
Rio sudah sampai di depan kamar Hira, ia mengetuk pintu kamar itu sambil memanggil nama gadis itu. "Hira, tolong buka, sayang. Ini Om Rio,"
terdengar suara langkah kaki berjalan kearah pintu tak lama kemudian terbuka menampakkan gadis kecil di hadapannya tengah menghapus air matanya. Rio berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Hira. "Hai, Princess. jangan menangis jelek tahu," ejek Rio pada Hira yang membuat gadis kecil itu tertawa.
"Om memberikan tawaran yang menarik untukmu, hari ini kita bersenang-senang, kemanapun kau akan pergi akan Om temani sampai malam, tetapi besok Om harus pergi dan Hira harus menurut dengan apa yang di katakan Ayah dan Bunda, atau Om berangkat sekarang dan Hira harus menurut pada mereka, bagaimana?" tanyanya pada Hira
"Baiklah, dari pada tidak sama sekali," katanya pada Rio
"Nah sekarang ganti pakaianmu dan bawa dua pakaian untuk berganti di tas kecilmu Om tunggu di mobil," kata Rio sambil mengedipkan sebelah matanya membuat gadis itu terkekeh.
Hira mengangguk lalu masuk dan menutup pintunya kembali, lalu ia berganti pakaian dengan outfit santai, memasukan dua buah baju dan tak lupa membawa baju renang, setelah itu di keluar dari kamarnya menuruni tangga di lihat ayah, ibu, nenek dan kakeknya ada di ruang makan Hira berjalan ke arah mereka mencium punggung tangan mereka secara pergantian, lalu giliran ayahnya Hira melihat raut muka ayahnya yang seperti tidak suka dengan apa yang dilakukan tadi, Dantai hanya diam saja. "Ayah maafkan Hira, setelah itu Hira akan patuhi apa yang ayah bilang, tetapi tolong Hira dijinkan untuk pergi," kata Hira
"Kamu yakin bakal bisa mengubah kelakuanmu itu, Hira. Ayah malu pada Om Rio, seolah ayah tak bisa mendidikmu," katanya dengan nada kecewa.
"Ya, Ayah, Bunda mana, Yah?" tanya Hira
sambil melongok ke sana ke mari.
"Bunda lagi sama iyut jangan di ganggu nanti ayah sampaikan," kata Dantai
"Sini cium dulu tangan kakak mu ini," timpal Emir membuat ia mengerucutkan bibirnya sambil mencium punggung tangan Emir, kemudian ia berlari keluar dengan tas punggungnya membuka pintu dan duduk di bangku samping kemudi lalu menutupnya, Rio menoleh ke Hira. "Sudah pamit?" tanyanya dengan lembut.
"Sudah, Om. Ayo berangkat!" kata Hira penuh semangat. Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang keluar dari vila menembus jalanan kota malang.
Anta berada di kamar nenek setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ia pun masuk. "Hello Nenekku sayang, aku sangat rindu pada Nenek," katanya.
__ADS_1
"Apa itu kau Anta?" tanya Nenek
"Iya, ini aku, Nek," jawab Anta.
"Ku dengar kau sudah bisa melihat lagi, Nenek sangat senang, Nenek selalu berdoa agar kau di beri cahaya lagi sebelum azal menjemputku, Nak," kata nenek pada Anta.
"Nenek jangan bicara seperti itu aku ingin nenek selalu sehat mendampingiku melihat Cicit-cicit tumbuh besar," kata Anta sambil memeluk tubuh tua itu.
Nenek tersenyum. "Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti sayang, harapan nenek akan selalu sehat bisa melihat mereka, tumbuh besar tapi jika tidak bisa nenek sudah merasa bahagia karena, saat ini kau bisa menatap duniamu dengan indah," kata nenek pada Anta.
"Tapi Nenek harus berjanji padaku lebih bersemangat yaa," kata Anta pada neneknya itu.
...----------------...
Di tempat yang lain di Surabaya di rumah Rio, menampakan kecemasan di wajah ayu Jasmine, sang mertua datang ke rumah untuk mengadakan syukuran tujuh bulanan, sementara Rio tidak ada di rumah.
"Bang Rio benar-benar gak pulang, Mbak, lalu bagaimana aku mengatakan pada papa dan mama? Kalau dia datang, Mbak," kata Jasmine
Tak lama kemudian suara bel rumah berbunyi menandakan ada tamu di luar, Jasmine berjalan dengan hati tak menentu, dengan langkah perlahan dan hati was-was ia berjalan kedepan, lalu di bukanya pintu. Wanita dan pria paruh baya berdiri di depannya mengucapkan salam lalu dijawab olehnya.
"Masuk Ma, Pa!" pinta Jasmine.
Mereka masuk dan di sofa ruang tamu. "Mana Rio, Jas?" tanya Rahanda ayah Rio.
"Maaf Pa, Ma, Bang Rio belum pulang masih ada urusan bisnis di luar kota," kata Jasmine menutupi keberadaan Rio.
__ADS_1
"Jas, apa kau kira kami tidak tahu kalau keadaan rumah tanggamu tidak baik-baik saja, kami tahu tidak usah kau tutupi lagi, cepat kamu telpon sekarang juga!" perintah Rahanda pada Jasmine, menantunya itu.
Jasmine menekan nomer Rio melakukan panggilan berkali-kali namun tak ada sautan.
"La ini terus acaranya bagaimana toh, Ndok?" tanya Mutia pada menantunya itu.
"Kemarin 'kan Jasmine sudah bilang sama Mama kalau acaranya sederhana saja, nanti malam, Ma. Mungkin saja nanti malam abang datang," kata Jasmine.
"Berarti nanti malam kita datang lagi kesini, gitu toh Nduk? tanya Mutia.
"Kalau Papa sama Mama, gak keberatan tunggu di sini saja sampai acaranya di mulai, semoga saja nanti malam Bang Rio, datang," kata Jasmine.
"Bagaimana, Pa?" tanya Mutia pada suaminya
"Ya, sudah Mama dan Papa nunggu sini sampai acara di mulai, tapi kita gak bawa baju ganti," kata Mutia pada menantunya.
"Sudah saya siapkan jauh-jauh hari Ma, jadi Mama gak usah kawatir. Ayo Ma, Pa, Jasmine antar ke kamar!"
Mereka pun berjalan ke kamar tamu, Jasmine membukakan pintu untuk mereka pun masuk kedalam dan pintu kembali tertutup.
...----------------...
Di tempat lain, di Malang Rio mengemudikan mobilnya di area wisata di mana Hira bisa bermain dan berenang di sana.
Rio masuk di area wisata Jatim Park 1, setelah memakirkan mobilnya, mereka pun keluar berjalan menuju loket pembelian karcis masuk, Rio menggandeng gadis kecil yang begitu nampak ceria
__ADS_1
Rio membeli dua tiket masuk, setelah itu mereka masuk ke dalam dengan meliwati antrian pintu masuk. Hira berlari sambil mengandeng tangan Rio, semua permainan yang boleh di mainkan degan usia Hira pun di mainkan dengan Rio, lalu menuju kolam renang, Rio berdiri agak jauh dan melihat Hira yang sedang bermain air dan berenang dengan lincah, keluar dari kolam menaiki tangga lalu melompat dari ketinggian dengan berbagai gaya, dan banyak lagi Rio menggelengkan kepalanya gadis itu benar- benar mirip ibunya yang menyukai suatu yang extreme yang memacu andrinalin. Rio menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya perlahan. pandangannya menerawang entah apa yang di pikirkan yang jelas saat ini tidak ada nama Jasmine di dalam pikirannya.