Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Memenuhi Panggilan Ibu


__ADS_3

Jam 19.00 Dantai, bersiap pulang ke rumah, memenuhi janji dengan ibunya.


Dantai keluar dari apartemen dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.


Dantai pun tiba di halaman rumahnya, ia berjalan memasuki rumahnya setelah mengucapkan salam, sang ibu menjawab dan keluar dari ruangan tengah menyambut putranya yang sudah seminggu tak pulang kerumahnya karena memilih tinggal di apartemen.


Ira memeluk Dantai lalu membawanya keruang makan.


Di sana sudah duduk sang ayah dan Adiknya.


Dantai duduk di sebelah Salva, sang ibu mengambilkan nasi dan lauknya untuk Dantai di letakan di meja depan kursi Dantai duduk.


"Ayah gak di ambilkan nih," goda Harlan pada istrinya.


"Ini untuk ayah yang tampan tapi lebih tampan Dantai," kata Ira terkekeh sambil meletakan piring berisi makanan di meja depan Harlan duduk. Mereka pun tertawa dengan gurauan Ira.


"Ayah kalah pesona dengan kak Dantai," celetuk Salva."


"Eeeh, jangan salah ayah dulu jadi idola di kampus ya..., makanya ibu mu itu jatuh cinta sama ayah karena punya pesona yang tak tertandingi oleh teman-teman ayah."


"Eeeh benarkah?" timpal Ira sambil menyipitkan matanya. Ayah terkekeh.


"Melihat expresi ibunya membuat Dantai tertawa," Meragukan sekali."


"Benar-benar meragukan," sahut Salva. Ayah tertawa keras.


"Dan, maaf membuat mu tak nyaman dengan permintaan Om Surya, nak."


"Tidak apa yah, toh itu sudah berlalu," kata Dantai di selah makannya.


"Tapi karena itu sekarang kau tinggal di apartemen nak," kata Harlan sambil menyuapkan makanannya.


"Sungguh bukan karena itu yah, memang akhir-akhir ini Dan banyak tugas kampus, karena Dan berniat mengambil mata kuliah rangkap agar bisa lebih cepat melesaikan kuliah Dan yah." kata Dantai pada ayahnya.


"Jika memang bukan itu, sering-sering lah kesini Dan jika kau tidak sibuk."


"Tentu yah aku akan ke sini saat ada waktu luang."


"Apa karena Anta, kau ingin segera selesaikan kuliah mu," kata Ira sambil tersenyum.


"Betul bu, kemarin aku memintanya menikah dengan ku, ia menolak katanya selesai kan dulu kuliah mu, Fif. Aku tak mau merepotkan mu."

__ADS_1


Harlan dan Ira tertawa.


"Kenapa kalian tertawa, apa yang lucu, aku benar-benar kesal padahal ia tahu bahwa dialah semangat ku."


"Kau memang anak ayah mu, Dan kelakuan mirip ayah, dulu ada seorang mahasiswa semester 4 dengan berani melamar seorang gadis SMA yang baru selesai ujian di rumah orang tuanya, dan mahasiswa itu ayahmu.


"Dan gadis itu Ibu kan," sahut Salva.


"Iya... betul, dan ditertawakan kakek mu, orang tua ibu." kata Ira


"Lalu?" tanya Dantai antusias


"Dia dengan percaya diri bilang sama kakek mu, bahwa benar saya masih kuliah pak tapi saya punya usaha kafe kecil yang akan bisa menafkahi dek Ira lahir dan Batin,"


Kakek mu malah terpingkal-pingkal mendengar jawabannya. kakek mu berkata," Untuk menafkahi batin aku tak meragukannya tapi untuk lahirnya aku masih meragukan mu anak muda, Buat omset kafe mu 1 juta perhari, jika kau bisa datang lah kemari lagi."


"Lalu apa ayah bisa memenuhi syarat kakek itu?" tanya Salva


"Bisa, dalam 2 bulan kafenya semakin maju dan melebihi target dari syarat yang di ajukan, omsetnya pada saat itu 1,5 juta perhari dan ia pun kembali melamar ibu tepat setelah ke lulusan ibu."


