
Riko duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit itu Begitu pula Billy yang duduk di sampingnya.
"Bill, jangan katakan kalau kita tadi sedang balapan, kita akan terkena masalah. Kau mengerti!" kata Riko pada Billy.
Billy hanya menunduk sambil berkata," Benar kata Dantai, kita bukan teman dan sahabat yang baik ketika terjadi masalah seperti ini kita justru bungkam tidak berani berkata jujur dan pasti orang tua Dantai akan menyalakan Anta saja."
"Kau betul Bill, kita benar-benar pengecut," jawab Riko dengan penyesalan yang dalam. Ketika mereka berbincang-bincang dari kejauhan nampak 2 polisi datang mendekat." Maaf, anda teman dari ke dua orang yang kecelakaan tadi?"tanya polisi itu pada Riko.
"Ya, Betul pak," jawab Riko berusaha tenang
"Setelah di selidiki ternyata mobil yang di kendarai teman saudara remnya blong. seperti ada yang sengaja memutus kabel remnya. Apa orang tua saudara Anta punya musuh atau pesaing bisnis?" tanya polisi.
"Wah, kalau itu saya tidak tahu pak. Mungkin bapak bisa langsung ke orang tuanya. Besok mereka baru tiba di sini," kata Riko dengan sopan.
"Baik, Nak jika ada yang mencurigakan segera lapor!" kata polisi itu lalu berbalik dan berjalan keluar rumah sakit.
Riko berjalan menghampiri Billy," Bill, tolong kau jaga Dantai di ruang ICU, kwatir jika keluarga datang tak ada di tanyai karena gak ada yang nunggu."
"Ok!, apa kau sudah menghubungi Rio dan kawan-kawannya? setidaknya mereka harus tahu ko," kata Billy beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ruang ICU.
Riko menepuk dahinya, lalu menekan panggilan tak lama kemudian nampak ia pun bercakap-cakap di dalam telpon, kemudian mengakhiri panggilan teleponnya lalu kembali duduk menunggu proses operasi.
Dua jam telah berlalu Riko gelisah, lampu kamar operasi belum juga matik, tanda operasi belum selesai, terdengar derap kaki yang berjalan cepat seolah akan berlari, Riko mendongak, terlihat 4 pria remaja berjalan cepat mendekatinya dan beberapa detik kemudian ia sudah berhadapan dengan mereka.
"Bagaimana dengan Anta dan Dantai? tanya Rudi pada Riko, saat Riko menelpon Rio, Rudi ada di dekat sehingga saat Rio, Gibran dan Aril akan kembali ke Surabaya mereka ikut dengan mereka, untung saja mereka saat itu memang pergi menggunakan sepeda motor, dan tak ikut rombongan bis jadi langsung bisa kembali ke Surabaya.
"Anta masih di ruang operasi, dan Dantai di Ruang ICU," jawab Riko sambil menatap mereka berempat.
" Siapa yang ke rumah Dantai ni? kasih tahu adiknya. Bagaimana pun Adiknya juga harus tahu keadaan Dantai saat ini, orang tuanya masih di Singapura," kata Rudi pada mereka.
"Biar aku saja, kalian berdua ke ruang ICU," kata Aril bergegas pergi meninggalkan mereka menuju arah keluar. Sementara itu Rio dan Gibran berjalan menuju ruang ICU. di sana mereka bertemu dengan Billy.
__ADS_1
"Bagaimana mana keadaan Dantai Bill?" tanya mereka bersamaan pada Billy.
"Aku tidak tahu Ri, dia masih di ruang ICU," katanya sambil menghembuskan nafas. Rio dan Gibran terdiam lalu mendekat ke jendela. Mereka melihat sahabat mereka di pansang banyak kabel di tubuhnya.
Seorang dokter menghampiri mereka," Apa orang tuanya sudah datang?"
"Belum, sebentar lagi masih di perjalanan," jawab Gibran.
"Bagaimana keadaan teman kami, dok?" tanya mereka
"Berdoa saja biar dia bisa melewati masa kritisnya," kata Dokter
tak lama kemudian terdengar teriakan seorang gadis dan di belakang nampak terenga-enga mengimbangi larinya.
