
Pak Amru berjalan menuju tikar yang sudah digelarnya, di atas tikar sudah tersedia beberapa buah durian, kelengkeng, mangga, rambutan, alpukat dan cempedak.
"Ayo sini Tuan Muda dan Nona Muda duduk di tikar ini, akan saya bukakan duriannya, durian ini enak sekali tuan," kata Amru.
Pak Amru membukakan satu durian untuk mereka. Mereka pun mulai memakan dengan lahapnya. Andi dan Harlan bergabung dengan mereka.
"Kamu sudah siapkan semua nih ada piring, ada pisau juga kapan kamu ngambilnya?" tanya Andi sambil terkekeh.
"Sudah dari dulu Pak Andi, saya butuh semuanya untuk makan siang karena saya akan pulang sore hari," jawab pak Amru tertawa.
Andi berbincang dengan Amru dengan sangat serius. "Pak Andi ini ada tanah yang di jual seluas empat hektar, kalau Bapak berminat untuk memperluas perkebunan saya akan nego 'kan dengan pemiliknya sudah ada beberapa pohon di sana kita tinggal menambahkan saja lagi dengan buah-buah yang nilai jualnya tinggi Pak."
"Pak Amru sanggup mengelolahnya 'kan? kalau Bapak masih mau, akan saya ambil tanah itu saya tergantung pak Amru saja," kata Pak Andi sungguh-sungguh
"Kalau butuh alat untuk kemajuan perkebunan ini katakan saja nanti kita beli pak," kata Andi memberikan kesanggupan pada Amru.
Saya masih sanggup jika Bapak masih percaya saya," kata Amru.
"Oh, iya saya sangat percaya dengan Bapak apalagi saya sudah tahu pribadi Bapak."kata Andi lagi pada Amru.
Amru berkaca-kaca, ia tak menyangka ada orang yang begitu percaya padanya. Setelah apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah berbincang-bincang hangat pak Amru membawakan beberapa buah yang cukup banyak untuk di bawa pulang.
Hari semakin sore, Harlan dan Andi pun berpamitan, Emir dan Hira masuk dalam mobil Emir menempati bagian belakang dan Hira di tengah memasang bantal di ujung kursi lalu tiduran di sana.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang melintasi perkampungan hingga sampai di jalan raya yang cukup ramai Andi mengantarkan Harlan pulang duluan. Setelah itu ia melajukan mobilnya kejalan raya, menuju kediamannya, Emir dengan santai memakan buah anggur yang dibawakan paman Amru tadi, Hira yang merasa curiga bangun dan melihat kakaknya makan dengan santainya, membuatnya protes pada Kakaknya. "Kak aku juga mau," katanya.
Emir tertawa dan berikan segerombol besar buah anggur pada mereka.
__ADS_1
mulut mereka tidak henti-hentinya mengunyah.
Andi pun menegur mereka," Kalian belum makan nasi jangan terlalu banyak," kata Andi
"Tidak, Kek. Kita belum satu kg makannya," kata mereka tertawa.
"Ehh?! terik Andi
"Ya sudah kita mampir ke restoran saja. ini kalau perut kalian gak di isi bunda kalian akan marah sama kakek." kata Andi.
Andi membelokan mobilnya di restoran masakan Indonesia yang terdekat, lalu mengajak Cucunya masuk ke dalam dan duduk di sudut ruangan, agar lebih nyaman menikmati makanannya. Cucu-cucu itu tak pernah bisa duduk dengan tenang, kaki, tangan, serta mulutnya tak berhenti bergerak atau pun berbicara.
"Hira, Emir, kamu makan apa?" tanya Andi sambil menyerahkan buku menunya.
"Aku soto saja dan nasinya di pisah yaa, Paman. Minumnya aku mau es teler, biar aku bisa teler kayak gini, he he he," kata Emir pada pelayan sambil tertawa. dan pria paruh baya itu tersenyum sambil mencatat pesanan Emir.
