Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Dilema


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat namun pekerjaan tidak kunjung selesai, karena Ketika telah selesai maka akan mencari kembali, sehingga pekerjaan tidak akan pernah selesai karena di gantikan yang baru.


Rio tetap bertahan walau hari sudah gelap entah ia tak ingin pulang. Jasmine selalu mengingatkan Hira, bedanya ia tidak bermata biru. Setiap kali melihatnya mengingat 'kan padanya bahwa dia tak bisa memiliki Hira itulah ia harus menerima Jasmine.


Sebenarnya perasaan yang semacam ini tidak ingin dia milikku, dia ingin menerima apapun Jasmine sebagai pengganti Hira, namun tetap saja tak bisa, ia hanya menyerakan semua pada waktu dan takdir yang berbicara.


Yudi datang keruangan dengan mengetuk pintu yang tak tertutup


"Pak sudah waktunya pulang, sebaiknya Anda pulang, Pak. Biar yang ini saya kerjakan," kata Yudi.


"Biar aku saja yang ini dan kamu kerjakan yang lain, aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dengan tuntas, kalau kau ingin pulang, silakan saja tidak perlu ikut lembur.


"Baiklah, lalu bagaimana dengan nyonya tuan?" tanya Yudi sedikit takut.


"Ada Narti yang akan menemaninya, jadi kau tidak perlu kawatir, jika ada apa-apa nanti Narti akan telpon," katanya sambil tetap menatap laptopnya.


"Baiklah, Pak. Maaf boleh saya pulang sekarang?" tanya pada Rio


"Silakan, Yud. Tidak perlu riskan, karena kau digaji sesuai dengan jam kerja," katanya sambil terkekeh.


Yudi mengangguk kemudian berpamitan kepada atasan itu lalu pergi.


Setelah Yudi pergi dari ruangannya itu ia pun beranjak dari tempat duduknya menutup pintu ruangan kemudian masuk kedalam ruangan privasi, di sana dia pun membersihkan diri lalu berganti dengan pakaian santainya, setelah itu kembali keruang utama.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Andi Hira tidak keluar sama sekali setelah pulang sekolah, walaupun sudah meminta maaf pada Anta gadis kecil itu engan keluar dari kamarnya.


Dantai yang hanya menggelengkan kepalanya, dia berjalan menaiki tangga menuju kamar Hira. Setelah sampai di pintu kamar putrinya ia mengetuk pelan. "Hira ini Ayah, tolong buka pintunya." Tak lama kemudian pintu terbuka dan Dantai masuk dalam kamar lalu menutupnya kembali.


Kemudian ia pun duduk di atas ranjang bersama sang putri. "Bukan tadi pagi sudah minta maaf, kenapa sekarang gak menemui Bunda? kamu tahu sendiri Bunda tak akan datang kesini dan kamu adalah putri kecilnya yang selalu di timangnya sejak bayi tanpa tahu bentuk wajah, serta bagaimana lucunya kamu pada waktu bayi hingga kamu berusia lima tahun."


Mata Hira mengerjap lalu menatap ayahnya. "Hira malu pada Bunda, karena hira tahu hira yang salah," katanya sambil memeluk Ayahnya.


Dantai terkekeh. "Kenapa malu, Bunda mengirah kalau kamu masih marah dan dia sedih."


"Lalu Hira bagaimana?" katanya lagi.


"Ya, datangi bunda ajak bicara dan tanya banyak atau cerita banyak hal, kegiatan kamu di sekolah dan banyak lagi." kata Dantai membelai rambut indah milik putrinya itu. "Baiklah aku akan ke kamar bunda," kata gadis kecil itu sambil melepaskan pelukannya pada Dantai.


kaki kecil turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu, kemudian membukanya lalu berjalan keluar menurun tangga rumahnya, begitu kakinya menjejak lantai dasar, ia pun berlari menuju kamar orang tuanya.


