
Hira mengandeng tangannya dan mengajaknya duduk di atas ranjang, lalu berbaring dan meletakan kepalanya di pangkuan Sang Bunda, kemudian mengambil jemari tangan bundanya dan menempelkan ke wajahnya. "Bunda Hira sudah besar," katanya sambil mengerakan tangan Bundanya keseluru wajahnya.
"Maafkan Hira, Bun," katanya sambil melihat wajah sang Bunda yang cantik dengan mata biru milik sang nenek yang memang berdarah campuran.
"Apa sebegitu rindunya kamu sama om Rio? Hingga jika tidak bisa bertemu membuatmu tersiksa dan ingin marah?" tanya Anta pada putrinya.
Hira mengangguk. "Aku tidak tahu Bun, ketika aku sudah bertemu dengan om Yo rasanya seluruh semangatku bangkit, bahkan aku akan bisa menciptakan nada-nada di tust-tust pianoku, jika tidak bertemu rasanya malas untuk melakukan apapun, Bun,"kata Hira pada Anta.
"Apa rasanya seperti tidak bertemu Ayah?" tanya Anta pada putrinya itu.
"Tidak, lebih dari itu, Bun. Apa karena Hira sudah lama tidak bertemu? Sehingga sangat merindukan Om Yo," kata terkekeh.
"Yaa, mungkin saja begitu, sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengannya, Sayang?" tanya Anta lagi mencoba memahami isi hati putri dan tidak menghakimi biar jalan takdir yang berbicara dengan apa yang menjadi keinginan putrinya.
"Sudah satu tahun lebih, Bun," jawabnya pada Bunda
"Oh, sudah satu tahun, yaa? Bahkan Bunda tidak pernah tahu berapa tahun yang telah kita lewati," katanya sambil tertawa menertawakan dirinya sendiri.
"Bunda jangan bilang begitu, jika bunda tidak tahu nanti Hira yang kasih tahu Bunda," kata Hira bangkit dari tidurnya dan mencium pipi Bundanya itu.
Terdengar suara langkah masuk kedalam kamar membuat Hira mengalihkan tatapannya pada lubang pintu yang tertutup. Dengan senyum manis Dantai kepada Hira membuat mata gadis itu berbinar, dia pun meloncat turun berlari memeluk sang Ayah. "Trimakasih, Ayah. Benar, Bunda tidak marah pada Hira," katanya dengan tertawa sangat riang.
__ADS_1
Dantai menggendong Putri kecilnya. Membawanya menghampiri Anta dan menurunkan putri kecilnya itu di atas ranjang. "Putri Ayah sudah besar apa masih yaa?"tanya Dantai sambil memeluk kedua wanita yang disayanginya itu. "Hira sudah besar dong, Yah," katanya tersenyum.
"Oh, yaa kenapa Ayah lupa kalau putri ayah sudah besar." kata Dantai pada Hira dan semua tertawa. "Ayah, Bunda Hira kembali ke kamar Hira yaa?" pamitnya dan mereka pun mengangguk.
Hira pun turun dari ranjang orang tuanya lalu berlari keluar. Dantai hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia menoleh pada Istrinya. "Menurut Bunda apakah yang di alami Hira itu wajar-wajar sajakah?" tanyanya sambil memeluk istrinya itu.
"Bunda juga tidak tahu, Yah. Sepanjang pengamatan Bunda seperti seorang gadis remaja yang sedang jatuh Cinta tetapi bukankah dia masih kecil, Bunda juga gak tahu, Yah," kata Anta pasra.
Hira sudah berada di kamarnya, dia kembali mengunci pintu kamarnya.
Lalu, mengambil handphone-nya. Dia menekan panggilan video untuk Rio, dia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menunggu panggilannya direspon oleh pria dewasa teman ayahnya itu. Suara, wajah dan senyumnya semua itu ia rindukan selalu, ia tak pernah tahu apa yang telah dirasakannya itu, yang ia tahu jika ingin bertemu maka harus bertemu, entah lewat video call atau apalah, semua itu tidak dia dipedulikan.
...----------------...
Ada sebuah ruang kecil diantara ruang kerja dan ruang privasi yang di dalamnya terdapat lemari pendingin dan kitchen set mini ada beberapa gelas dan mangkuk di sana dan makanan instan di dalam lemari ataupun di dalam kulkas
dan ada pula minibar di sana, untuk sekedar menikmati kopi panas dan semangkuk mie kuah mau pun goreng
Secangkir kopi dan semangkuk mie kuah sudah masak, diletakan di meja mini bar, lalu ia menarik kursi dan duduk di depan makanan yang telah di masaknya. Dia pun mulai menikmati makanannya, di sinilah dia menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan dan tanpa tuntutan untuk hati bisa menerima yang tidak diinginkannya. Beberapa menit kemudian mie kuah dalam mangkuk telah tandas. Ia beranjak dari tempat duduknya pergi ke ruangan privasinya untuk mengambil handphone-nya, alangkah terkejutnya ia melihat panggilan video 15 menit yang lalu.
__ADS_1
Dia tersenyum membawanya ke ruangan minibar dan duduk di sana sambil menyesap kopinya yang tak lagi panas. Diletakkan handphone-nya Dia ingin tahu seberapa besar princess kecilnya ingin menghubunginya, lima menit kemudian terdengar nada dering lagu kesukaannya yang menandakan princess kecilnya tengah menghubunginya, segera diterimanya panggilan video itu. Nampak jelas wajah cantik memenuhi layar handphone-nya dengan senyum khasnya dua lesung pipit yang dalam menambah kecantikannya suara tawa terdengar jelas di telinganya. "Assalammualaikum, Omku yang tampan lagi di mana?" tanyanya pada Rio.
"Coba tebak Om ada di mana?"katanya pada Hira sambil menggerakkan alisnya.
"Di mana yaa? kalau di rumah gak mungkin deh Om, dapurnya gak mungkin sekecil itu."
Rio tertawa. "Emang kecil yaa?" tanyanya pada Hira. Gadis kecil itu mengangguk lucu. "Itu bagusnya buat rumah-rumahan, Om," katanya dengan mimik yang lucu. Rio kembali tertawa dan lebih keras dari sebelumnya.
"Boleh jika Hira ke Surabaya, boleh deh main rumah-rumahan di sini, tapi Hira gak boleh masak sendiri nanti biar Om atau Ayah yang buatkan," kata Rio sambil tersenyum.
"Harus sama Ayah?" tanyanya lagi.
"Iya, karena Hira masih kecil dan harus di dampingi orang tua."
"Bukankah Om juga orang tua?"tanya Hira sambil mengerucutkan bibirnya.
Rio terkekeh. "Ya ... yaa, kau benar Om orang tua, beberapa menit yang lalu Om lupa kalau Om orang tua." Hira tertawa riang. "Maaf, Om bukan ngatain Om sudah tua, maksudnya, Om, 'kan orang tua jadi bolehlah Hira cuma berdua sama Om." Rio menelan salivanya ia sedikit merasa tidak enak jika tidak ada Dantai yang menemani Hira. "Ijin dulu yaa, nanti sama Bunda dan Ayah," kata Rio sambil tersenyum.
"Ok! Janji yaa, Om. Kalau dapat ijin Om harus teman Hira dan ajak kesitu, Hira mau buat gaduh," katanya terkekeh.
Rio pun tertawa. "Waduh, emang mau bikin apa kamu di dapur Om."
__ADS_1
"Mau bikin masak-masakan," katanya tanpa rasa bersalah, dan Rio hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah puas berbincang-bincang Hira menutup panggilan video call-nya.