Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kesedihan Harlan dan Ira


__ADS_3

Harlan dan Ira sampai di ruang ICU dia melihat Salva putri dan Aril duduk di kursi tunggu ruang ICU.


Harlan dan Ira menghampiri putrinya dan memeluknya. Salva menangis dalam pelukan ayah dan Ibunya. Aril mencium punggung tangan orang tua sahabatnya itu lalu duduk kembali. Ira menuntun putrinya untuk duduk kembali dengannya.


Harlan pergi menemui dokter untuk menanyakan kondisi putranya. Dokter yang akan mengecek kondisi Dantai berpapasan dengan Harlan saat itulah Harlan menanyakan keadaan putranya.


"Putra bapak mengalami cedera otak karena benturan keras, untuk saat ini masih belum melewati masa kritisnya jadi berdoa saja, agar pasien segera melewati masa kritisnya." dokter itu pun masuk keruang ICU dan mengijinkan Harlan untuk masuk keruang ICU, sebelum masuk ia diharuskan mencuci tangan terlebih dahulu dan mengenakan pakaian khusus. Harlan masuk dengan hati galau, dipandangi tubuh putranya yang tegap itu. berbaring dengan terpasang kabel alat bantu di tubuhnya. Harlan memejamkan mata putra yang ia banggakan berbaring di sini tak berdaya, Ia menghapus air mata di sudut matanya. Tak seberapa lama ia pun keluar bersama dokter.


tak lama kemudian ada bankar lain yang di dorong perawat masuk kedalam ruang ICU di ikuti oleh tiga pria remaja di belakangnya. ada luka dan berbalut perban dari kaki hingga kepala, begitu pula matanya.


"Anta,"


"Kak Anta" teriak Ira dan Salva bersamaan. Harlan menoleh sesaat kemudian kembali melihat pasien yang akan masuk di ruang ICU.


Rudi mencium punggung tangan mereka, begitu Riko dan Billy "Siang tante, om sudah lama datangnya? tanya Rudi dengan sopan.


"Sudah setengah jam yang lalu," jawab Harlan. Tak lama kemudian 2 remaja datang membawa dua kresek besar berisi makanan dan minum, mereka meletakkan bawaan mereka di lantai lalu mencium punggung tangan mereka, " Om, tan, makan dulu om dan tante mungkin tadi gak sempat makan karena harus keburu ke sini," pinta Rio dengan sopan.


"Om gak lapar, Ri kalian aja, kalian juga belum makan sedari pagi."


"Tante juga gak lapar, kalian aja."


"Om, tan maaf mungkin om dan tante tidak nafsu makan, tapi om dan tante harus makan, karena Dantai perlu kalian," jawab Gibran sambil meletakan nasi kotak dan minuman di depan mereka.


"Baik lah kalian juga makan," jawab Harlan menatap satu persatu dari mereka. mereka pun patuh mereka duduk di lantai tanpa alas dengan makanan dan minuman mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ri, orang tua Anta belum, kesini? apa tidak ada kerabat yang kesini? tanya Ira pada Rio, Rio menatap Riko meminta jawaban.


"Eem, belum datang tante masih di perjalanan. Ada neneknya di sini tapi kami tak memberi tahu beliau, karena mempunyai riwayat penyakit jantung, tadi Daddy sudah mengurus keperluan Anta," jawab Riko sambil menunduk."


"Baiklah, setelah ini kalian pulang saja, Biar Anta, om yang urus jikalau ada hal yang perlu harus di tangani secepatnya. Ril tolong antar Salva pulang!"


"Aku tidak mau Ayah, aku mau menunggu kak Dan."


"Salva, jangan membantah, kau di sini pun tak akan membantu, di sini pun tidak boleh terlalu banyak orang."


"Baiklah, Ayo kak Aril kita pulang," sahut Salva dengan cemberut dan berjalan mendahului Aril setelah mencium punggung tangan orang tuanya. Aril pun pamit pada orang tua Dantai menyusul Salva.


