Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Bertemu Keluarga


__ADS_3

Salva menatap sang kakak lalu memeluknya lagi. "Aku rindu sekali pada Abang." Dantai tertawa melihat Adiknya sedang mode manja.


"Kan sudah ada Aril?" kata Dantai pada adiknya. Izyan menatap Pamannya. "Kenapa Mama menangis? Apa juga kangen sepertiku juga, tapi aku tidak nangis, Mama sekarang cengeng paman sedikit-sedikit nangis," kata Izyan dengan suara cadelnya. Dantai tertawa menatap ponakannya yang tidak mau lepas darinya. "Oh, yaa?"


Anak itu mengangguk membuat mereka tertawa.


"Izyan aku main sama kakak," ajak Emir


Bocah kecil itu mengangguk, dia turun dari pangkuan Dantai mengajak Emir dan Hira keruang bermain, beberapa mainan di keluarkan oleh Izyan.


"Ini mainan ku kak Emir," katanya sambil membuka beberapa mainan yang di simpan rapi. Ada beberapa mainan lego di sana. Izyan menoleh kepada Hira. "Maaf, Kak Hira aku tidak punya mainan boneka," katanya menatap sedih pada Hira. Hira pun terkekeh dan merangkul bocah berumur tiga tahun itu. "Tidak apa-apa, aku juga suka bermain lego, Izyan bisa gak bikin rumah?" tanya Hira sambil meraih satu dos mainan lego.


Izyan mengangguk dengan mantap, bocah kecil itu memang menyukai mainan lego, banyak sekali jenis dan macamnya. ia pun sama mengambil satu dos mainan lego, tangan-tangan kecilnya itu dengan lincahnya menyusun dan membentuk sebuah rumah yang di inginkan. Dantai melihat dari balik pintu mengamati apa yang di lakukan keponakannya itu, lalu ia menoleh ke adiknya. "Apa Izyan juga bisa melukis?"


"Iya, kak. Dia sangat suka bermain lego, mas Aril selalu membelikannya jika satu dos sudah di susun, tapi Izyan tidak suka memajang karyanya jadi setiap kali jadi ia akan memotretnya, dia bilang kalau Izyan sudah mulai mengerti akan ditunjukannya padanya agar dia tahu kalau dia punya bakat luar biasa di bidang perancangan,"katanya sambil melihat putranya yang sudah asik menuangkan idenya dalam bentuk lego tak seberapa lama rumah pun jadi dengan gaya artistik. Dantai menghampiri keponakannya itu, ia berjongkok didepan bocah yang duduk di lantai. Ia bertepuk tangan yang diikuti Emir dan Hira yang awalnya ternganga karena Izyan begitu cepatnya membuat karya.


"Boleh ini di minta Paman, mau dibawa pulang ke Singapura, jadi ... jangan di bongkar yaa, paman suka rancanganmu," kata Dantai dengan mimik memohon. Bocah itu tertawa jenaka sambil mengangguk. "Apa ini bagus?" Datai mengangguk.


"Apa Paman sangat suka," tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya, Paman sangat suka," katanya kepada Izyan.


Bocah itu menatap Salva. "Ma, tolong simpan untuk Paman, yaa."


"Tentu sayang, mana sini Mama taroh di etalase sini yaa, zyan," kata Salva pada putranya. Lalu bocah itu melihat Pamannya kembali. "Benar yaa, Paman. Harus dibawa pulang! Jangan sampai ketinggalan!"


"Tentu, begini saja setiap kali Izyan buat, simpan dulu di sana, nanti kalau Paman ke sini lagi akan Paman ambil, bagaimana?"tanyanya pada keponakan kecilnya itu. Mata itu menatap sang Paman, tangannya terulur menyambut dan berjabat tangan sambil berkata," Deal!" Dantai pun tertawa lalu memeluk dan mendekapnya dengan erat.


...----------------...


Di Tempat yang berbeda di kota yang sama, di rumah sakit dan di ruangan Dokter Dara sedang menjelaskan tentang kondisi dirinya di akhir pemeriksaan kemarin.


"Ada gangguan koagulasi atau gangguan pembekuan juga bisa menjadi biang keladi dari perdarahan hebat pasca-lahir.


