
Anta yang baru saja tiba di sekolah merasa ada sesuatu yang aneh, semua siswa yang bertemu dengannya menatap dengan tatapan aneh namun ia tak peduli. di langkahkan kakinya menuju kelasnya lalu dihempas pantatnya di tempat duduknya yang bersebelahan dengan Bella, "sudah tau berita hari ini?" bisik Bella
"Belum," jawab Anta cuek.
Bella memperlihatkan hpnya pada Anta, Anta yang melihat itu langsung terbelalak matanya lalu menghembuskan nafas kasar, " udah biarkan saja!"
Tak berapa lama bel masuk berbunyi dan pelajaran pun di mulai.
Anta melihat ke kanan dan ke kiri melihat teman-temannya seperti biasa aja padanya, tidak membahas foto, tidak menghakiminya, "Mereka lebih percaya pada mu dari pada foto itu, coba siapa yang buat nilai mereka bagus-bagus kalau bukan Kamu, tenang saja," bisik Bella sambil terkekeh.
Pelajaran-pelajaran di lalui Anta tanpa semangat, satu bulan ia akan dalam mode diam dengan Dantai karena permintaan Riko. " Riko sungguh menyebalkan awas kalau misi mu gagal." gumamnya dalam hati.
Tak terasa Bel istirahat berbunyi, guru di pelajaran akhir sebelum istirahat pun keluar, Anta menghela nafas ia malas ke kantin, ia pun tetap duduk di bangkunya dan menyandarkan kepala dengan beralaskan kedua tangannya di meja dan di pejamkan matanya, ingin rasanya ia tidur saja biar tak banyak memikirkan sesuatu terjadi karena membantu Riko. Ia mulai menyesal menyanggupi permintaan Riko.
"An bangun cobah lihat di meja kita," bisik Bella di telinganya, Anta pun bangun dan tertegun melihat mejanya penuh makanan juga di beberapa meja di dekatnya.
Rudi duduk di bangku depan Anta dengan menghadap langsung padanya.
" kau tak ingin ke Kantin, maka makanan yang datang padamu," katanya terkekeh, " mari berpesta kawan!" sambungnya lagi di ikuti semua temannya yang berada di kelas.
Beberapa anak menawarkan makanan dan minuman yang di bungkus plastik, Anta mengambil semangkuk bakso dan jus jeruk, Anta menuangkan sambal kedalam kuah baksonya dan memakannya dengan lahap.
Sambil mengunyah makanannya ia bertanya pada Rudi dan Bella, " siapa yang punya ide ini?"
Semua temannya menjawab sambil tertawa, " Kami lah!" Mereka pun makan di kelas bersama dan bersenda gurau.
Sebelum waktu istirahat habis beberapa teman mengumpulkan mangkok kotor dalam baki dan mengembalikan ke Kantin sebelum bel berbunyi kembali. mereka sudah kembali ke kelas mereka.
Tak ubahnya di kelas Dantai juga malas keluar kelas, ketiga temannya membawa makanan dan minuman untuk di makan bersama, namun sayangnya ia tidak berselera.
Ia pun menyangkutkan tas di punggungnya lalu beranjak keluar keluar. "Hai, mau kemana?!" teriak Aril.
" pulang!" teriak Dantai tanpa menengok ke belakang.
__ADS_1
Aril pun menghela nafas. " Kumat lagi nih cueknya, gak peduli lagi dia di hukum."
" Mentang-mentang tinggal loncat aja," timpal Gibran terkekeh
"Dantai kalau dikasih hukum pasti hukuman kerjakan soal sulit, gak ngaruh dia, dasar otak encer bedah lah sama kita bisa susa ," sahut Rio tertawa lihat kelakuan teman satunya ini kadang bikin geleng kepala, semaunya aja kalau sudah suntuk kayak gitu.
tak lama kemudian Mutia datang menghampiri mereka, "kak, kemana kak Dantai? tanyanya mereka
"Pulang, kamu kan yang pasang foto di mading itu kan. Jangan kau kira jika mereka putus kau bisa masuk di hati Dantai, itu tak akan terjadi! Jadi hentikan usahamu percuma!" Jawab Rio ketus. Mutia pun berbalik arah keluar kelas dengan hati dongkol berjalan kembali ke kelasnya dengan kecewa, tiba-tiba hpnya berdering tanda ada pesan masuk.
📱Riko
"Penuhi janjimu hari ini!
Datang ke apartemenku sepulang sekolah
Mutia menghela nafas sambil melihat lokasi yang telah di share oleh Riko lalu mengetik pesan ke hpnya.
