
Chatting dengan Anta terus berlanjut hingga adan magrib berkumandang. mereka menghentikan chatting mereka. Dantai dan kawan-kawan menunaikan shalat magrib dan di lanjutkan isya' di masjid hotel tempat mereka menginap. Sambil menunggu waktu isya' mereka membahas acara besok pagi.
"Besok kita bertemu dengan perwakilan dari pianis itu, siapa Dan ?" tanya Gibran
"Mbak Lila namanya, kata om Alex kita juga akan bertemu dengan pianis itu juga dan ada latihan sama dia juga nanti," kata Dantai
"terus kenapa om Alex gak kasih tau nama pianis itu?" kata Aril menimpali
"Kata om Alex dia masih sekolah jadi gak mau terkenal dengan nama aslinya julukan panggungnya beautiful rose," kata Dantai santai
"Nanti kita kan bakal ketemu tuh sama orangnya," jawab Rio
Ril, posisi biasanya di keyboard maka di pertunjukkan besok posisi kamu di biola ya," kata Dantai
"Hai kenapa tak bilang tadi aku tak membawa biola ku," kata Aril marah
"Ha..ha. ha biola mu sudah disiapkan om Alex pagi tadi waktu kita masih di sekolah om Alex menyuruh bawahannya untuk di bawa kemari gitar kita juga jadi gak usah bingung." kata Dantai sambil terkekeh, Aril pun memukul punggung Dantai dengan kerasnya karena gemas telah mengerjainya, teman-teman yang lain pun pada ketawa bersamaan.
"Kau ini masak lupa biasa bagaimana? ha...ha..ha," Saut Rio ketawa. Waktu isya' pun tiba mereka melaksanakan sholat isya berjamaah, Setelah selesai sholat mereka pergi ke kafe dekat hotel.
" ini siapa yang traktir?" tanya Gibran
"kamu aja ya Dan dompet mu lebih tebal dari kami," timpal Aril. Dantai hanya mengangguk. mereka memesan makanan dan minuman sambil terus mengobrol. Di selah percakapan sambil menunggu pesanan datang Rio mulai mengeluh," Om Alex kenapa gak kasih kita fasilitas mobil sih jadi kita bisa cari makanan di luar hotel."
"Emang tau jalan kamu?" tanya Dantai pada Rio yang di tanya cuma nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. pesanan pun datang mereka masih terus mengobrol sambil makan.
"Yo mesti gak ero Dan, gelem awak mu nyasar isok budal gak isok muleh!" Kata Gibran dalam logat bahasa jawanya dengan tawa berderai di ikuti Dantai dan Aril.
" Yo gak gelem Bran, tapi yo mosok om Alex gak duwe supir Bran." kata Rio lagi
__ADS_1
"Lah om Alex Asisten ngrangkep sopir kok," kata Gibran sambil terkekeh
"Ayo apa sudah pesan semua ini? biar om yang bayar," terdengar suara bas dibelakang mereka duduk membuat mereka terkejut.
Om Alex sudah berdiri di belakang mereka kemudian dia menggeser kursi yang kosong lalu menduduki nya diletakkan kedua tangannya di meja sambil mengamati wajah mereka berdua.
"kalian itu apa kalian kira saya gak ngerti apa yang kalian bicarakan?" kata om Alex dengan santainya.
"Emang om ngerti apa yang kami bicarakan?" tanya Dantai
"Enggak, memang apa yang kalian bicarakan?" tanya om Alex balik, keempat remaja itupun sontak tertawa keras, "kirain om tau apa yang kita omongkan sampai jantungku rasanya mau berhenti om," kata Gibran sambil mengelus dadanya.
"Bener ni hanya ini aja pesanan kalian, gak mau nambah?" tanya om Alex lagi. mereka semua menggeleng.
"Ok! habis ini kalian istirahat besok acara akan padat, hari Minggu kalian sudah free jadi kita bisa jalan-jalan keliling Jakarta saya bersedia jadi supir kalian, saya kan asisten merangkap sopir," katanya tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada mereka. Mereka pun terkejut, Gibran membasahi kerongkongan nya yang tiba-tiba kering dengan air liurnya.
