
Senyum indah menghiasi dan mewarnai hati insan menyambut hari penuh warna serta harapan.
Ketika badai menerjang dan memporak-porandakan seluruh yang kita punya, tak serta-merta harus terpuruk, menangis dan terus mengeluh.
Ketika cobaan datang mendera pasti akan ada jalan keluar dari cobaan itu. Kadang kalah yang pahit tak selalu terasa pait, dan yang manis tak selamanya terasa manis kadang ada rasa getir dan sedikit pahit maka menghadapi dengan senyum adalah sulusi yang paling baik.
Hari yang di jalani Dantai dan Anta semakin berwarna. setiap pagi mengantar Anta ketempat nyonya Celometa lalu berangkat ke kuliah, dan sore hari setelah mata perkuliahan selesai maka akan menjemput sang istri di kediaman nyonya Celometa.
Pelatihan Anta tidak hanya di tempat tertutup mulai di tempat umum yang mengharuskan interaksi dengan orang lain.
Celometa memasangkan sebuah cincin pelacak di jari tengah Anta. untuk bisa mengetahui di mana Anta berada ketika Anta terpisah darinya. alat itu pun berfungsi untuk mengukur jarak antara dirinya dengan Anta, Alat yang terhubung dengan jam tangan, khusus di rancang tuan Hari ayah Celometa untuk Anta, Celometa dan Dantai.
Suatu alat yang di modifikasi dengan kemampuan IT yang sangat tinggi ketika si pengguna mengalami ancaman maka secara otomatis sinyal yang ada di cincin tersebut mengirim sinyal pada penggunaan jam tangan tersebut bahwa pemilik cincin dalam keadaan bahaya.
Di awali dengan berkunjung di mall Anta harus mengikuti kemanapun Celometa pergi dengan mengandalkan pendengarannya irama jalannya dari banyak derap kaki. Anta melewati hari itu dengan sangat susah paya, ia berusaha untuk mengikuti langkah kaki Celo yang akhirnya ia bisa melewatinya dengan sangat baik.
Lalu Anta di bawa ke sebuah ruangan di mana ada sesuatu benda yang bersuara, ketika benda itu bersuara Anta harus melempar pisau kearah suara.
Kehidupan Anta semakin berwarna, kepercayaan dirinya pun bertambah Celo selalu mengajak kerumahnya terlebih dulu untuk menunggu Dantai datang.
Di rumahnya itu Anta di ajari berbagai masakan kadang bercanda dan bergurau. Liam putra Celo dan Brian berusia 9 tahun dan putrinya berusia 6 tahun bernama Avarina.
Ketika mereka pulang suasananya sangat ramai, apalagi kalau Dantai datang menjemput
mereka akan menodong untuk minta di lukis.
Dantai dan Brian akan ngobrol sebentar sebelum mereka berpamitan akan pulang.
Hari ini pun begitu ketika Dantai datang ke rumah Brian, begitu terdengar suara mobil Dantai kedua bocah itu berlari ke depan," Ada om Dantai," teriak mereka, menghampiri mobil Dantai, ketika Dantai keluar dari mobilnya mereka menarik tangan Dantai mengajaknya masuk kedalam," Ayo ikut Ava aja om."
"Enggak, ikut Liam aja om."
"Ini Om di tarik sana-sini terus gimana? gak bisa ke mana-mana yang ada tangannya sakit, nanti kalau copot gimana?
Mereka tertawa, "kayak karton bisa copot."
"Ya bisa, kalau nariknya dua arah, coba sini dulu duduk sini dulu om mau tanya minta apa?"
"Om Ava minta di lukis?" kata Ava pada Dantai.
"Oo, tuan putri minta di lukis?" tanya Dantai, Ava menatap Dantai dengan tatapan memohon sambil mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Ok! Bayaran om mahal loh, apa bisa bayar om nih?"
"Bisa, ini bayaran mahal dari aku, cuma om aja yang dapat." katanya sambil mencium pipi Dantai. mata Dantai melebar dan terkekeh.
