Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Pernikahan Narti da Sofyan


__ADS_3

Sofyan menelan salivanya sendiri dan merasa ngeri dengan apa yang di katakan tuannya. "Den Rio gak sungguh-sunggu bilang begitu kan?" tanyanya pada tuannya.


"kata siapa gak sungguh- sungguh? Enak aja habis pegang-pegang dan cium terus mau pergi dan nikah dengan orang lain," katanya dengan aura membunuh.


Tak seberapa lama handphone Sofyan berbunyi. Rio menatap pada sekuritinya itu. "Jika ibumu yang bicara, katakan suruh berikan surat-surat yang diperlukan untuk mengurus pernikahanmu pada Yudi," katanya sambil berlalu pergi mencari Narti.


"Mbak mana suratnya?" tanyanya pada pembantunya yang dari kecil sudah akrab itu.


Narti keluar membawa surat-surat yang dibutukan sambil menyeka air matanya.


Den Rio lebih baik tidak usah menikah saja, jika orang tuanya tidak setuju. Sungguh den, saya masih suci dia belum menggambil milik saya yang paling berharga," katanya sambil menunduk tajam.


Jasmine yang baru keluar dari kamar, bingung kenapa mbak Narti menangis.


"Mas Yo, ada apa ini mbak Narti kok nangis?" tanya Jasmine.


"Mbak Narti pacaran sama Sofyan, sudah di pegang segalanya dan diciumi, tak suruh nikah, ibunya Sofyan malah mau jodohkan dia dengan anak pak kaji. Apa aku ngak marah? Mbak Narti ini sudah seperti mbak ku sendiri loh, Jas.


Mana bisa aku diam dia diperlakukan begitu ." kata Rio sambil membawa surat- surat keluar menemui Sofyan kembali.


"Mas Yo benar Mbak, harusnya kalau Mas Sofyan gak sungguh-sungguh sama Mbak Narti gak boleh begitu," kata Jasmine sambil memeluk ARTnya itu.


"Saya tahu Non, tapi saya tidak ingin menjadi duri dalam daging, seperti ibunya mas Sofyan menilai dengan harta, saya gak mau dia menikahi saya karena saya punya harta warisan dari si mbok, toh dia belum benar-benar menodai saya Non," katanya pada Jasmine.

__ADS_1


"Baiklah tenanglah aku yang akan bicara pada Mas Rio dan Sofyan," kata Jasmine pada Narti.


Ia pun berjalan keluar menyusul suaminya yang menemui Sofyan.


Terdengar oleh Suaminya itu mencerca sekuritinya dengan banyak pertanyaan dan argumentasi yang menyudutkan. Jasmine pun memutuskan untuk menjadi pendengar karena ia percaya suaminya itu akan memutuskan yang terbaik untuk orang yang telah di anggapnya kakak. Sebenarnya mbak Narti juga bukan orang yang bisa di remehkan begitu saja, ia bisa bekerja di perusahaan suaminya sesuai dengan ijasahnya tapi ia memilih menemaninya di rumah ini dengan gaji fantastis.


Gaji dia hampir sama dengan Yudi asisten suaminya itu.


"Sekarang aku tidak memaksamu, kau boleh memilih siapa yang kau nikahi dan tinggalkan rumah ini! Saya akan suruh Mbak Narti tinggal dengan orang tua saya selama saya pergi bersama istri saya," katanya.


"Jangan Den! Saya benar-benar mencintai Narti, Den. Saya akan menikahinya Ibu saya sudah setuju," katanya sambil menunduk.


"Mbak Narti ngak mau, jika ibu setuju karena hartanya," kata Rio dengan menatapnya tajam.


"Baiklah kalau begitu saya legah, ingat Sofyan kamu sebagai lelaki harus bisa melindungi istri kamu nantinya." kata Rio.


Tak seberapa lama kemudian mobil datang, dan keluarlah Rahanda dan Mutia dari dalam Mobil.