Ya
Hari ini hati Mutia benar-benar kalut, ia tak menyangka rencananya akan berbalik arah, dia tak tahu apa yang di mintak Riko sebagai balasan telah membantu rencananya ini. Pelajaran hari ini tak sanggup ia cerna sama sekali, hingga di akhir pelajaran dan bel pulang pun berbunyi. Mutia berjalan gontai ke parkiran sekolah menuju mobilnya lalu masuk kedalam dan mulai menjalankan dengan pelan hingga keluar pintu gerbang sekolah lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, Mutia menghela nafas," kak An, ternyata jebakan itu untuk ku bukan untuk mu," gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian dia pun sampai kesebuah Apartemen mewah milik orang tua Riko. ia mengetik pesan di hpnya kembali
📱 Mutia
Aku sudah sampai di lobi, kak.
📱Riko
Lantai 10 nomor 09, segera ke mari!
Setelah mendapat balasan dari Riko ia menyimpan hpnya dalam tasnya lantas ia masuk ke lift menuju lantai 10. Sesampainya di lantai 10, ia mencari kamar 09, setelah sampai ia pun membunyikan bel dan tak lama kemudian pintu terbuka, nampak Riko berdiri di depan pintu dengan senyum manis dan segera menarik tangannya membawanya masuk ke apartemennya. Riko menuntunnya dan membawa kesebuah meja yang sudah ada 1 botol dan 2 gelas minuman wine. Riko menarik kursi dan menyuruhnya untuk duduk, Mutia pun melepas tasnya dan duduk di kursi itu, lalu Riko menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan Mutia.
__ADS_1
"Minumlah dulu kau pasti haus," kata Riko menatap lekat pada Mutia sambil mengambil minuman untuk Mutia dan dirinya.
Mutia pun minum tanpa curiga ia pun meminum sampai habis, tak seberapa lama ia pun mengeryitkan dahinya, "kak kenapa kepala ku sakit? Aku kok jadi ngantuk ya kak, katanya pada Riko, Riko pun hanya tersenyum dan tak lama kemudian Mutia pun tertidur bersandar pada sandaran kursi dan hampir jatuh.
Di angkatnya tubuh Mutia dan di baringkan di ranjang.
Sambil menyeringai ia bergumam dalam "Kau akan tahu nanti, apa yang aku lakukan pada mu Mutia."
Tak seberapa lama Mutia pun mulai sadar dan membuka matanya dia terkejut melihat dirinya lalu melihat Riko dengan rambut basah dan hanya berbalut handuk. Dan Mutia terkejut melihat keadaan dirinya.
"Kak apa yang kakak lakukan? Aku kan masih ingin sekolah bagaimana kalau hamil.," kata Mutia tersedu.
"Sebelum kamu hamil kita menikah, dan kau tetap bisa sekolah, ambil homeschooling beres." katanya sambil membuka lemari dan mengambil pakaiannya lalu berganti pakaian di hadapan Mutia. Mutia memalingkan wajahnya.
"Sudah sana mandi, siapa yang suruh kau main-main dengan ku. Aku tunangan mu, kau sendiri yang meminta orang tua kita untuk kita bertunangan. Aku bersedia berjauhan dengan mu agar kau selesaikan dulu pendidikan mu. Malah apa yang kau lakukan kau mencintai pria lain." kata Riko sambil menatap tajam Mutia.
Mutia tidak sanggup bicara lagi ia mengira Riko akan melakukan segalanya untuk mencintainya.
Dan ia salah, ini sudah terjadi papanya akan marah jika tahu hal ini.
Mutia pun turun dari dan mengeryitkan dahinya, merasa aneh saja pada dirinya.
"Kenapa? Kau kira setiap orang yang melakukan pertama kalinya akan sakit dan berdarah, tidak semuanya begitu. ada yang sepertimu saat ini karena aku begitu pandai bermain, sayangnya kau tidak bisa ikut menikmatinya, karena tidur," katanya menyeringai sambil memunguti pakai nya dan Mutia yang tercecer di lantai.
"Aku taruh di sini pakaianmu ya atau ku suruh sekertaris ayahku membelikan pakaian untuk mu" katanya tertawa sambil meletakan pakaian Mutia di atas ranjang.
Mutia mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi sambil terus memegang selimut yang membalut tubuhnya. tak lama kemudian terdengar gemericik air dari kamar mandi. Setelah beberapa saat ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian seragamnya.
Riko pun mengajak ke meja makan yang sudah 2 box nasi kotak. Lalu mereka pun makan bersama, Riko menyampaikan pesan Ayahnya sambil menyuap makanan ke mulutnya."Kata Deddy 5 hari lagi kita menikah."
"Apa ? 5 hari lagi, kak gimana sekolah ku ?" tanya Mutia.
"Ya tetap sekolah, aku juga sekolah," kata Riko tenang
__ADS_1
"Kalau aku hamil bagaimana?" kata Mutia menatap tajam.
"Homeschooling," kata Riko sambil tersenyum. Mutia hanya bisa diam dan menghembuskan nafas panjang.