
Mobil Dantai kembali berjalan meninggalkan Rumah Andi, yang hampir 10 tahun tak di tempati.
Andi mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Pi apakah papi tidak berusaha merubah pandangan mami, kasihan Diana jika mami selalu meratapi kepergian Diana."
"Sudah sering papi lakukan tapi ya begitulah mami, keras kepalanya gak ilang-ilang."
"Kemarin mau kesini aja mami gak bisa tidur katanya ia takut ke ingat Diana lalu sedih."
"Apa mami perlu bantuan psikiater pi? sepertinya ini gak bisa di hadapi mami sendiri harus ada bantuan dari yang ahlinya pi?"
"Papi sudah sering mengajak ke psikiater tapi ya gitu mami gak mau Dan."
Mobil berjalan terus hingga akhirnya berhenti di sebuah toko bunga, Andi keluar dari mobil berjalan ke toko bunga itu dan membeli satu ikat rangkaian bunga mawar. Setelah mendapat bunga yang di inginkan Andi kembali ke mobil dan menjalankan mobilnya kembali hingga berhenti di sebuah pemakaman elite.
Andi dan Dantai keluar dari mobil dan berjalan menyusuri jalan pemakaman melewati banyak makam hingga berhenti di sebuah makam bertuliskan Diana Ana Bella.
Tampak ada seikat bunga mawar yang masih segar seolah seseorang baru saja datang ke makam ini.
Andi menoleh ke sana kemari mencari seseorang yang baru datang kesini.
"Pi, kenapa? apa yang papi cari?"
"Ini loh Dan ada yang berkunjung di makam Diana, padahal selama ini yang tahu makam ini cuma kami gak ada yang lainnya."
"Mungkin nanti kita tanya penjaganya saja pi."
Andi menghela nafas, lalu duduk di depan makam putrinya.
"Hai sayang papi baru datang lagi, maaf daddy harus mengurus adikmu Anta paska kecelakaan, sempat mengalami lumpuh dan kebutaan. Saat ini sudah bisa berjalan namun dia belum mendapatkan pengelihatannya lagi."
Andi berhenti sejenak mengatur perasaan lalu kembali berbicara di makam putrinya.
"Papi kemari bersama suami adikmu berharap jika papi tak bisa mengunjungi mu dia dan adik mu yang mengunjungi mu."
"Hai aku Afif Bayu Dantai, suami saudarimu, salam kenal. Maaf baru datang karena baru tahu bahwa Anta memiliki saudara kembar sekuat diri mu dan sebaik diri mu. Suatu saat aku akan datang bersama istri ku ya, saudarimu.
Andi meletakkan bunga mawar di makam Diana."
Andi dan Dantai pun menemui penjaga makam.
__ADS_1
"Maaf saya mau tanya barusan yang datang ke makam itu sebelum kami siapa ya pak? mungkin Bapak tahu." tanya Dantai pada penjaga makam itu.
"Seorang pemuda seumuran anda, dia sering ke sini dulu bersama keluarganya waktu kecil."
"Di waktu kecil?" tanya pak Andi
"Iya dulu waktu saya tanya dia bilang temannya di rumah sakit."
"Ok! pak trimakasih."
"Sama-sama, den."
Mereka pun pamit kepada penjaga makam, Andi berjalan dengan hati galau."
"Pi, ada apa?" tanya Dantai
"Kita ke mobil dulu Dan, setelah itu kita akan ke rumah sakit."
"Baik Pi,"
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Andi duduk di belakang kemudi, ia menghela nafas," Sebelum meninggal Diana pernah berkata padaku bahwa ingin hidup di tubuh orang lain, di meminta ijin ku untuk mendonorkan organ tubuhnya.
"Kita ke rumah sakit Dan, aku ingin tahu siapa yang menerima hati putri ku."
"Baik pi,"
Andi pun kembali mengemudikan mobilnya di sebuah rumah sakit terbesar di Singapura.
