Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Menyelesaikan Masalah Sebelum Pergi


__ADS_3

Pagi ini terasa hangat bagi pasangan yang dulunya selalu dingin, membuat Mbak Narti bahagia melihat mereka dalam keharmonisan.


Mereka sarapan berdua dengan candaan yang mulai bisa di bangun.


"Jas, siapkan pakaian kita kalau tidak ada halangan kita akan berangkat sekarang juga, dan jangan lupa minum vitaminnya," pesannya pada istrinya


"Iya," jawab Jasmine sambil berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar tetapi dihentikan oleh suaminya.


Rio mengambil susu hamil dan berjalan kearah istrinya yang sedang menunggu.


"Habiskan ini dulu," katanya


"Masih kenyang aku, Mas Yo," jawab Jasmine


"Jas, kenyang apa? Kamu juga makan sedikit tadi," protesnya. Jasmine pun mengambil dari tangan Rio dan meminumnya sampai habis lalu menyerahkan pada suaminya.


"Ya, itu baru benar," kata Rio membiarkan sang istri Pergi ke kamarnya.


"Mbak Narti!" panggil Rio.


"Ya, Den!" jawab Narti sambil datang dengan tergopoh-gopoh.


"Apa Den?" tanyanya


"Aku sama Jasmine akan pergi beberapa hari, kamu tidak apa-apa kami tinggal sendiri dengan Sofyan?" tanya Rio


"Gak apa-apa, Den," jawab Narti


"Apa kamu tinggal sama Mama saja ya, Mbak Nar? Pasalnya kamu dan Sofyan itu sama-sama lajang loh, aku takut kalian khilaf di rumah sendirian berdua, karena aku lihat kamu seperti ada rasa sama dia," kata Rio hati-hati


"Ah, Den Rio bisa saja," jawab Narti terseyum malu sambil menunduk.


"Mbak Narti jujur saja, kalau iya aku akan bilang Papa, agar menikah kan Mbak dengan Sofyan. Apa Sofyan juga suka sama kamu?" tanya Rio pada Narti

__ADS_1


"Iya, Den!" jawabnya sambil menunduk


Rio menghela napas.


"Kamu sudah pernah begituan belum?" tanya Rio lagi


"Gak sampai ke sana, Den," jawab Narti sambil menunduk.


"Berarti hampir?" tanya Rio lagi.


"Iya, Den!" jawabnya lagi sambil menunduk.


"Panggil Sofyan kemari!" perintahnya.


Narti buru-buru melangkah ke pos sekuriti lalu menghampiri pria muda berusia di atas Rio itu.


"Bang, di panggil Den Rio," katanya sesampainya di pos sekuriti.


"Aduh! Bang beneran Narti gak bohong, cepat jangan buat Den Rio marah!" kata Narti sambil cepat-cepat melepaskan dirinya dari Sofyan.


Sofyan terpaku sambil menatap kekasihnya yang b@henol itu. Ada apa yaa, kenapa Den Rio memanggilku, pikir nya sambil berjalan mengikuti Narti yang sudah sedikit jauh dengannya, ia masuk di rumah dan melihat majikannya duduk di sofa ruang tamu.


"Sini, Fyan! Duduk di sana dekat Narti," perintah Rio.


Sofyan pun menurutinya, ia duduk di dekat Narti dan saling berdempetan membuat Rio membuang napas kasar.


"Mepetnya nanti saja kalau kalian sudah sah, jangan mancing dosa kamu Fyan! Apa kamu kira aku gak tahu apa yang kamu lakukan di pos tadi?" tanya Rio dengan tatapan tajam.


"Iya, Den! Maaf khilaf Den!" jawabnya sambil menggeser duduknya agak berjauhan, dan sedikit takut dengan aura Rio pagi ini. Pasalnya selama ini beliaunya tak pernah tahu tentang percintaannya dengan pembantu majikannya itu.


"Kamu kalau sudah tidak bisa menahan hasrat, lebih baik nikahi Narti! Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang gak di inginkan di rumah ini.


"Den, saya kok merasa di grebek yaa, sama Aden," kata Sofyan sambil menunduk.

