Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Petaka Dalam perjalanan


__ADS_3

Rio menghelah nafas, dia pun berfikir akankah ia hidup bersama Jasmine wanita yang tidak membuatnya tertarik hanya sekedar memeluknya, bahkan malam pertama tak membuatnya merindukan wanita itu mungkin hanya sekedar keinginan syahwatnya adalah alasan untuk mendatangi istrinya itu.


Rio menghabiskan mie dan kopinya lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kantornya, lalu berjalan menuju area parkir kemudian masuk kedalam dan melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke rumah, tak seberapa lama ia sudah sampai di rumahnya dengan langkah tergesa ia memasuki ruang tamu yang begitu lengan hingga salamnya saja harus dijawabnya sendiri, ia bergegas ke kamar Jasmine dan ternyata tidak di kunci, dia melihat istrinya itu berdiri di depan jendela kaca kamarnya entah apa yang dilihatnya yang jelas saat itu Jasmine tidak mendengar salam dari suaminya. Rio memeluknya dari belakang dan berbisik. "Aku menginginkannya malam ini, penuhi hasratku katanya sambil menciumi leher dan telinga istrinya yang menjadi titik kelemahan Jasmine.


Tak lama kemudian tirai telah ditutup dan lampu dipadamkan maka terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi Rio menuntaskan hasratnya kepada Jasmine istrinya setelah sekian lama meredamnya dengan kesibukan di kantornya. Entah kenapa ketika bertemu dengan Hira hasrat lelakinya tak bisa lagi dia tahan dan dia tuntaskan pada istrinya itu hingga tiga kali berturut-turut.


Jasmine menitikkan air matanya bukan karena dia bahagia sang suami mendatanginya tapi karena suaminya menyebut nama wanita lain dalam pergumulan dengannya. Yaa, suaminya akan mendatanginya saat pria itu merindukan wanita lain dan bukan dirinya.


Setelah melampiaskan hasratnya ia selalu mengatakan maaf dan mencium kening Jasmine lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu dia pun akan kembali keluar rumah entah kemana Jasmine tidak pernah tahu. Sebagai istri dia tak akan menolak keinginan suaminya itu walaupun ia hanya sebagai wanita pengganti, tak ada ruang sedikitpun di hati pria itu.


Di kediaman Salva dan Aril di mana keluarga Dantai menginap. Setelah makan malam Hira menyampaikan keinginannya pada ayah untuk pergi dengan Om Rionya di pagi harinya karena menurut dia waktu yang di berikan ayahnya sangatlah kurang.


"Yah, Hira minta ijin dong untuk pergi dengan Om Rio besok pagi," ijinnya pada Ayahnya.


Ra, besok itu kita akan pergi ke malang, Bunda ingin kesana?" kata Dantai pada putrinya itu.


"Sebenarnya Ayah itu ajak liburan kita ataukah Bunda sih? Kalau mau ajak liburan Bunda kenapa harus ajak Hira?" protesnya lalu beranjak dari duduknya, ia berlari menuju kamarnya, Dantai menghelah nafas. "Rasa semakin hari semakin keras kepala dia," gerutu Dantai merasa sudah hampir hilang kesabarannya.


"Sabar, Bang. Dekati pelan-pelan," sarang Aril


Dantai tertawa. "Telingaku terasa aneh saja saat kamu sebut, Bang."


"Ahhh, Kau ini merepotkan! aku sebut namamu katanya sama kakak ipar gak sopan saat ku panggil, Abang. Kau tertawa kata Aril jengkel.


"Iya,aku mintak maaf Adik Ipar.," kata terkekeh.

__ADS_1


Setelah makan malam ia berbincang-bincang hangat di ruang tamu dengan Aril tanpa menghiraukan Putrinya itu. Dia pikir sekali-sekali harus membiarkan sang putri mengikuti aturan, bukan dia yang selalu mengalah untuk menuruti keinginan anaknya.


