
Sementara itu, di rumahnya, Rio berada kamar utama menemani isteri yang sedang hamil enam bulan. Dia tidur di samping istrinya. Entah kenapa ia tidak bisa tidur, di lihat wanita yang sudah bersamanya selama 7 bulan itu terlelap dalam mimpinya. Aldo bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju ruang kerja di ambilnya handphone yang kusus untuk menghubungi Hira. Dinyalakannya dan iya terkejut banyak panggilan dari Hira dan satu pesan terkirim satu jam yang lalu. Rio mengambil jaketnya dan menulis pesan pada secarik kertas dan diletakan di bawah jam weker yang ada di nakas.
Ia bergegas keluar kamar menuju garasi, lalu masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya keluar rumah, sampai di pintu depan pagar rumahnya, ia berpesan kepada sekuriti untuk mengunci pintunya dan bilang bahwa ia tidak pulang hari ini. Lalu melajukannya dengan cepat menuju gedung perusahaannya, ia pun akhirnya sampai di area parkir. kemudian ia memarkirkan mobilnya di sana, keluar menghampiri sekuriti untuk meminta kunci kantornya.
"Perlu saya antar keatas Pak?"tanya sekuriti padanya.
"Tidak perlu, aku akan kesana sendiri. saja," jawab Rio.
Rio berjalan menuju lobby lalu menaiki lift menuju ruang kerjanya di lantai lima setelah sampai ia pun masuk ke dalam ruangan privasi lalu ia melakukan panggilan video pada Hira.
Di kamar Hira dering telepon berbunyi dengan kerasnya membangunkan tidurnya. Masih dengan mata sembab dan muka bantalnya, ia menerima video call dari Rio. Tampak jelas di layar handphone-nya wajah Rio yang terseyum manis padanya. "Assalammualaikum, cantik. Apa kabarnya? Habis nangis terus tidur yaa?" tanya Rio dengan lembut.
Mata gadis kecil itu langsung berbinar menatap wajah lelaki yang seusia Ayahnya.
__ADS_1
"Kok, Om tahu aku, habis nangis dan baru bangun tidur?"tanya Hira kepada Rio.
Rio terkekeh. "Kelihatan sayang, mata kamu sembab dan muka bantal kamu itu kelihatan banget. Kenapa nangis? coba cerita sama, Om," pinta Rio dengan sangat sabar.
"Begini, Om. Ayah mengajak kami berlibur ke Surabaya, jelas senang 'kan aku akan bertemu dengan Om, tapi kata Bunda, Om itu sibuk belum tentu bisa bertemu. Aku 'kan jadi marah sama Bunda, Hira 'kan ingin ketemu Om, tapi bunda ngomongnya begitu," kata Hira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, Om akan berusaha menemui Hira nanti, kalau Hira sudah di Surabaya yaa, jadi jangan sedih lagi, sekarang Hira tidur handphone gak usah di matikan yaa, seperti kemarin agar Om bisa temani Hira dari sini," kata Rio pada gadis kecil itu.
Hira tersenyum dan mengangguk ia pun menaruh handphonenya di atas nakas dan di arahkan pada dirinya, lalu ia pun berbaring menghadap kamera sambil tersenyum kemudian memejamkan matanya. Rio tersenyum melihat gadis kecil yang tertidur pulas terekam di kameranya. Tidurlah princess, semoga esok hari menjadi ceria, apa pun menjadi keinginanmu akan kukabulkan selama Om bisa mengabulkannya, Om berjanji padamu princess.
Setelah memandangnya dengan puas, ia pun mengakhiri panggilan videonya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya. 'Gadis kecil bermata biru dan pencinta gila, yaa sekarang mungkin aku telah gila, mungkin seperti inilah perasaan Dantai saat itu, hati tersiksa karena cinta dan memang tak butuh alasan untuk mencintai karena cinta tiba-tiba datang dan mengusik hati yang paling dalam, jika hati telah terkunci hanya untuk satu nama, maka tak akan ada nama lain untuk bisa menembus ruang hati, sekedar menyentuh dindingnya pun, tak mungkin bisa bergeming. Pecinta gila, yaa aku pencinta gila yang mencintai gadis kecil bermata biru,' gumamnya dalam hati.
Rio tak bisa memejamkan mata sedikitpun juga, hingga ponsel yang lain berbunyi, dilihatnya layar handphone-nya, tertera nama Jasmine istrinya, dengan helaan nafas yang berat dia menerima panggilan tersebut, terdengar suara lembut di seberang sana. "Assalammualaikum, Bang. Abang dimana sekarang?" tanya wanita yang berstatus istrinya itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, aku ada di kantor, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan sekarang juga, ini masih malam, tidurlah, mungkin besok malam aku baru kembali, tidak usah menungguku, jaga dirimu dan bayi kita," jawab Rio sambil memejamkan matanya dalam hati ribuan kata maaf terucap untuk Istrinya.
"Yaa, aku akan menunggumu untuk makan malam." Suara lembut itu terdengar lagi di telinganya.
"Jas, tak perlu menungguku, makanlah dulu ada anak kita di rahimmu, jangan sampai ia kekurangan nutrisi hanya untuk menungguku makan bersama," jawab Rio. Sunyi tak ada jawaban dan panggilan masih tersambung satu detik berlalu hingga berganti menit.
"Jas ... kau masih di situ," panggil Rio untuk memastikan bahwa Jasmine masih mendengarkan suaranya.
"Ya, aku mengerti." Akhirnya suara itu kembali terdengar ada nada kecewa di balik jawaban Jasmine istrinya.
"Kau juga harus tidur, Bang. Agar selalu sehat biar bisa bekerja untuk memberiku uang yang banyak dan ku gunakan untuk belanja menghibur hatiku dari kesunyian ini." jawabnya. Rio hanya tersenyum dia tahu itu adalah sindiran yang diberikan untuknya. "Yaa, aku akan bekerja keras untukmu dan anakmu agar kamu bisa bersenang-senang, Sayang. Sudah dulu yaa masih ada yang harus dise--"
"Assalammualaikum." Dan sambungan telepon pun terputus sebelum dia menyelesaikan pembicaraannya, dengan nada sedikit ketus Istrinya mengakhirinya dengan salam. Rio hanya bisa tersenyum sambil menjawab salam yang tak mungkin bisa di dengarkan lagi istrinya.
__ADS_1
Ia meletakan handphonenya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rio melihat langit-langit kamarnya kemudian ia pun memejamkan matanya mencoba untuk tidur sejenak sebelum fajar memaksanya bangun kembali.