Setelah tiba di area parkir rumah sakit Andi menelpon direktur sekaligus pemilik rumah sakit.
Beberapa menit menunggu akhirnya tersabung.
"Maaf dokter Alex ini Andi ayah dari Diana Ana Bella ingin bertemu dengan anda apa anda ada waktu hari ini."
"Tentu saya kebetulan saya ada di rumah sakit sekarang."
"Baik pak saat ini saya sudah sampai di rumah sakit anda."
Sambungan telepon terputus. Andi menaruh hpnya ke saku celananya, lalu menatap menantunya," Kita ke kantor Dan."
"Baik pi."
__ADS_1
Mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit, melewati lobby lalu menyusuri lorong panjang rumah sakit hingga sampai di kantor direktur rumah sakit, sampai di sana langsung di persilahkan masuk kedalam kantor rumah sakit.
Begitu masuk kantor sudah menunggu 2 pria berbeda generasi menunggu."
"Silahkan masuk duduk pak Andi."
"Danta?" sapa dari salah satu pria yang jauh lebih mudah dari pak Alex.
"Vano," Sapa Dantai tak kalah kagetnya.
"Duduk, Dan," perintah Vano.
"Ada yang bisa saya bantu pak Andi?"
"Iya tentu pak Alex, perkenalkan dulu ini adalah menantu saya namanya Dantai."
Alex menjabat tangan Dantai dengan sedikit ragu sambil tersenyum canggung."
"Begini pak Alex, dulu putri saya sebelum meninggal dia bilang mendonorkan beberapa organ tubuhnya agar dia bisa tetap hidup di tubuh orang lain. waktu karena saya begitu sedih jadi saya tidak ingin tahu siapa yang menerima organ tubuh putri saya, namu saat ini saya ingin tahu siapa saja yang menerima organ tubuh putri saya."
"Baik akan saya ambilkan berkasnya pak Andi."
Pak Alex mengambil beberapa berkas persetujuan dan penerimaan pendonoran
Ini pak Andi berkasnya."
Andi melihat berkas penerimaan donor, hingga pada orang yang menerima hati Diana.
"Putra Anda yang menerima donor hati dari Diana?"
"Betul, pak putra saya, bahkan sebelum meninggal Diana berpesan untuk menjaga saudarinya dan bersedia menikahi saudarinya itu kalau Vano sudah dewasa. Sayang sekali saudari sudah menikah jadi tidak bisa mewujudkan pesan terakhir putri Anda."
Andi merasa sedikit tersinggung dengan ucapan dokter Alex.
"Pesan Diana tak ada artinya sama sekali dengan perasaan putri ku Anta, putra Anda sudah mendapatkan kehidupannya dari putri ku Diana, tak akan ku biarkan Diana mengatur ke hidupan Anta lewat orang lain, termasuk putra Anda. Cukup penderitaan Anta sampai di sini sejak umur 9 tahun dia hidup sebagai Diana. Seandainya pun Anta belum menikah tetap tak ku ijinkan putra Anda menikahi Anta karena cinta putra Anda adalah Diana."
"Maaf pak, jika memang saudari dari Diana sudah menikah bahkan telah menikah dengan sahabat saya sendiri yaitu Dantai, saya tidak akan maju pak, saya tahu kisah cinta Dantai, mungkin saya tak akan bisa mencintainya sebesar cinta Dantai. Benar kata pak Andi bahwa pesan terakhir Diana tak ada artinya di banding perasaan Anta." kata Vano menegaskan sikapnya."
"Trimakasih nak Vano." ucap Andi pada Vano sambil melihat berkas ke tiga, donor ginjal untuk Mila. Sementara dokter Alex merasa tak enak mendengar penuturan pak Andi namun dia pun salah seolah memaksakan sesuatu untuk di setujui.
Andi dan Dantai pun berpamitan setelah mendapatkan penjelasan.
__ADS_1