Hira yang berada di kamar merasa sedih keinginan hati tak terpenuhi. Dan ia harus mengikutinya keinginan Ayahnya, dia menangis hingga tertidur.


sementara Emir yang sedang bermain game dengan Izyan, sudah merasakan kantuk hingga ia berpamitan untuk pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya.


...----------------...


Keesokan harinya setelah melaksanakan sholat subuh mereka pun sarapan pagi, Dantai menatap Putrinya dengan tajam. "Belajarlah untuk tidak membantah orang tuamu, Ra!"


"Ya, Ayah. Aku tak akan membatah," jawabnya dengan masih menyuapkan makanan di mulutnya.


"Baiklah, sudah kau persiapkan kebutuhanmu, Ra?"tanya Dantai


Dantai menghembuskan nafasnya pelan. Ia sedih karena Hira seolah tidak bisa menerima apa yang di perintahkan.


Pak To, sudah memasukan semua koper dalam bagasi. Anta duduk di belakang bersama kedua Anaknya.


Dantai pamit pada Aril dan Salva lalu masuk ke dalam dan duduk di bangku kemudi, mobil pun berjalan meninggalkan rumah melaju di jalan raya.


Perjalanan begitu lancar dan menenangkan hingga sampai di kawasan batu malang dengan jalanan yang turun naik hingga sebuah mobil yang berjalan tak tentu arah menabrak d mobil Dantai dari kiri lalu terguling ke jurang, sementara mobil Dantai menabrak tebing.


Pak to dan Dantai tidak terluka para, begitu Emir sementara Anta yang melindungi Hira terbentur tebing kaca pecah Dantai kalut karena Anta pingsan dan pelipis kiri berdarah.


Dantai menelpon Ambulans tak seberapa lama Ambulans dan polisi datang seketika itu jalanan di block beberapa mobil di alihkan dan Ambulan membawa Anta dan dan juga keluarganya sementara mobil yang masuk jurang itu masih dalam evaluasi

__ADS_1


Hira dan Emir menangis tiada hentinya menangis, cemas, dan takut akan terjadi apa-apa dengan Bundanya.


Mobil ambulance telah sampai di rumah sakit dan Anta telah di bawah keruang ICU beberapa alat di pasang di tubuhnya. Dantai menelpon Aril mengabarkan bahwa mobil mereka mengalami kecelakaan sayangnya Salva pun kontraksi mengharuskan Aril membawa istrinya ke rumah sakit Izyan di bawah pengasuhan Bik Mirna.


Aril pun menelpon Rio dan share lokasi di mana Anta di rawat segera Rio pun memacu mobilnya menuju kota malang.


Dua jam perjalanan Rio sampai di rumah sakit lalu menemui Dantai dengan langkah lebarnya di peluk pria yang menjadi sahabatnya itu.


"Yo, tolong anak-anak bawah ke vila," pintanya pada sahabatnya.


"Baik Dan, akan ku antar anak-anak ke vila," jawabnya pada Dantai.


Rio memeluk ke dua anak itu. "Ayo aku antar ke vila biar Ayah kalian tenang di sana kalian juga harus berdoa untuk kesembuhan Ibu kalian.


Mereka pun mengangguk Rio mengandeng ke dua anak-anak itu menuju mobilnya mereka masuk dan Rio melajukannya dengan kecepatan sedang.


Sampai di Villa jam 11.00, Rio menitipkan kepada Bik Ija dan pak Man kemudian ia kembali ke rumah sakit menemani Dantai.


Rio memacu mobilnya kembali, dan beberapa menit kemudian ia telah sampai ke rumah sakit. Dantai terlihat berbicara dengan seorang dokter dengan sangat serius.


Setelah itu ia pun duduk, di kursi tunggu.


"Bagaimana? Apa kata Dokter? Katakan Dan?"


"Tidak bisa lakukan apapun sebelum Anta sadar," katanya sembari menghilangkan rasa kalutnya. Terdengar adzan dhuhur. Rio pun menyuruhnya untuk sholat dulu, setelah Dantai selesai berganti dengannya. Datai bergegas berjalan ke masjid.

__ADS_1


__ADS_2