Selain itu, gangguan koagulasi juga berkaitan dengan hemofilia, dan idiopatik trombositopenia purpura. Idiopatik ini merupakan kelainan autoimun yang berdampak pada trombosit. Pengidapnya akan mudah mengalami memar atau berdarah, yang terjadi secara berlebihan.


Di samping itu, komplikasi kehamilan seperti hipertensi dan preeklampsia gestasional bisa memengaruhi kemampuan darah untuk membeku. Komplikasi ini yang menyebabkan perdarahan berat pasca lahir. Itu yang terjadi pada diri Anda, harusnya ini terdeteksi pada janin yang masih kecil, sehingga anda bisa memutuskan untuk meneruskan kehamilan ataukah tidak. Akan tetapi, ini baru terdeteksi ketika usia kandungan Anda sudah mencapai usia Enam bulan." kata Dokter Dara sambil menatap Jasmin.


"Apakah ini sangat berbahaya bagi saya dan anak saya Dok?"

__ADS_1


"Ya, sangat berbahaya, mungkin kami akan dihadapkan dengan pilihan menyelamatkan Bayi ataukah Anda. jika pilihan menyelamatkan Anda kemungkinan besar kehilangan rahim itu ada untuk menghentikan pendarahan kami harus mengangkat rahimnya, itu sebabnya saya ingin Pak Rio juga datang untuk mengetahui hal ini." katanya kembali pada Jasmine.


"Dok, Jika memang kemungkinan itu akan terjadi saya minta tolong selamatkan bayiku. Jika aku hidup dengan kondisi yang semacam itu mungkin saya gak akan sanggup dan tolong jangan beritahu suami saya. Sampai ketika Anda membutuhkan tanda tanganya, dan tolong lakukan sesuai keputusan saya, Dok." kata Jasmine dengan sangat memohon.


"Baiklah, mungkin ada suatu hal yang membuat Anda memutuskan hal itu, tapi saya akan berusaha menyelamatkan kedua-duanya." kata Dokter Dara kembali


"Baiklah, Dok. Trimakasih atas penjelasannya," katanya sambil beranjak dari duduknya berpamitan lalu keluar ruangan Dokter Dara.


Jasmine berjalan dengan gontai, menyusuri koridor rumah sakit setelah sampai di luar rumah sakit dia segera memesan taksi di aplikasi grabnya, tak lama kemudian taksi pun datang ia pun masuk ke dalam taksi tersebut. Tak seberapa lama kemudian ia pun sampai di depan pintu gerbang rumahnya ia pun keluar, lalu berjalan memasuki gerbang rumahnya dan masuk kedalam setelah mengucapkan salam. Narti menyapanya saat Jasmine melewatinya.


"Nyonya dari mana? Kenapa begitu lama saya cemas takut terjadi sesuatu hal pada Anda."


"Jangan kawatir, aku baru mengunjungi teman lama," katanya sambil tersenyum.


Ia pun duduk di meja makan dan mengambil makanan serta lauknya. lalu makan dengan lahapnya. Satu hal yang membuat Jasmine bisa melupakan kesedihannya dengan makan dan tidur.


Hari ini ia putuskan apapun yang terjadi ia harus bahagia.


Di rumah sakit yang sama Aril baru saja keluar dari ruang operasi, lelaki berprofesi sebagai dokter kandungan itu pun berjalan menuju ruangannya, nampak seorang Dokter perempuan menunggunya di sana.

__ADS_1


"Maaf Dokter Aril ada yang ingin saya diskusikan dengan Anda tentang pasien saya, apa Anda punya waktu?" tanya Dokter Dara yang punya ketertarikan pada Dokter Aril sejak enam bulan yang lalu saat di pindah tugaskan di sini.


"Maaf, saya ada keperluan keluarga, yang tak bisa di tinggalkan," katanya sambil masuk ke ruangannya lalu menguncinya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu, mengganti dengan pakaian bersih lalu keluar ruangan dan pergi meninggalkan rumah sakit, menuju rumahnya, ia sudah tak sabar bertemu dengan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


__ADS_2