__ADS_1


"Iya, kamu saya grebek dari pada di grebek warga saya yang malu, ngerti kamu!" jawabnya tegas


"Ngerti, Den!" jawab Sofyan pada majikannya itu.


"Ya, kalau ngerti, hubungi orang tuamu sekarang, suruh ke sini! Aku sudah menghubungi Papa dan Mama. Fyan, Narti itu tanggung jawabku dia itu sudah tidak punya orang tua seperti istri saya, kalau kamu memang cinta sama Narti, maka nikahi dia, gak masalah orang tua kamu gak bisa datang, asal tahu anaknya akan menikah hari ini," jelas Rio


Sofyan menelan salivanya sendiri. "Saya menikah hari ini Den?" tanyanya pada Rio.


"Ya, terus kapan lagi? Nunggu Narti hamil? Saya gak mau yaa, waktu saya tinggal pergi kamu berbuat yang aneh-aneh, sebelum kamu nikah!" kata Rio sedikit meninggi.


"Baik Tuan! Saya hubungi orang tua saya sekarang juga," jawabnya gemetar.


"Beri alamatmu padaku, biar Yudi yang mengambil berkas surat-suratmu, Mbak Narti juga sekarang siapkan surat-suratnya dan berikan pada saya,"


"Baik, Den! jawabnya sambil berdiri berjalan ke arah kamarnya, Sofyan pun hendak berdiri di tegur oleh Rio.


"Mau kemana kamu? Hubungi keluargamu di hadapanku, kalau perlu saya yang bicara!" tegurnya pada sofyan.


"Ba-- baik, Den!" jawabnya tergagap lalu Ia segera menghubungi ibunya. Tak seberapa lama kemudian tersambung dan Rio meminta di load speaker dan Sofyan menurut. "Assalammualaikum, bu, Sofyan mintak ijin untuk nikah hari ini," ijinnya lewat telepon.


"Wa'alaikumsalam, sek toh leh, kok dadakan ki, karepmu piye? Terus calone yang mau ibu jodohkan dengan kamu bagaimana? Ibu gak penak leh karo pak kaji, Sopo yang mau kamu nikahi? kalau gak lebih bagus, lebih baik pulang menikah sama anaknya pak kaji yang sawahnya berhektar-hektar," jawab ibunya Sofyan. Rio menghelah nafas. "Kamu di jual ibumu, kau kira akan bisa menjadi majikan setelah menikah dengan orang yang punya sawah, bahkan kamu akan jadi kacung dan sapi perahan mereka," kata Rio tanpa peduli telpon masih tersambung


"Itu siapa kok gak sopan sekali?" tanyanya.


"Maaf bu saya mencintai Narti, saya gak mau yang lain, majikan saya akan pergi satu minggu dan meninggalkan kami di sini, tak ingin kami berbuat khilaf bu, itu sebabnya beliau ingin saya menikah sekarang," kata Sofyan masih dengan sopan.


"Walah wong pembantu saja kamu belah segitu rupa," jawab sang ibu.


"Bawa sini biar saya yang bicara?" perintah Rio.


"Tapi, Den?" keluh Sofyan sambil memberikan handponenya pada majikan.


"Maaf, jika Ibu bersikeras menolak, saat ini saya potong tangan anak ibu yang suka pegang-pegang badan Narti, akan saya to njok in bibirnya yang suka nyosor itu, sampai gak bisa bicara bahkan gak bisa menelan makanan. Setelah itu, akan saya kirim ke Ibu apa pak kaji masih mau menerima anak Ibu. Anda kira pembantu saya tidak punya apa-apa? Ibu salah, dia anak dari pembantu Ibu saya yang sudah saya anggap kakak sendiri, ia juga mempunyai perkebunan atas namanya. Dia lulusan sarjana, lebih tinggi dari Anak Ibu, yang hanya lulus SMA saja, dia di sini karena ingin menemani isteri saya, agar tidak kesepian ketika saya keluar kota. Sekarang pilih salah satu, menikah atau pulang dalam keadaan mengenaskan!" kata Rio jengkel lalu memutuskan sepihak.

__ADS_1


__ADS_2