Hira berjalan dengan sangat pelan mendekati sang Bunda, lalu memeluk dari belakang, tangan kecil itu merengkuh pinggang Anta, sambil mengucap salam dan kata maaf. "Hai, tangan siapa ini, berapa lama tidak pernah peluk Bunda, Hem ...?" Gadis itu tertawa. "Apa Bunda kangen Hira?" tanya gadis kecil itu.


"Sangat, coba kemari menghadap Bunda! Ingin sekali Bunda meraba wajahmu," kata Anta pada putrinya.


"Hira malah ingin tidur di pangkuan Bunda," kata gadis kecil itu sambil melepaskan pelukannya pada Bundanya.


Hira mengandeng tangannya dan mengajaknya duduk di atas ranjang, lalu berbaring dan meletakan kepalanya di pangkuan Sang Bunda, kemudian mengambil jemari tangan bundanya dan menempelkan ke wajahnya. "Bunda Hira sudah besar," katanya sambil mengerakan tangan Bundanya keseluruh wajahnya.


"Maafkan Hira, Bun," katanya sambil melihat wajah sang Bunda yang cantik dengan mata biru milik sang nenek yang memang berdarah campuran.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf lagi, Bunda gak marah, cuman kecewa sama Hira, gak tegur Bunda padahal tadi pagi sudah mintak maaf, Bunda jadi bingung nih sama kamu," kata Anta pada putrinya.


Anta membelai rambut putrinya. "Bunda memang tidak bisa melihat, Ra. Tapi Bunda bisa merasakan hatimu. Bunda tahu kamu kecewa karena Om sudah jarang datang ke sini, dan jarang menelpon kamu, tapi kamu juga harus mengerti, Ra. Kalau om Rio juga punya tanggung jawab yang sama pada keluarganya. Jadi Ra, jangan memaksanya untuk bertemu kamu yaa, kasihan om nanti jadi bingung," kata Anta.


Kalau omnya sendiri bisa, apa tidak apa-apa, Bu?" tanya Hira pada Anta.


"Kalau om gak keberatan yaa, gak papa, Ra,"


"Bunda, gak marah kalau Hira pergi sama om?" tanya Hira pada Bundanya.


"Ya, enggak, Ra. Asal om Rio gak sibuk saja dan jangan memaksa untuk datang menemuimu kalau om lagi sibuk," kata Anta pada putrinya dan Hira pun mengangguk.


"Baiklah Hira tidak akan memaksa jika om Rio tidak bisa karena sibuk, lagi pula Hira juga takut kalau om marah sama Hira karena memaksanya bertemu dengan Hira." katanya dengan senyum manisnya.


"Itu baru anak bunda yang baik, bisa mengerti kesibukan orang lain dan tidak egois, hanya memikirkan keinginan dan kepentingan sendiri," sahut Anta menasehati putrinya.


"Kalau Hira video call sama om Rio apakah boleh, karena kadang Hira itu kangen bunda, kalau belum lihat orangnya, rasanya gak enak kayak ada yang sakit di sini, Bun," kata Hira sambil menunjuk dadanya.


Anta menghelah nafas. "Boleh tapi jika om Rio tidak membalas panggilanmu itu artinya om Rio sedang sibuk dan jangan menganggunya yaa," kata Anta pada putrinya.


"Ra, apa kamu sangat senang jika bisa bertemu dengan om Rio," tanya putrinya dengan sangat hati-hati.


"Senang, Bun. Seperti dapat es krim, gula-gula atau coklat," jawabnya ringan.


Anta tertawa mendengar jawaban putri yang memberikan perumpamaan hatinya dengan makanan kesukaannya itu.

__ADS_1


"Sesederhana itu, apa om Rio itu seperti es krim, coklat dan gula-gula?" tanya Anta pada putrinya lagi.


Hira mengangguk mantap. "jika tidak bertemu rasanya tidak enak, Bun. seperti tidak makan es krim padahal lagi ingin makan." katanya sambil tersenyum.


__ADS_2