"Kak Rio, Kak Gibran, Gimana kak Dantai, hu..hu
.hu..," tangis Salva, Riko dan Gibran masih termangu dengan kedatangan Salva, Aril yang tak jauh dari Salva memeluknya memberikan ketenangan gadis itu.
Setelah agak tenang, Aril menuntun Salva untuk duduk di kursi. masih sedikit isakan gadis itu.
" Dek ke masjid dulu aja ya, sudah mau duhur," kata Aril sambil merangkul pundak Salva, Salva melirik tangan Aril.
Aril tersenyum," Dek Salva tenang dulu, baru mas lepasin tangan mas, apa sudah tenang? kalau sudah tenang ayo kita ke masjid."
Aril melepas kan tangannya dari pundak Salva, lalu berpamitan pada temannya," Aku ke masjid dulu bro, nanti gantian."
Mereka pun mengangguk, Aril dan Salva pun berjalan beriringan dan menghilang di kelokan lorong rumah sakit.
Rio menarik nafas panjang lalu duduk di kursi,"
Gimana ceritanya sampai kayak gini, Bill?"
__ADS_1
Billy mengatakan apa yang di bilang polisi tadi, tak berani berkata jujur apa yang sebenarnya terjadi. Suara telepon Rio memecah kesunyian mereka. Rio menerima panggilan dan mengucap salam
"Ya, Om sudah di Juanda? Iya om, om sholat dulu aja kami akan tetap disini, nunggu om sampai." Rio menjawab salam lalu mengakhiri panggilannya.
"Siapa, Ri? tanya Gibran ingin tahu."
" Om Harlan sama tante Ira."jawab Rio sambil memasukkan hpnya di saku celananya.
"Bran, kamu sholat dulu sana sama Billy aku nunggu disini," kata Rio kemudian.
"Aku non muslim Ri," Jawab Billy
"Ya sudah kamu pulang aja, Bill. Sudah ada kami. apa kamu gak menghubungi nenek Anta?" tanya Rio sementara Gibran meninggalkan mereka menuju ke masjid.
"Aku takut Ri, nenek Anta pernah kena serangan jantung ringan, takut terjadi yang gak di inginkan. biar mama dan papanya Anta saja yang kasih tahu beliau." kata Billy sambil menunduk.
"Ya sudah kamu pulang saja Bill, di sini terlalu banyak orang juga kitanya gak bisa bantu, aku dan teman-teman sudah di sini Bill," kata Rio pada Billy
"Ya sudah aku menemani Riko saja ya," jawab Billy sambil beranjak meninggalkan Rio. Rio berjalan mendekati kaca, kembali melihat tubuh teman itu, sedih rasa hatinya baru kemarin dalam kegembiraan kelulusan mereka. Sekarang salah satu temannya berbaring di sini. " Allah selamatkan sahabatku jangan ambil nyawanya." gumam dalam hati.
langkah kaki terdengar mendekati, " Mas Rio Sholat dulu, biar aku tunggu di sini sama mas Aril," terdengar suara serak Salva habis menangis, Rio mendongak lalu mengangguk kemudian meninggalkan mereka berdua.
Salva duduk di samping Aril. Ia duduk bersandar pada sandaran kursi dengan tatap kosong," Ayah sama ibu sudah di kasih tahu mas?" tanya Salva pada Aril yang sedang menatapnya iba.
"Sudah, Va mungkin dalam perjalanan ke sini." kata Aril
" ingin lihat kakakmu? tapi jangan nangis ya, itu kita lihat dari sana," kata Aril sambil menunjuk kaca jendela ruang ICU.
Salva mengangguk lalu berdiri dan berjalan menuju ke Jendela kaca, melihat tubuh kakaknya dia sedih dan menangis lagi," hik hik hik."
"Hai, jangan menangis bantu kakakmu berjuang dengan doa," kata Aril sambil menuntun Salva kembali duduk.
__ADS_1