
Anta termangu di tempat duduknya, dari kata yang terdengar olehnya bisa ia simpulkan bahwa lelaki itu menyimpan rasa terhadapnya dan ini tidak boleh.
Anta menghelah nafas panjang matanya terpejam, "Andai aku bisa melihat, andai kecelakaan itu tak pernah terjadi, andai dulu aku menuruti kata-katanya."
Otaknya terus berfikir bagaimana cara menolaknya, jika menerima, dia takut akan terjadi sesuatu pada dirinya karena saat ini ia tak sanggup menilai seseorang dari expresinya wajahnya, karena hanya kegelapan sebatas mata memandang, ia tak menyangka ketika ia memutuskan kuliah dengan keterbatasan dirinya di Curtin Singapure, akan membuat cela masalah baru untuknya.
hanya di universitas inilah penyandang disabilitas bisa berkuliah dengan kemampuan otaknya. Anta sibuk dengan segala macam pemikiran yang berkecamuk di otaknya. Selalu terpikirkan jika menolak tak akan lulus dari mata kuliah itu, "Hanya makan Siang Anta," itu yang terngiang di otaknya, hatinya pun bicara lain, "Kau sudah bersuami Anta, bagaimana kalau ia memasukan sesuatu dalam makananmu."
Tiba-tiba suara keras menyadarkannya dari lamunannya, "What do you think about, Miss Anta? The material have started since 30 munites ago." Seorang dosen menegurnya dari jarak yang sangat dekat, " So sorry mom, I'm not focused this time."
"Ok! Listen to me now and don't daydream anymore!" pesan dosen itu padanya.
"Ok! I'll try to focus your matarial which your explain." jawab Anta dengan tenang.
Anta kembali mengeluarkan komputer modifikasinya, menghidupkannya lalu memasang kertas HVS di dalam printer. Dia pun mulai fokus mendengar mata kuliah pada saat itu.
Dua jam berikutnya mata kuliah selesai masih ada satu mata kuliah yang ikuti hari ini.
Anta keluar kelas dengan stik penunjuk arah, dia berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Anta dengan sholat dengan khusuk dan berdoa agar dia terhindar dari masalah yang membuatnya terpuruk, ia pun berdoa agar rumah tangganya tidak di terjang badai.
Anta larut dalam doa ia mengambil mushaf Alquran dengan huruf braille membaca surat An-Nur dengan sangat merdu.
__ADS_1
ada seseorang yang mengikutinya dari dia di kelas sampai di masjid, dia adalah Aldo dosen mudah yang tertarik dengan Anta itu duduk di di depan masjid dan mendengarkan suara Anta yang tengah mengaji.
Hati Aldo bergetar, ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa benci pada dirinya sendiri saat ini, kenapa tak bisa mengendalikan hati ini, harusnya dia melindungi wanita itu, memberikan dorongan semangat untuknya agar punya kepercayaan diri untuk bisa meraih impiannya, bisa mewujudkan cita-citanya bukan malah mengancamnya hanya untuk keinginannya sesat. Cinta benar-benar membuatnya gila, kenapa ketika suaminya menghubunginya dan mengatakan bahwa ia adalah wanita yang sudah bersuami setatusnya sudah tidak bebas lagi, egonya terluka. Aldo memang ingin bertunjuan tidak baik dengan Anta. Dia berencana mengajaknya makan siang dan memberikan obat perangsang agar dia bisa menikmati tubuh wanita itu sekali saja," Aku sungguh b@ngs@t ingin merusak orang yang ku cintai, harusnya aku tidak tersinggung, apa lagi suami mengatakan bahwa tidak membatasi pergaulannya. Apa jadi kalau pada akhirnya dia memutuskan berhenti kuliah maka orang yang harus disalahkan adalah aku, akulah yang membuatnya takut, akulah yang membuatnya berhenti bermimpi sementara suaminya yang selalu mewujudkan apa yang dia impikan, membuatnya bangkit dari keterpurukan, membuatnya kembali percaya diri.