"Ada apa kok kamu menyuruh kami kemari?" tanya Rahanda pada putranya lalu Rio menceritakan semua yang terjadi tanpa dikurangi sedikit pun dan meminta ijin untuk pergi Babymoon bersama sang istri.


Rahanda sangat senang dengan keputusan putranya, dan segera menyuruhnya berangkat.


"Ya, sudah sana berangkatlah, masalah di sini biar Papa dan Mama yang mengurus." kata Rahanda

__ADS_1


Rio menoleh pada Istrinya," Sudah siap semua, sayang?" tanya Rio padanya. membuatnya terkejut, lalu tersenyum dan mengangguk. Pasalnya Rio tidak pernah memanggilnya semesra itu, apa karena ada orang tuanya di sini, Jasmine sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu apa pun alasannya dia saat ini sangat bahagia.


Rio memberikan surat-suratnya Mbak Narti pada pada Papanya ia sendiri pergi ke kamar sambil mengandeng istrinya dan tak lama kemudian dia keluar kembali dengan kaos dan jins yang membalut tubuhnya sambil membawa koper. Mereka pun berpamitan pada Rahanda dan Mutia kemudian sopir Pak Rahanda mengantarkan ke Bandara.


Tak lama setelah kepergian mereka, Rahanda dan Istrinya menyiapkan pernikahan Sofyan dengan Narti sebaik mungkin.


Kemudian Yudi datang dengan wanita paruh baya yang tidak lain ibunya Sofyan.


Semua perlengkapan pernikahan di pesan dengan sangat mendadak di butik langganan mutia dengan harga yang fantastis juga.


"Nya ini terlalu berlebihan untuk saya," katanya.


"Nggak apa-apa, kamu pantas mendapatkannya, mbok Sripah ibumu itu sudah ku Anggap sebagai ibuku sendiri jadi tidak usah sungkan padaku," katanya sambil menatap anak pembantunya itu.


Penghulu sudah datang dan tetangga sekitar juga sudah pada datang makanan pun sudah siap dipesan di restoran yang menjadi langganan di kantor Rio, semua masalah penghulu, ketering dan lain-lain Yudi yang mengurusnya. sementara untuk baju pengantin dan Mua, Mutia yang mengurusnya.


Terdengar hijab kabul di ucap dengan lantangnya dengan mas kawin sebesar 5 juta rupiah gajinya bulan ini.


dengan jalan perlahan bu Mutia menggandeng tangan Narti membawa kedepan dipertemukan oleh suaminya, Gaun pengantin yang indah dengan menonjolkan lekuk tubuhnya, dan memperlihatkan sedikit belahan dadanya serta rias wajah yang natural membuat Narti sangat cantik, Sofyan menelan salivanya sendiri menatap wanita yang telah sah beberapa menit yang lalu.


Ibunya Sofyan yang bernama bu Sofiyah itu, tertegun melihat kecantikan dari menantunya itu ia berjalan dengan cepat mendekati Narti, lalu memeluknya. "Oalah Nduk, lah cantiknya kayak gini makanya anakku gak mau sama yang lain. Maaf ya sebelumnya Ibu gak setuju sama kamu karena banyak berhutang budi pada pak haji yang menjodohkan putrinya dengan Sofyan, Sekarang semua terserah sama Sofyan kalau dia suka sama kamu ibu juga senang. Sofyan menghelah nafas prosesi setelah akad di potong dengan seponsor ibunya yang saling berpelukan dengan Narti.


Setelah selesai mengucapkan maaf pada menantunya itu, ia pun mundur dan prosesi dilanjutkan dengan Narti yang mencium punggung tangan Sofyan kemudian pria itu mencium kening Narti lalu langsung memeluknya erat membuat yang hadir tertawa.

__ADS_1


Yudi mendekati mempelai memberikan tiket menginap di hotel selama tiga hari terhitung hari ini.


__ADS_2