"Ha...ha...ha kau masih ingat saja bu." kata ayah


"Persis kayak kamu sekarang Dan." kata ibunya terkekeh.


Dantai beranjak dari kursinya menuju kamar dengan langkah lebarnya menaiki tangga satu persatu ke lantai 2, ia pun membuka kamarnya yang di tempati selama satu tahun setengah yang lalu.


Ia masuk dalam kamar di pandangi sebuah lukisan seorang gadis yang berdiri menatap ombak pantai yang menyentuh kakinya, satu-satunya lukisan yang pernah di lukis saat sebelum kecelakaan dan hilang ingatan.


Ya lukisan yang di ambil dari belakang. Salva dengan diam-diam membawanya kemari.


tok...tok...tok


Pintu di ketuk dari luar, Dantai menyeret kakinya berjalan ke pintu dan membukanya.


"Bu!"


"Boleh ibu masuk?"


" Silakan bu, apa ada yang ingin ibu tanyakan?"


"iya Dan." jawab ibu pada Dantai.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Anta, Dan?"


"Dia baik bu, sedikit demi sedikit sudah mulai bisa jalan bu." kata Dantai pada ibunya.


"Dan, ibu tak pernah pelarangmu untuk bersama dengan Anta, itu yang harus kamu tahu."


"Iya, bu Dan mengerti, masalah Clara om Surya yang ingin bicara sendiri padamu, ayah dan Ibu sudah menolaknya" Dantai tersenyum menghampiri ibunya mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Bu, Dan sudah bilang sama ibu itu sudah berlalu bu, sudah jangan di bahas lagi," kata Dantai sambil tersenyum pada ibunya."


"Dan bisakah ibu bicara dengan Anta?"


"Boleh bu, aku akan melakukan panggilan video. Dantai pun menekan panggilan video untuk Anta. panggil Vidio pun tersambung nampak gadis dengan tatapan kosong ter pampang di layar monitor handphonenya.


Anta mengucapkan salam pada Dantai dan di balas Dantai. na


"Hai sedang apa kamu sayang,"


Ira tersenyum mendengar panggilan mesra Dantai pada Anta.


"Seperti yang kau lihat aku nangkring di ranjang rebahan begini," katanya terkekeh. Dantai pun terkekeh.


"Ibu ingin bicara, boleh?" Anta mengangguk.


Dantai pun memberikan handphonenya pada ibunya, dan Ira pun mengambilnya melihat penampilan Anta yang begitu tenang dan lebih dewasa.


"An ini tante, tante senang melihatmu dalam ke adaan baik, dan lebih dewasa dari tante terakhir bertemu dengan mu."


"Iya tante apa kabar tante?"


"Tante baik An, sangat baik setelah mendengar kamu bertemu dengan Dantai."


"Tan, maaf!"


"Kenapa kamu minta maaf An, kamu tidak salah, jika Dan datang mencari mu Ia pun juga tidak salah." kata ibu sambil tersenyum yang tak pernah bisa di lihat Anta.


"Iya, bu!"


"An apa yang tante katakan dulu tidak pernah berubah, jika Dantai mencari mu lalu menggenggam jemari mu dengan cinta dan hatinya Kemudian membawa mu kemari maka tante pun akan mengenggam jemarimu dengan erat dan merengkuh mu dalam pelukan ku nak, ibu dan Ayah merestui mu bersama dengan Dan, maka mulai sekarang kamu harus memanggil tante dengan sebutan ibu dan om Harlan dengan sebutan Ayah."kata Ira.


"Iya, tan eee ....ibu." kata Anta dengan menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Trimakasih An," kata Ira pada Anta.


"An yang terimakasih pada ibu, telah menerima An dengan kekurangan An ini, An merasa istimewa ibu meminta memanggil dengan sebutan ibu, ibu trimakasih," kata Anta sambil mengusap air matanya.


__ADS_2