
Hari-hari berganti hari Rio semakin posesif terhadap Hira sang istri. Setiap jam selalu bertanya apa yang dirasakan sang istri saat hamil, ketika sang istri bekerja menunggu di luar ruang kerjanya sambil mengerjakan pekerjaan yang ada Ipad-nya.
Ketika sang istri akan membawa barang -barang yang berat dia segera turun tangan dan tak membolehkan istrinya untuk bekerja berat.
"Apa kau tidak apa-apa, sayang, bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Rio pada istrinya.
Hira menghela nafas. " Dad, aku dan dedek di perut baik-baik saja jangan khawatir."
"Aku tidak bisa tidak khawatir, Hir. mengigat usia itu Aku tidak mungkin bisa tenang, sebelum anak kita lahir dan kamu baik-baik saja," kata Rio pada Hira.
"Ya, baiklah, sekarang waktunya Jemput Bilal, Daddy jemput Dia dulu," kata Hira yang kandungan sudah menginjak 5 bulan.
"Baik, tunggu yaa, ingat jangan kerjakan yang berat-berat," kata Rio dan Hira hanya mengangguk.
Rio berjalan keluar dari rumah sakit, masuk dalam mobil lalu menjalankannya menyusuri jalanan, menuju sekolah Bilal, Begitu sampai gerbang, Bilal anak lelaki berusia 12 tahun itu pun masuk dalam dan duduk di sebelah sang Daddy.
"Bagaimana, Mamud?" tanya sang putra,
"Masih di rumah sakit, nanti sore baru pulangkan?" kata Rio pada putranya.
"Maksudnya, Mamud gak bosan di tungguin Daddy kayak anak Tk," kekeh Bilal
"Kalau dia bosan Daddy gak peduli, Daddy gak mau kecolongan seperti mama mu dulu, dia gak bilang kalau kehamilannya dalam masalah," kata Rio pada putranya itu.
"Jika Mama bilang ke Daddy, apa aku akan lahir di dunia sebagai putra mu, Dad," kata Bilal pada Rio.
"Tentu, Daddy akan memilih dokter yang terbaik untuknya, membuat kalian berdua selamat dan menghiasi, kehidupan Daddy," kata Rio.
"Apa Daddy, mencintai mama?" tanyanya Bilal pada Rio.
"Tentu, jika saja Mamamu bisa selamat dalam persalinan itu, kak Hira mu itu tak akan menjadi Mamimu yang sekarang bisa jadi dia akan menikah dengan Dokter Eko atau yang lainnya," jawab Rio pada putranya.
__ADS_1
Trimakasih, Dadd, telah mencintai mama sebesar rasa cinta Daddy pada pada Mamud," kata Bilal pada Daddy-nya.
"Jika waktu itu kau bilang tidak suka pada kak Hira mu itu, Daddy juga tak akan menikahinya, Boy, kau yang utama," kata Rio
"Trimakasih, Dad, selalu menjadikan ku nomer satu, tapi bagiku perasaan Daddy nomer satu, jika Daddy bahagia aku juga akan bahagia, itu sebabnya saat ku lihat ada cinta terlihat di mata Daddy untuk kak Hira, aku merestui Daddy menjadikan dia mamiku, serta wanita pujaan Daddy juga menjadi pilihan mama untuk menjadi penggantinya," kata Bilal menatap sang Ayah yang sudah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumahnya.
"Sudah sampai, ganti baju, sholat, makan siang, lalu tidur, Sore Daddy baru pulang sama mami," pesan Rio pada Bilal.
Bilal mengangguk lalu mencium punggung tangan ayahnya kemudian dia keluar dari mobil dan berjalan masuk rumah.
Rio menjalankan mobilnya kembali menuju rumah sakit di mana Hira bekerja, sesampainya di sana dia tak menemukan istrinya di ruangannya dia sudah bisa menebak sang istri tengah melakukan kunjungan pasiennya ia kembali membuka email melalui Ipad-nya, mulai dengan melihat laporan keuangannya dengan sangat teliti sambil menunggu sang istri selesai tugasnya.
...----------------...
