Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Emir dan Hira


__ADS_3

Rena dan Andi hanya geleng-geleng kepala melihat ulah cucu-cucunya itu.


"Tadi mengajak mereka kemana Pi?" tanya Rena pada suaminya.


"Ke Mall, Mam. Mengajak mereka bermain, kasihan juga anak-anak itu jarang bertemu dengan Ayah dan Bunda, sekali pergi hanya dengan ayahnya Dantai, karena Anta tidak mau, takut anak-anak mendapatkan masalah, diejek teman karena ibunya buta." kata Andi dengan pandangan menerawang jauh ke masa lalu.


Rena memeluk suaminya. "Anta hanya melindungi anak-anaknya agar tidak terjadi masalah, dia sangat tegar dalam menghadapi hidupnya, Kau lihat sendiri bukan, perusahaan semakin besar di pimpin olehnya."


Andi mengangguk. "Aku gagal menjadi orang tuanya Mam, dia buta karena kesalahanku, andai aku tak mengijinkannya untuk menekuni balapan yang menjadi kesenangannya,


"Aku ingin cucu-cucuku seperti Dantai, ayahnya. Aku melihat Emir sama seperti Dantai dan Anta, mempunyai bakat melukis dan bermain piano."


"Semoga saja kita dapat mendidik mereka dengan baik menjadi pribadi yang lebih baik." kata Rena pada suaminya sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Andi dan Rena menikmati waktu diruang keluarga sambil melihat televisi, sedangkan nenek berada di kamarnya sedang duduk bersandar di sandaran ranjang.


Tiba-tiba suara gaduh kembali mengusik kemesraan mereka dua cucu sudah berada di ruangan tengah di mana mereka berada. "Cie-cie nenek dan kakek pacaran," kata mereka serempak.


"Eh, sini kalian berdua," kata Andi sambil tertawa.


Emir dan Hira duduk di tengah-tengah mereka sambil tertawa.


"Iyut mana, Kek, Nek?"


"Ada di kamar lagi istirahat jangan ganggu yaa, Iyut sedikit kurang enak badan," kata Andi kepada cucu-cucunya.

__ADS_1


"Baik, Kek. Kami akan ganggu Kakek dan Nenek saja ya Kak." Hira tertawa.


Andi dan Rena menggelitik mereka berdua hingga terdengar gelak tawa mereka dengan riangnya.


Tibalah mereka di depan kamar, dengan berjinjit meraih gagang pintu lalu mereka membuka dengan perlahan dan terlihat Iyutnya berbaring sambil bersandar di sandaran ranjang tengah melihat televisi.


Emir dan Hira pun mengucapkan salam. Iyut pun tersenyum melihat mereka. "Kemari, Cicit-cicit Iyut. Iyut kangen sekali, baru pulang dari sekolah?" tanya Iyut pada bocah itu. Emir dan Hira pun berlari kemudian naik keranjang Iyutnya, ikut berbaring di sana Emir sebelah kanan dan Hira sebelah kiri, tangan-tangan kecil itu memeluk tubuh Iyut lalu menjawab dengan serentak.


"Sudah dari tadi Iyut lalu kami pergi ke Mall bersama kakek dan bermain di sana seruh sekali, kemudian kami makan di Restoran Korea." Iyut tersenyum rasanya dia ingin kembali muda untuk bisa melihat mereka tumbuh dewasa.


Suara mobil terdengar dari luar. Mereka meninggalkan kakek dan nenek menuju ke depan rumah menengok siapa yang datang. Mobil terparkir di halaman rumah yang luas Anta dan Dantai keluar sudah disambut sang Anak Emir dan Hira.


Hira melompat ke arah Dantai, dia pun menangkap putrinya sementara itu Emir menggandeng tangan Anta. "Hai kau tidak ingin di gendong Bunda mu seperti Hira adikmu"


Hira melompat dan Dantai menangkap putrinya itu gelak tawa terdengar dari mulut si kecil, sementara itu Emir mengambil tangan Bundanya mengandengnya berjalan menuju ke dalam rumah.


Emir menggeleng. "Aku anak laki-laki, Bun. Jadi harus jaga Bunda dan Adik." Anta tertawa ketika mendengar jawaban Emir.


"Bagaimana caranya jaga Bunda?" tanya Anta berjalan bergandengan dengan putranya.


"Dengan menggandeng tangan Bunda seperti ini, menunjukkan jalan pada Bunda di mana bunda berada, mata Emir akan jadi mata Bunda untuk melihat dunia, Emir sayang Bunda, bangga dengan Bunda." Emir menatap wajah Bundanya dengan mendongakkan kepalanya ke atas.


Buliran air mata menetes di pipinya. "Bunda jangan Nangis, Emir buat Bunda Nangis yaa."


Anta berhenti berjongkok di depan putranya itu, menangkupkan tangannya di kedua pipi putranya itu. "Kamu, putra Bunda yang paling hebat." katanya sambil mencium kening Emir.

__ADS_1


Emir menatap Bundanya yang terlihat lelah. "Apa Bunda lelah?"


"Hem, sedikit." Anta tersenyum dan berdiri lalu kembali berjalan dengan putrinya itu.


Emir menggeret tangan bundanya. "Biar Emir pijat ayo kita ke kamar."


Emir berjalan di depan tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Bundanya, menuju kamar lalu menyuruh Bundanya untuk tengkurap di ranjangnya kemudian dia mulai memijat tubuh Bundanya dengan kaki kecilnya.


Hira masuk bersama dengan Ayah minta di turunkan di atas ranjang lalu Dantai menurunkan putrinya tepat di samping Anta tengkurap.


"Hira, pijat kaki Bunda, yaa." Hira mulai memijat paha Anta tanpa menunggu persetujuan Bundanya.


Dantai tersenyum melihat begitu sayang putra-putrinya terhadap Bundanya. Dia membuka lemari mengambil baju dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa menit kemudian dia keluar dengan telah memakai pakaiannya melihat kamarnya sudah sepi putra-putri sudah keluar dan Anta duduk di bibir ranjang dengan kaki menjuntai di lantai.


Dantai menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu menghampiri Anta mencium bibir Istri dengan sangat lama lalu menatapnya. "Kenapa, apa yang bunda pikirkan?" Anta menyentuh dan meraba wajah Dantai.


Aku tak pernah mengenal wajah ini lagi Dan." Dantai tersenyum. "Kenapa kau merubah panggilanmu? dulu kau suka panggil aku Afif, kenapa berubah."


Anta terkekeh. "Entahlah Dan, panggilan ini begitu akrab di telingamu bukan, semua orang memanggilmu Dantai, seolah itu bagian dari dirimu, aku ingin menjadi bagian dirimu." Dantai tertawa. "Boleh asal jangan kau panggil aku Tai-Tai."


Anta tertawa. "Kau mengingatnya?" Dantai mengangguk. "Iya, satu minggu yang lalu, aku mengingat masa lalu kita, Bun. Ku harap Bunda mendapatkan pengelihatan Bunda suatu saat nanti."


"Ya, semoga Allah mengembalikan pengelihatanku kembali." kata Anta sambil terpejam mengingat masa yang indah saat ia masih bisa melihat.

__ADS_1


"Bun, Mandi sana! Aku akan siapkan pakaian Bunda," kata Dantai sambil mencium bibir Anta sekilas. Anta berjalan menuju kamar mandi sambil berkata," jangan ambilkan pakaian yang aneh-aneh ya malu sama anak-anak."


Dantai tertawa mendengar jawaban istrinya.


__ADS_2