Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Amarah


__ADS_3

Mobil berjalan terus, Hira masih memakan pizza walau dengan pelan lama-lama pizza itu pun habis.


Akhirnya sampai di rumah Rio menghentikan mobilnya tepat di depan halaman depan rumahnya.


"Boy, masuk kamar!" perintah Rio pada putra, dan kamu Ra ikut Daddy," katanya sambil melepas sabuk pengamannya.


"Baik, dad," jawab Billal.


Hira, hanya menggangguk lalu berjalan mengikuti Rio yang berjalan mendahuluinya, Rio masuk kamar kemudian menunggu Hira, setelah wanita itu masuk ia pun mengunci pintu kamarnya, tanpa bicara mendekati Istrinya melepaskan pakaian wanita itu sangat kasar.


"Dad?" Hira menatap bingung pada Rio. Namun tak berani membantah. Pria itu melucuti juga pakai dengan sangat cepat ia pun mulai menyerang wanita menjadi istri itu *****4* bibir istrinya dengan sangat kasar mengungkapkan kemarahannya lewat birahinya saat ini


Tangannya meremas bagaian tubuh dengan penuh amarah.


"Dad, sakit! Hik hik hik," adu Hira dengan tangisan


Bukan sakit raga yang di adukan tapi sakit perasaannya ketika sang suami tidak mendatanginya dengan senyuman dan rayuan, sang suami terus bermain di tubuhnya dengan amarah yang masih tertinggal, tak peduli betapa sakitnya saat diperlakukan dengan tak semestinya.


Masih dengan otak yang sedang mengembara mencoba membaca semua apa yang terjadi Tiba-tiba saja benda telah masuk kedalam tubuh bagian bawah dan menggoncang segenap kesadaran, suaminya bergerak liar sesuai dengan insting kemarahannya, Hira menahan rasa sakit dan nikmat luar biasa hingga sang suami mengubah ritme menjadi lembut lalu semburan hangat membasahi rahimnya.


Masih di tengah deru nafas yang memburu dan belum melepaskan tautannya dia berbisik," kau milikku princess tak boleh lelaki lain melihat keindahan, dan hari ini kau menunjukkan di banyak para lelaki, kau tahu apa yang membuatku marah, heem?" tanya Rio lalu mencium lembut istrinya, Hira semakin menangis memeluk leher suaminya.


"Maaf apa sakit?" tanya pada istrinya lalu mencium mata yang telah digenangi air mata itu.

__ADS_1


"om aku lah minta maaf karena tahu kalau itu salah udah deh sekarang apa yang Om mau akan ku turuti, kalau Om tidak suka aku main parkour, aku tidak akan main," kata Hera pada suaminya itu.


"Bukan karena mainnya Hira, tapi kostum itu yang bikin Daddy marah tahu tidak sih kamu?" tanya Rio pada Hira


"Kamu sudah jadi istri Daddy apa yang kamu lakukan pasti akan berdampak pada Daddy juga, jadi tolong batasi kegiatan yang memang akan mengekspos keindahan tubuhmu, kamu tahu berapa banyak lelaki mengagumi tubuh indah itu, kamu tidak akan tahu seberapa besar terbakarnya hati Daddy?"kata Rio lagi sambil mengulum dan *****4* bibir Hira dengan lembut.


"Aku tahu kamu ingin menunjukkan keahlianmu pada Daddy, tetapi jika itu harus menunjukkan keindahan tubuhmu Daddy tidak mau Hira kau mengerti?" tanya Rio mulai mencumbu istrinya dengan lembut kemarahannya meredah seiring kenikmatan yang di dapat dari tubuh sang istri.


Kembali bergerak, degan lembut bibirnya bergerak dari bibir indah sang istri turun ke leher, terus turun hingga benda Kenyal menjadi kesukaannya, bermain di sana sambil badannya terus bergerak mengikuti gairahnya, terusan bergerak hingga yang istri mulai terlena dengan permainan sanga suami lenguhan lirih terdengar dari bibir indah kemudian erangan keluar dari bibir mereka kembali semburan hangat membasahi rahim istrinya.


Cium lembut mendarat di kening Hira, lalu menggulir tubuhnya ke kanan menatap wajah cantik nan jelita,


"Apa tadi sakit?" tanyanya lagi


"Lalu Kenapa diam?" tanya Rio dengan tatapan lembut.


"Takut, Om tak pernah semarah itu pada Hira, itu sebabnya Hira tidak bisa berkata-kata lagi pada Om," kata Hira.


"Maaf jika kau ketakutan, Hir. Bukan maksud Daddy membuatmu takut, entah Daddy tak ingin orang lain mengagumi mu cukup Dadi seorang saja, ada permintaan dari daddy, bisakah kau meninggalkan olahraga itu, Hira? Bukankah kamu sudah lama bermain ini apakah kau belum puas?" tanya Riko.


"Sebenarnya Hira masih suka bermain parkour, Dadd tetapi jika Daddy melarang maka aku akan berhenti," kata Hira


"Apa bermain seperti itu harus kostum semacam itu? Apa tidak bisa kostum tertutup?" tanya Rio dengan hati gusar.

__ADS_1


"Boleh si Dad, tetapi Hira gerah Dad kalau pakai baju tertutup, kan lompat-lompat, kadang lompatan jadi gak maksimal," kata Hira terkekeh.


"Yaa, kalau begitu ya gak usah saja, lebih gak usah main parkour saja, Daddy gak mau tubuh ini dilihat para Pria," kata


melepaskan pelukannya kemudian ia turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Dia mengguyur tubuhku dengan shower mungkin dia sedikit keterlaluan tapi entah kenapa di begitu sangat marah seperti kepala tersengat listrik.


Beberapa menit kemudian dia menyudahi mandi dan membalut tubuhnya dengan handuk sebatas pinggang dan lutut.


Lalu menyiapkan air hangat di bathtub, dia tuangkan sabun cair dan aroma terapi kemudian diperiksa kadar hangat airnya setelah itu dia pun keluar dari kamar mandi berjalan menghampiri istrinya yang sudah tidak punya tenaga karenanya.


Rio menggendong Hira masuk ke kamar mandi." Apa Daddy tadi gak merasa bau saat itu sama Hira? Padahal Hira kan lagi berkeringat?" tanya Hira pada Rio


"Justru kamu berkeringat itu yang bikin tambah seksi jadi pengen bawa kamu ke kamar tidur," kata Rio terkekeh.


"Yang tadi serius loh Ra, Daddy gak ijinkan kalau bajumu seperti tadi," katanya pada Hira sambil menurunkan tubuh istrinya di bathtub.


"Iya, Hira ngerti kok, Daddy gak mandi lagi sama Hira?" tanyanya sambil mengerucutkan bibirnya dan dengan cepat disambar oleh Rio.


"Kalau kau ajak mandi bersama, nanti, Daddy malah minta nambah, waktu duhur tinggal sedikit, Ra. Cepat mandi habis itu sholat duhur dulu!" kata Rio pada Hira.


Rio pun keluar dari kamar mandi dan masuk dalam walk in kloset, berganti pakaian dengan baju koko dan sarung serta menunggu istrinya keluar.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Hira keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk sebatas dada dan pahanya dia berjalan sedikit tertatih, menuju walk in kloset lalu memakai baju terusan berbahan dingin lalu dia keluar dengan membawa mukena dan sajadah serta mengambil shaf di belakang suaminya lalu menggelar sajadah serta memakai mukenanya setelah di lihat sang istri sudah siap Rio pun mulai memimpin shalat sholat duhurnya.


__ADS_2