"Kalian juga pulang, di sini juga gak akan bantu. Sudah ada om di sini, kalau mau jenguk besok bisa kesini lagi."


"Iya om, kami mau pamit sekarang, besok kami ke sini lagi," kata Rio dan Gibran meninggalkan ruangan ICU.


"Hai, kenapa kalian tinggalin aku sih? aku mau naik apa ke rumah, aku kan nebeng kalian tadi."


"Ya sudah, ayo mau pulang ke rumah dulu?" sahut Gibran, dan Rudi hanya mengangguk.


Di luar ruangan ICU Harlan menatap dua pemuda yang terasa asing baginya.


"Kalian teman Dantai?Kok om gak pernah tahu,"


"Iya om saya temannya Dantai satu kelas pindahan dari Jakarta, kalau ini Billy teman sekolah di Jakarta sama dengan Anta." jawab Riko memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Setahu om kalian kan harusnya naik bis kenapa berangkat sendiri-sendiri? kalian tahu kalau sekolah yang mengadakan kegiatan itu, tanggung jawabnya penuh pada guru-guru kalian, kalau kalian ada apa-apanya dengan kalian berangkat sendiri begini tanggung jawabnya ke kalian sendiri.


"Maaf om, kami ingin mengenang perpisahan kami lebih berkesan, sayang bukan berkesan malah jadi petaka, maaf om,"jawab Riko dengan menundukkan kepalanya. Harlan menghela nafas.


" Ya sudah, ini sudah terjadi, bagaimana pun tetap harus di hadapi. om cuma pesan jangan sampai terulang lagi kejadian ini, coba lihat temanmu yang bebaring di dalam sana putra ku dan putri seseorang, mereka dalam keadaan seperti itu karena keinginan untuk membuat sebuah kesan yang bagus dan dapatnya apa? Kalian pulang aja dulu biar om dan tante yang jaga. nanti bisa kesini lagi, kasih nomer telpon Daddy mu ke om jika ada apa-apa dengan Anta


om bisa telpon daddy mu.


"Sebenarnya ini hukuman kami om, daddy tidak mengijinkan kami pulang sebelum orang tua Anta sampai di rumah sakit," jawab Riko sambil menyikut perut Billy.


"Iya om betul," kata Billy menimpali.


Hem, Baik lah terserah kalian," jawab Harlan lalu menoleh pada istri nya, yang tak berhenti menangis, di peluknya wanita itu untuk menguatkan hatinya.


Tak lama terdengar suara Adzan asar.


"Ibu yang solat dulu atau ayah dulu?" tanya Harlan pada istrinya, sebelum Ira menjawab Billy pun menyahut," Om, tante dan Riko sholat saja dulu, saya yang menunggu di sini."


"Baik lah, simpan nomer saya jika ada apa-apa telpon om segera." Billy mengangguk sambil mengetik di ponselnya menyimpan nomer Harlan. mereka pun meninggalkan ruangan ICU ke musholla rumah sakit, tak lama kemudian mereka kembali.


"Kamu tidak sholat Bill?"


"Saya non muslim om." Harlan hanya mengangguk lalu mendekap istrinya, lagi-lagi memberikan kekuatan pada istrinya agar tidak rapuh.


Beberapa saat kemudian pak To datang membawa tikar, " Tuan saya bawah kan tikar agar tuan beristirahat sejenak, kalau perlu saya yang jaga den Dantai saja, tuan istirahat dulu di rumah, tuan baru melakukan penerbangan langsung ke mari."

__ADS_1


"Antar kan ibu pulang, setelah itu kembali ke sini, temani saya jaga Dantai." Ira menggeleng kan kepalanya.


"Bu percuma juga ada di sini, besok pagi kembali kesini ya.., kalau di paksakan nanti ibu sakit hem," kata Harlan lembut pada istrinya, akhirnya Ira pun menurut apa kata suaminya.


__ADS_2