
Malam pun tiba, Hira duduk bersama dengan Bilal, Hira mengajari Bilal tentang pelajarannya, karena Bilal itu tidak bisa duduk dengan tenang ia mulai ingin berdiri dan berlari namun trik Hira luar biasa. Dia menaruh Bilal di atas pangkuannya lalu dia berputar sambil terus mengajar Bilal.
Rio tersenyum lalu mengambil handphone-nya, lalu memesan pizza dari aplikasi online tak lama kemudian bel pintu terdengar dan Rio keluar serta membuka pintu, lalu kembali lagi dengan membawa dua kotak pizza, dia melihat mereka sudah selasai Rio berteriak," siapa yang mau pizza?"
Bilal pertama kali berlari mengambil kotak pizza dari ayahnya lalu di bukanya lalu makan dengan lahapnya sambil putar-putar kadang naik meja, Hira tertawa ketika melihat Bilal makan dengan cara semacam itu.
Rio memanggil Hira, ia pun menghampiri Om Rionya dan duduk di sebelahnya. "Makan Pizzanya," kata sambil menatap gadis itu.
"Ceritakan bagaimana kamu bisa sampai ke sini?" tuntut Rio
Sambil mengambil pizza dan memakannya Hira berkata," tadi kan aku udah bilang bawah kalau aku tuh biasa pergi sendiri, nah kemarin aku bilang Ayah kalau aku mau pergi ke Indonesia tapi aku nggak bilang kalau pergi ke sini aku juga nggak tahu kalau om tinggal di sini," kataku pada Om Rio.
"Jadi kamu ke sini dalam rangka liburan begitu?" tanya Rio
"Iya Om aku lagi liburan bulan depan aku sudah masuk kuliah," kataku pada Om Rio
"Apa usiamu baru segitu loh Ra?" tanya Rio
"Hahaha, kenapa Om kaget? Kan Om sudah kenal lama sama Hira," kata Hira sambil menguap.
Kalau sudah mengantuk tidur sana di kamar kata rindu pada Hira
"Bentar Om masih pengen makan pizza ini tapi mata ini ngantuk," kata Hira pada Om Rio sambil mulutnya tidak berhenti makan
Om punya sepeda gunung tidak, punya cuma satu, memang kenapa?"
Ya, untuk bersepeda dong Om apalagi kalau bukan bersepeda?" kata Hira pada Rio.
"Lihat Bilal sudah tidur di sana sebentar ya Om tinggal dulu untuk memindahkan Bilal ke kamarnya," katanya pada Hira
"Ya nggak papa Om, apa dari dulu seperti itu tidur di sembarang tempat," tanya Hira pada Rio
Iya makanya aku pasang karpet semua di rumah ini, tidak ada furniture karena kamu tahu sendiri kan aktifnya Bagaimana si Bilal," kata serius sambil berjalan menuju ke arah putranya yang sedang tertidur di sana lalu memindahkan dalam kamarnya.
__ADS_1
Hira melihat seluruh ruangan emang hanya terhampar karpet satu-satunya sofa adalah tempat yang dia duduki saat ini. dia tidak pernah mengira bahwasanya akan bertemu dengan om Rionya padahal rencananya adalah untuk healing tapi ternyata harus bertemu dengan orang di masa lalunya yang jadi penyebab perubahannya pada saat ini.
Setelah beberapa saat dia kembali keruangan di mana Hira berada.
"Kenapa Om pindah ke Bandung bukankah di Surabaya ada kakek dan nenek Bilal, dan Om ada yang membantu mengasuh Bilal, kalau di sini Om semuanya sendirian kan," kata Hira.
"Bisa dibilang bahwasanya Om saat ini ingin melupakan hal yang menyakitkan bagi Om, Surabaya adalah tempat di mana hati om sangat terluka, itu sebabnya Om pindah ke sini memulai sesuatu yang baru," kata Rio pada Hira.