Bulan berganti bulan saat ini usia kehamilan Hira sembilan bulan sudah mendekati waktu melahirkan.
"Hira, lebih baik Operasi saja, atau kita ke surabaya, biar om kamu yang menangani kelahiran anak kita, aku lebih tenang jika Aril yang menangani.
"Dad, Dokter Erin, juga bagus dan hira tahu kondisi Hira," kata Hira pada suaminya.
Apa dia tidak tahu seberapa takutnya diriku, menghadapi masa-masa mendekati lahiran, batinya.
.
.
.
Hari kelahiran tiba, Rio dan Bilal segera membawa Hira ke rumah sakit, Bilal menghubungi kedua kakeknya.
Dengan cepat mereka pergi ke Bandung dengan mengunakan transportasi udara.
__ADS_1
Rio berada di ruang bersalin mendampingi Hira yang sedang berjuang melahirkan bayi kembarnya.
Selama dua jam akhirnya lahirlah ke dua putri, sang istri nampak begitu lelah, ia menciumi seluruh wajah sang istri tampak lelah, sambil berbisik," tetaplah bersamaku Hira, berjuanglah untuk tetap baik-baik saja."
Setelah itu, mengadzani kedua putrinya. ia keluar di sambut kedua sahabat yang sudah menjadi kerabatnya dan mertuanya itu serta memeluk kedua papi dan maminya. "Dua cewek, anakku," katanya pada mereka.
Mereka sangat bahagia mendengar Hira melahirkan dengan selamat dan Hira dalam ke adaan baik-baik saja. Saat ini Hira sudah di bawah ke ruang perawatan dan di berikan transfusi dara serta infus.
Rio duduk di depan sang istri dan mencium kening istrinya kecilnya itu, dia benar-benar sangat bersyukur karena istri baik-baik saja setelah melahirkan ketakutan akan kehilangan tambatan hatinya itu.
Orang tua Rio Rahanda dan Mutia begitu pula Dantai juga Anta yang duduk di dekat mereka.
"Kau beri nama siapa Cucuku," tanya Dantai pada sahabatnya sekaligus menantunya itu. Rahanda tertawa, mengingat rumitnya hubungan mereka kadang memanggil nama saja, kadang memanggil ayah mertua.
Rio tersenyum. "Azkia Arabelle dan Asha Arabelle, Ayah. Maaf bro aku panggil begitu karena aku menghormatimu sebagai mertua, bukan mengingatkan padamu kalau kau sudah tua," katanya sambil terkekeh.
"Kau ini, walau kau tidak mengingatkannya kau telah membuatku tua sebelum waktunya ketika Bilal memanggil ku kakek, sekarang kau tambah lagi dengan dua bidadari yang cantik ini, semoga gak senakal Hira, dan jadi anak-anak Sholehah," kata Dantai
"Aamiin!" ucap seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan itu.
"Jadi kakek keberatan aku panggil Kakek?" tanya Bilal
"Jelas tidak, bagaimana bisa keberatan, aku orang ke tiga yang menggendong mu saat kau bayi, setelah Daddy mu mengadzani mu, hanya saja aku merasa lebih tua dari Daddy mu padahal kita seumuran," jawab Dantai lesu yang di sambut tawaan semua yang ada di situ.
"Tidak kakek, kau adalah hot grandpa yang ku punya," kekeh Bilal.
Dantai tertawa."Kau benar-benar pandai menghibur, Bil!"
"Trimakasih, Bapak mertua telah mengijinkanku menikahi putrimu yang cantik ini, kau tahu, hati serasa mati jika tidak bisa hidup bersamanya, Aku pun berterimakasih pada Papi telah mengijinkanku menikahi wanita pujaanku.
Rahanda mengangguk dan tersenyum pada putranya itu.
__ADS_1
"Anda tidak berterima kasih pada putra Anda ini Tuan Rio Yustio Rendra, tanpa izinku Anda tidak bisa jadikan dia mamud ku?" tanya Bilal pada Daddy-nya.
"Tentu, trimakasih, boy," jawabnya sambil tersenyum lalu menatap istrinya yang masih terpejam.