"Ya Ava curang, lalu aku apa dong om,"
kalau Liam cukup jaga tante kalau om belum datang, Bagaimana?" katanya menenangkan.
"Ok!"
"Bagaimana kalau kalian om lukis berdua?"
"Ya,baiklah," Ava mengambil kanvas dan di berikan pada Dantai, mereka berpose dengan duduk berdua saling memunggungi lalu menoleh ke arah Dantai, di sketsa dengan cepat.
dan selesai lah sebuah sketsa yang sangat bagus.
"Ini om yang lanjut kan apa kalian,"
"Om." jawab mereka serentak, Dantai tertawa.
"Kalian ya padahal om baru datang dan capek sudah di minta ini dan itu." kata Celo sambil membawa makanan kecil dan minuman. lalu masuk kembali. Anta yang ikut keluar langsung duduk di sebelah suaminya.
"Tetap tidak boleh sayang," kata Celo, sambil membawa box ukuran sedang dan di taruhnya di atas meja.
"Masuk dulu sana!" perintah Celo pada putra-putrinya."
"Ok! mam, jangan lupa ya om," kata mereka sambil berlari dan Dantai tertawa sambil mengacungkan jempolnya ke arah mereka.
"Maaf ya Dan, mereka merepotkan mu."
"Gak papa, mbak mereka lucu." kata Dantai sambil menatap istrinya yang ada di sebelahnya. Celo tertawa melihat Dantai begitu mesra menatap Anta," Brian belum datang jangan membuatku Iri." katanya Celo."
Dantai terkekeh,"Habis aku kangen kak."
Celo tertawa," ini makanan buatan Anta loh, Dan. Itu sudah sekalian aku bungkuskan buat kalian mau langsung pulang apa masih ingin di sini."
"Pulang aja deh mbak, sudah pingin peluk istri." katanya.
"Ya udah ayo, aku bantu bawain ini ke mobil kamu."
"Sekalian tolong kanvasnya bawa sini mbak, jika lupa bawa nanti mereka bisa marah, gak di bolehin masuk rumah aku." kata Dantai sambil berdiri dari duduknya begitu pula Anta. Celo mengambil kanvas sambil terkekeh dan memberikan pada Dantai. lalu mengambil box yang berisi kue lalu membawanya ke mobil.
__ADS_1
"ini di taruh di sini aja ya barangkali mau makan di jalan." kata Celo box di dekat kemudi.
"Ok! mbak maaf selalu merepotkan mbak." kata Dantai.
"Enggak lah Dan, aku senang ada temannya, Anta."
"Baik, mbak aku pulang dulu, trimakasih untuk yang ini juga mbak," kata Dantai sambil menunjuk box isi kue."
"Iya sama-sama Dan."
Mobil pun berjalan meninggalkan rumah Celometa. melaju membela jalanan menuju Apartemennya. "Bagaimana tadi, apa menyenangkan?"
"Iya sangat menyenangkan, mas."
"Tapi aku belum merasa senang hari ini?" kata Dantai sambil mengemudikan mobilnya.
"Kenapa, apa ada masalah di kampus?"
"Iya, aku punya masalah tapi masalah bukan di kampus sayang, tapi masalahnya di kamu."
"Aku? tanya Anta sambil menunjuk dirinya.
"Iya." jawab Dantai sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Anta sambil menatap kearah Dantai.
"Kau belum memanjakan ku." Anta tergelak sambil mencubit perut Dantai.
"Nanti di apartemen."
"Benar, ya jangan tidur kalau aku belum puas." kata Dantai, sambil tangannya kirinya menggenggam jemari Anta."
"Hari ini kamu benar-benar cantik sayang."
"Memang kemarin aku tidak cantik? tanya Anta sambil menyipitkan matanya.
"Cantik sih cuman lebih cantik hari ini sayang ada aura kebahagiaan di sinar mata mu." kata Dantai sambil meremas lembut jemari Anta.
"Benarkah, apa kau sangat menyukai ku hari ini?"
"Hem, sangat."
__ADS_1