Hira kembali menguap, dengan cepat tangan Rio meraih kepala Hira dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Ceritakan pada Om apa saja yang kau lakukan kalau kamu sedang berlibur?" tanya Rio
"Banyak sih Om aku suka dengan panjat tebing, parkour," katanya terkekeh sambil menatap Rio yang sedang menatapnya sambil membelai rambut Hira yang hitam pekat.
Tatapan mereka saling bertemu, Rio melihat di jari manis Hira ada cincin Jasmine yang tersemat di sana.
"Kenapa kau memakainya, Hira? Apa kau sudah siap memenuhi keinginan Jasmine kata Rio padahal usiamu baru 9 th Hira," kata Rio terkekeh.
"Jangan menertawaiku om, Aku tidak ingin aja ini hilang, kalau Om punya anggapan seperti itu tunggu Hira lima tahun lagi ya Om." kata Hira lagi
"Pura-pura gak tau padahal tahu tuh umur Hira berapa?" kata Hira
kalau malas ke kamar om gendong, nih," katanya.
Nanti saja, lagi seneng rebahan di sini di pangkuan Om," kata Hira
"Kenapa seneng rebahan di sini?" kata Rio
"Gak tahu suka saja lihat Om ganteng," kata Hira terkekeh.
"Kamu ada-ada saja," kata Rio tertawa.
"Om Hira antarkan beli baju ibu-ibu dong buat nyamar jadi ibunya Bilal biar gak selalu di ledekin terus," kata Hira.
__ADS_1
"Eeh, gak boleh Ra efek sampingnya bisa para kalau kamu mau jadi ibunya Bilal pura-pura begitu nanti tambah di bully kalau kamu cuma pura-pura jadi ibunya dan saya pasti di tanya pak mana istrinya kemarin dan kapan nikah nya," jelas Rio
"Kalau mau jadi ibu, yaa yang bener, benar-benar jadi istri saya dan juga Ibu Bilal," jawab Rio
"Jadi Hira di trima nih om jadi CS," kata Rendra
"Apa CS ," tanya Rio.
"Calon istri, Om, masak masa nggak tahu sih Om, Hira, 'kan udah pakai udah pakai cincin ini?" kata Hira
"Oh jadi kamu beneran siap bukan karena takut hilang cicinnya?" tanya Rio sambil terkekeh.
"Yah jadi ketahuan deh," kata Hira.
"Dari kemarin udah ketahuan kamu pakai cincin itu tapi Om diam aja takutnya kamu jadi malu," kata Rio tersenyum.
"Nah sekarang jadi kebongkar harusnya Om diem aja dikira nggak malu nih sekarang, Hira malu," kata Hira pura-pura cemberut.
Emang kamu bisa malu Ra?" tanya Rio
Tiba-tiba saja Hira bangkit dan mencium bibir Rio, lalu berkata malu-malu in Om," katanya sambil berlari dan dikejar oleh Rio di peluknya dari belakang. lalu di Balikkan tubuhnya dan di peluk erat.
"Biarkan seperti ini Om rindu sekali dalam posisi ini. Kamu tahukan Ra hanya denganmu Om lemah dan gak berkutik" kata Rio
Lalu di dongakan dagunya lalu mencium Hira begitu dalam, lalu memandang gadis itu, "Maaf jangan pancing Om, kau tahu Om tak akan kuat, sudah tidur sana," kata Rio pada Hira .
"Kenapa diam?" tanya Rio
"Gak apa-apa, Om, kata Hira
"Jangan bilang Ayah yaa, kalau Om pernah cium kamu, Om bisa di gorok habis-habisan ini," kata Rio sambil terkekeh
"Om terimakasih telah menerima, dan mau menunggu Hira sampai lulus, Hira cinta Om dari dulu," katanya sambil berlari ke kamar.
__ADS_1
Rio hanya tersenyum lalu melangkah ke kamarnya sendiri lalu berganti dengan piyamanya dan merebahkan dirinya di ranjang.