Aldo menatap pintu mushollah menunggu wanita itu keluar dari dalam mushola, dengan hati gundah ia menunggu wanita itu, tak lama kemudian ia melihat Anta keluar dari mushola ia pun berjalan mendekati wanita itu, "An saya bicara, boleh?"
"Pak Aldo? Boleh Pak, silakan." jawab Anta dengan sopan
"Kalau ngomongnya tidak di sini apa kamu keberatan, saya janji gak akan apa-apain kamu," kata Aldo dengan hati bimbang.
"Boleh, tapi saya ijin suami saya, Pak. kalau dibolehkan kita berangkat.
"Biar saya saja yang bicara tolong sambungkan."
Anta melakukan panggilan dengan menyebut nama my husband maka nada sambung pun berbunyi dan tak seberapa lama kemudian tersambung, "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam, "
"Ayah, Pak Aldo ingin bicara."kata Anta melalui sambungan telepon.
"Ok! Bun, berikan telponnya."
Anta pun memberikan telpon selulernya pada Pak Aldo, dan Ado menerimanya lalu segera berbicara kepada Dantai.
__ADS_1
"Maaf, Pak. saya ingin berbicara dengan istri anda tapi tidak bisa di kampus, boleh saya ajak istri anda untuk makan siang di restoran, saya janji akan menjaganya seperti seorang kakak menjaga Adiknya."kata Aldo pada Dantai
"Ok! Saya ingin anda berbicara di ruang terbuka, jangan di ruang privasi, saya percaya pada anda dan tolong jaga kepercayaan ini." kata Danta dari seberang.
"Trimakasih, Pak."
"Sama-sama"
Aldo menyerahkan handphone Anta, "Ayo, suami mu telah mengijikan, itu mobil saya."
Mereka pun berjalan menuju mobilnya dan masuk kedalamya kemudian kendaraan itu berjalan membela jalanan menuju restoran Jepang. mobil berhenti di area parkir, mereka pun keluar berjalan menuju restoran itu, mereka duduk di kursi depan meja yang tempatnya terbuka. Aldo memesan yang di pesan yang di pesan Anta. Lalu tak seberapa lama hidangannya pun tersaji.
Mereka pun makan dengan tangan, selesai makan dan minum Aldo mulai pembicaraan.
"Maaf, telah menekan mu, aku benar-.benar merasa bersalah karena tidak menjagamu, malah mengintimidasi mu, memaksakan suatu yang tak kau suka. Harusnya aku menjaga mu dan memberikan rasa aman saat kamu kuliah. di sini jadi mulai sekarang kamu harus menganggapku kakak, karena jika lebih tidak mungkin," katanya terkekeh.
"Iya, betul itu, Pak. Saya juga minta maaf pada Bapak, karena saya selalu ketus pada Bapak, karena samata-mata tidak ingin terjadi fitnah karena saya sudah bersuami, saat berdua seperti ini pun tidak di perbolehkan walaupun di tempat terbuka. Jika suami saya mengijinkan bertemu anda, maka berarti suami telah percaya pada Anda, untuk menjaga saya.
"Trimakasih An dan sampaikan pesan terimakasih pada suamimu dan katakan jangan kawatir apa pun saya akan menjadi kakakmu yang selalu ada dan membelamu."
"Terimakasih kak Aldo." kata Anta tertawa. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan restoran setelah membayar tagihannya. Anta dan Aldo berjalan menuju mobilnya di ikuti oleh Anta yang di belakangnya kemudian mereka masuk kedalam serta mengemudikan kendaraannya. kendaraan itu pun berjalan menyusuri meninggalkan restoran jepang.
Mobil Aldo melaju menyusuri jalanan kota yang lengang menuju kampus. setelah sampai kampus Anta keluar dari mobil Aldo dan berjalan ke kelasnya untuk mengikuti mata kuliah yang terakhir, setibanya di kelas masih sepi hingga akhirnya mahasiswa yang lain berdatangan dan dosen pun masuk memberi materi.
__ADS_1