Karena aku telah merampas waktunya bersama Om Rio yang seharusnya untuk dia, tapi untuk kemarin Om Rio bersamaku, aku merasa bersalah, Ayah. Aku takut dia marah karena persoalan itu, karena waktu itu istri Om Rio sedang dalam keadaan hamil, 'kan? Namun, Om Rio tetap ingin mengajakku pergi bersenang-senang, menikmati waktu bersamanya, dan aku tidak tahu keadaan Istrinya bagaimana? Jika sekarang dia sakit, aku takut karena itu, Ayah," kata Hira merangkul leher Ayahnya.

__ADS_1


"Aku jadi merasa bersalah harusnya waktu itu beliau berada di sisi istri nya bukan denganku ayah," kata Hira menunduk.


__ADS_2