"Aku sup buntut, nasi juga di pisah, minumannya aku mau es kopyor, Paman." pesan Hira.
Setelah pelayan mencatat semua pesanan mereka dia pun pergi untuk menyiapkan makanan yang mereka pesan.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, pelayan itu meletakan sangat hati-hati.
"Ini restoran milik siapa yaa, desain bagus sekali, dan di atas banyak sekali lukisan terpajang indah."
"Pemilik restoran ini ada dua orang, Pak. Pak Boy sama satu orang lagi yang jarang kemari, Pak. Beliaunya akan datang kalau ada pengunjung yang memesan lukisan khusus dan kalau datang sekitar jam satu hingga jam dua siang hanya sebentar saja kecuali hari minggu dan sabtu beliaunya akan datang kemari dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore, Pak." kata Pelayan itu pada Andi dengan sopan.
"Bisa saya bertemu dengan Pak Boy," tanya Andi pelayan.
"Bisa, Pak. Kebetulan beliau sedang ada di sini," kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka menuju ruangan owner. Pelayan itu mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka, seorang lelaki muda dan gagah berdiri di depan pelayan, rambut yang masih basah membuat si Pelayan sedikit segan untuk menyampaikan keinginan pengunjung. "Ada apa Pak?" tanyanya pada Pelayan itu.
__ADS_1
"I--i--itu pengunjung ingin bertemu Bapak," kata Pelayan gugup, Boy tersenyum. "Baiklah, sebentar tunggu di sini, saya ijin dulu dengan istri saya, Pak," kata sambil masuk ruang pribadinya tak lama kemudian dia kembali lagi lalu menutup pintu kantor lalu dia mengikuti pelayan menuju meja Andi.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Boy pada Andi, Emir dan Hira mendongak keatas merasa mengenal suara itu. "Om Boy!" teriak mereka bersamaan. "Kalian kenal?" tanya Andi pada Cucunya.
"Om Boy ini kan rekan bisnis Ayah, Kek," kata Emir pada Kakeknya.
"Oh, jadi ...?" tanya Andi ragu
"Iya, Pak restoran ini juga milik Dantai dan lukisan yang terpajang di di atas dinding milik Dantai beberapa sudah terjual bahkan ada juga milik Emir dan sudah terjual semua, Pak," kata Boy sambil menarik kursi dan duduk bergabung dengan mereka. Andi menoleh kepada Cucunya. "Kapan kamu buatnya?" tanya Andi dengan rasa kagum.
"Ya setelah selesai belajar Kek, dalam kamarku ada ruang khusus untuk lukisanku seperti punya Hira juga, 'kan Kek," kata Emir pada kakeknya.
"Kalau begitu, kenalkan nama saya Andi mertuanya Dantai." Andi mengulurkan tangannya pada Boy pemilik restoran itu.
"Saya Boy, Pak. Senang berkenalan dengan Anda yang terkenal pengusaha sukses dan penuh ide cemerlang," kata Boy sambil menjabat tangan Andi.
"Anda bisa saja saya tak sehebat yang Anda bicarakan, justru saya kagum pada kalian Anak-anak muda yang lebih punya ide yang sangat bagus."
Mereka tertawa saling berbincang dan memuji satu sama yang lainnya.
Tak seberapa lama mereka pun menyudahi makan mereka, ketika Andi ingin membayar di larang oleh Boy.
"Sudah, Pak. Sudah kami selesaikan," kata Boy pada Andi.
"Wah, jadi gak enak ini saya," kata Andi sambil terkekeh.
"Tidak perlu merasa sungkan, Pak. Ini juga milik Dantai menantu Bapak.
"Yaa ... yaa saya mengerti trimakasih banyak traktirannya ini saya," kata Andi dengan ramah.
__ADS_1
"Iya sama-sama,Pak."
Andi pun keluar restoran bersama Cucunya menuju ke mobil mereka lalu meninggalkan restoran itu.