"Satai aja gak pa-pa Bran memang begitu adanya," jawab om Alex.
"Sudah sana kembali ke hotel istirahat dulu! Besok kegiatan padat," kata om Alex sambil membayar tagihan mereka. Mereka pun kembali ke hotel dan beristirahat.
Keesokan harinya mereka sudah berada tempat penyelenggara di ruangan khusus untuk rapat koordinasi, Lila duduk di sofa berhadapan dengan ke 4 remaja dan om Alex.
"Gimana apa bisa kita mulai ini rapat koordinasi, Lil?"tanya om Alex pada Lila
"Sebentar ya, saya hubungi nona muda dulu," katanya sambil me deal nomer telponnya.
Tak lama kemudian terlihat di berbicara lewat telepon lalu mengakirinya.
"Ok! kita langsung aja ke tempat pertunjukan, nona sudah menunggu di sana," kata Lila menatap om Alex lalu kemudian di 4 remaja itu sambil bejalan mendahului mereka. merekapun mengikuti langkah kaki Lila hingga terlihat sebuah panggung yang sudah di desain sangat bagusnya. Semakin dekat suara dentingan piano terdengar jelas dan merdu, seorang gadis duduk didepan piano dengan dandanan yang sederhana, jari-jemarinya dengan lincah bermain di tuts-tuts piano. sekilas Dantai seperti mengenali gadis itu. mereka semakin dekat dan menaiki panggung menghampiri gadis itu.
__ADS_1
" Nona, mereka inilah yang akan berkolaborasi dengan Anda." kata Lila pada gadis itu.
Gadis itu mendongak membuat Dantai terperanjat, begitu juga ke tiga temannya.
Gadis itu terkejut dan kemudian tersenyum sambil memangil sebuah nama, "Afif."
karena terperanjat yang ternyata di hadapannya adalah gadis yang sudah dirindukan selama 3 hari ini tanpa sadar mengembangkan tangan ingin memeluk gadis itu. Gibran memukul tangan Dantai menyadarkannya, membuat ia menoleh ke Gibran dan terkekeh. Lila di buat heran melihat interaksi nona mudahnya dengan 4 remaja tersebut.
"kalian mengenal nona mudaku?"tanya Lila pada mereka.
Merekapun mengangguk dan menyebut nama gadis itu dengan serempak," Anta."
Anta pun berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
" Jadi kalian yang akan tampil bersamaku?" tanya Anta pada mereka akan tetapi tatapannya hanya tertuju pada Dantai
" Wis repot iki musuh wong lagi kangen," celetuk Riko. merekapun tertawa begitupun Alex yang sedikit mengerti bahasa Jawa kecuali Anta dan Lila. "ngomong apa sih kamu Ri?" tanya Anta bingung.
"Gak ngerti to Dan," timpal Rio lagi sambil terkekeh.
"Gini loh An, kemarin-kemarin itu muka Dantai itu kusut banget karena kamu tinggal ke Jakarta tanpa ada pesan apapun." kata Aril pada Anta. Dantaipun menyahut," Ah kamu itu buka Aib aja Ril." Semua tertawa karena protes Dantai.
"Ooo, jadi kalian saling kenal, satu sekolah apa jangan satu kelas?" tanya Lila pada mereka.
" Enggak mbak Anta beda kelas tapi kami yang satu kelas," jawab Gibran menjelaskan pada Lila.
"Ooo begitu ya, ok! kita mulai bahas apa yang kita tampilan nanti malam, kemudian langsung kita latihan," kata Lila mulai membahas pekerjaan.
Mereka mulai membahas lagu apa aja yang di tampilkan dengan serius dan tatapan Dantai tak lepas dari wajah cantik Anta yang tanpa makeup. mereka pun sudah diposisi pada alat musik masing dan mulai berlatih.
__ADS_1