
Dantai mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah melintasi jalan ia berhenti di sebuah supermarket," Dek kita belanja dulu ya, gak ada persediaan makanan di sana."
"Ok!" kata Salva sambil membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil kakaknya dan berjalan riang memasuki supermaket.
Dantai mendorong troli dan Salva dengan riangnya mengambil apapun yang di inginkan dari mulai sayuran daging, ayam dan serta makanan ringan. Setelah itu mereka membayar belanjaannya di kasir, setelah selesai mereka pun keluar dari supermarket dan meneruskan perjalanan ke Apartemen.
Sesampainya di gedung apartemen, mereka menaiki lift kelantai 10 lalu berjalan ke apartemen no 9, Dantai menekan kode paswordnya, pintu pun terbuka mereka masuk ke apartemen. Salva berlari mengitari seluruh ruangan apartemen," Apartemen kakak bagus."
"Bantu kakak masukan belanja di kulkas dek."
"Baik Bos!" Jawab Salva sambil terkekeh.
Dantai pun masuk ke kamarnya menata buku di lemari bukunya, setelah itu ia pergi ke dapur dan mulai memasak untuk makan siang, Salva pun membantu kakaknya, setelah selesai meletakan semua di atas meja makan di ruangan yang masih terhubung dengan dapur, lalu mereka pun makan bersama, setelah selesai mereka pun duduk di ruang tengah," "Maaf ya, kak Dan kemarin langsung pergi meninggalkan rumah, mungkin ayah dan ibu kecewa ya sama kak Dan." kata Dantai pada Salva.
"Enggak, mereka justru kecewa dengan om Surya,istri dan anaknya, mereka menghina keluarga kita," jawab Salva lalu menceritakan kejadian setelah Dantai pergi.
Dantai menghela nafas," Nanti kak Dan yang urus, mau video call dengan kak Anta?"
"Mau mau kak," jawab Salva bersemangat, Dantai melakukan panggilan video, tak lama itu panggilan terhubung, Dantai terpukau melihat penampilan Anta, Anta mengucapkan salam, dan belum terjawab karena terpukau, Salva pun merebut handphone Dantai dan menjawabnya,"Wa'alaikum salam Kak Anta, Salva kangen!" teriak Salva.
"Hai gadis kecil apa kabar mu?" tanya Anta terseyum
"Aku bukan gadis kecil lagi kak Anta, aku sudah kelas XI,"
"Oh iya kah, wah sudah besar kak An sampai lupa, lagi di rumah?"
"Enggak lagi di Apartemennya kakak, kemarin kak Dan....," Dantai langsung membungkam mulut adiknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Dek?" tanya Anta sambil mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
"Gak papa, Han," jawab Dantai, Anta menghela nafas.
"Iya kak An, kak Dantai cuma capek jadi gak mau aku gangguin jadinya ke Apartemen." kata Salva.
"Apa memang begitu? Kok kelihatannya gak begitu ya, Fif."
"Gak ada apa-apa, kalaupun ada bukan tentang kamu Han."
" Benar begitu Dek?" tanya Anta pada Salva."
"Benar kak An," Jawab Salva
"Kata kak Dan Apartemen ini buat kak An, kalau nanti kak An menikah dengan kak Dan. Salva pun berceloteh panjang dengan menceritakan Apartemen kakaknya itu dengan sangat Detail.
Setelah puas bercerita dan becanda Salva mengakhiri perbincangannya dengan salam, lalu menutup panggilan videonya.
"Dek Ayo kakak Antar pulang, sekalian kak Dan mau kekantor ayah."
"Baiklah, padahal aku suka di sini ingin nginap disini," kata Salva sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lain kali ya, Dek tolong jangan bilang ayah dan ibu kalau kak Dan punya Apartemen, bilang saja kak Dan tinggal sama teman."
"Beres, jangan lupa uang jajan Salva juga harus di tambah ya," katanya nyengir.
"Ok! Beres," kata Dantai sambil berjalan mendahului adiknya keluar apartemen, mereka pun masuk kedalam lift yang membawanya ke lantai bawah.
Setelah sampai di bawah mereka pun masuk kedalam mobil dan mobil itupun keluar dari area parkir gedung apartemen Dantai membelah jalanan menuju rumahnya, Dantai menurunkan adiknya tepat di depan pintu gerbang rumahnya, Salva pun turun setelah mencium punggung tangan kakaknya, lalu melambaikan tangannya saat mobil berjalan kembali, Salva pun masuk kedalam rumahnya.
Dantai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke gedung perusahaannya ayahnya tidak terlalu tinggi dan besar namun perusahaan ini menjanjikan masa depan Dantai dan Salva.
__ADS_1
Dantai memasuki area gedung dan di sambut sekuriti, ia pun turun dari mobil lalu menyerahkan kuncinya mobilnya untuk di parkir di area parkir.
Dantai berjalan memasuki gadung itu dengan langkah lebarnya lalu memasuki lift khusus yang membawanya ke lantai 5, sesampainya di lantai 5 ia pun berjalan menuju kantor ayahnya, Dantai mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilahkan masuk.
Dantai pun masuk di ruang itu yang terdapat ayah dan ibunya di sana.
" Masuk Dan duduk lah sini!" perintah Harlan pada anaknya. Dantai pun duduk di antara ke dua orang tuanya.
"Begini, Dan intinya kami tak pernah memaksamu untuk menerima Clara, keputusan sepenuhnya ayah dan ibu serahkan kepada mu. lbu telah menghitung dan mengkalkulasi semua dari aset perusahaan hingga pengeluaran yang harus kita keluarkan saat ini, seluruh aset dan pembiayaan sekitar 30 triliun dan kita harus mengembalikan sekitar I5 triliun ke pada Surya, Dana oprasional saat ini adalah 10 triliun jika itu di kembalikan ke Surya maka kita akan menghentikan pembangunan yang tengah berjalan saat ini Dan mungkin kita harus menjual rumah kita itu pun tak akan cukup." Harlan menarik nafas panjang, Dia mengeluarkan buku rekening bank, ini adalah hasil penjualan lukisan 6 tahun sebelum Surya menghandel sendiri dengan mu saat kamu kelas XI SMU. di sini ada 10 triliun Dan, dulu memang ayah ikut langsung menemui klien setelah ayah sibuk dengan usaha ayah ini sepenuhnya aku serahkan ke Surya.
"Baik Ayah gunakan itu untuk usaha Ayah, Dan juga ingin tahu perjanjian Ayah ketika berkerja sama dalam penjualan lukisan apa ada sangsi jika salah satu melakukan kecurangan."
"Ada Dan, waktu ayah sudah tidak bisa mengurusi lukisan mu ada pasal tambahan di sana, di mana jika terjadi kecurangan dalam penjualan lukisan maka pihak pertama kamu selaku pemilik lukisan berhak memutuskan kerja sama secara sepihak dan membayar kerugian 50% dari hasil penjualan selama ia melakukan kecurangan."
"Apa Ayah masih menyimpan surat perjanjian itu?"
"Masih Dan."
"Boleh aku bawa yah?"
"Kenapa Dan apa Surya melakukan kecurangan."
"Betul Yah, nanti setelah Dan selesaikan masalah ini dengan om Surya baru Dan akan cerita ke Ayah."
"Baik, sebentar akan ayah ambilkan berkasnya."
"Harlan pun membuka laci berkas yang ada di mejanya dan mengambil salah satu berkas di bacanya dulu sebentar untuk memastikan berkasnya, lalu memberikan berkas itu kepada Dantai," Dan, jangan terlalu keras bagaimana pun awal dari karirmu dengan dia jadi tolong hargai itu bagaimana pun dia teman ayah Dan."
"Ya, ayah, Dantai pulang dulu." Dantai mencium punggung tangan ibu dan ayahnya lalu keluar dari ruangan kantor ayah.
__ADS_1