
Dantai menelan salivanya hatinya sangat sakit kala istri tengah digoda oleh kliennya itu. Ia pun tak pernah memungkiri bahwa pesona Istrinya sangat menonjol walaupun mempunyai kekurangan pada penglihatannya, kecerdasannya, insting bisnisnya sungguh luar biasa membuat aku terpukau saat mendiskusikan ide-idenya padaku. "Dan, apa kau marah?" Anta mendongak wajah kearah Dantai tangan meraba seluruh wajah Dantai ingin mengetahui expresi wajah Dantai. Dantai menghelah nafas.
"Aku tidak marah padamu, Bun. aku marah pada laki-laki yang menggodamu itu. Benar keputusan Bunda untuk tidak kerja sama lagi dengannya," katanya pada istrinya untuk menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh.
"Iya, aku marah pada saat itu dan memutuskan untuk menolak kerjasamanya lalu meninggalkan restoran dengan Dewi," kata Anta menjelaskan pada Dantai.
"Ya sudah, ayo kita tidur saja, keputusan yang kau ambil benar dan sekarang istirahatlah kau sudah bekerja keras tadi."
Mereka pun naik ke peraduan tak lupa sebelum tidur Dantai memberikan kehangatan yang mengasikan sekedar untuk melepaskan masalah dan kepenatan sehabis bekerja, hingga beberapa kali terjadi pelepasan cinta dan gairah.
Merekapun tidur saling berpelukan hingga suara adzan subuh membangunkan mereka. Dantai pun pergi ke masjid menunaikan sholat subuh bersama mertua dan anak lelakinya. Sedangkan para wanitanya sholat berjamaah di musholah rumah.
Setelah selesai menunaikan sholat subuh para wanita menyiapkan sarapan pagi lalu mereka sarapan bersama setelah mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Dantai pergi ke rumah sakit, sih kembar diantar kakeknya ke sekolah dan Anta ke tempat kerjanya bersama asisten pribadinya.
__ADS_1
Dantai harus segera pergi ke rumah sakit karena ada jadwal operasi di pagi hari.
Seperti biasa Andi mengantar anak-anak ke sekolah, seperti biasa mobil akan ramai dengan celotehan mereka dan itu sangat menghibur. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang dan berhenti di depan pintu gerbang sekolah, mereka mencium punggung tangan Andi, lalu keluar dari mobil lalu masuk melewati gerbang sekolah. Setelah dirasa Cucunya sudah berada di dalam sekolah Andi melajukan mobilnya menuju perusahaan besannya Hardan, ia begitu rindu dengan besannya itu.
Sebelum meluncur ke sana ia menelpon dan Hardan pun dengan senang hati menerima ke datangan Andi.
Andi menjalankan mobilnya menuju perusahaan Hardan dengan kecepatan sedang melintasi jalanan yang mulai sepi, berjalan terus hingga sampai di gedung berlantai lima dan berbelok di area parkir.
Andi keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah lobby seorang resepsionis menyambutnya. "Dengan Pak Andi, Bapak sudah menunggu di atas di lantai lima, lewat lift khusus yang ini, Pak," kata Resepsionis itu sambil mengantarkan Andi ke depan pintu lift khusus, kemudian Andi masuk kedalam, pintu pun tertutup, lalu bergerak ke atas mengantarkan kelantai lima kemudian berhenti tepat di lantai teratas, pintunya pun terbuka ia pun keluar dan berjalan melewati beberapa ruangan hingga sampai pada ruang paling besar bertuliskan ruang Presdir serta seorang sekertaris keluar dari ruangan paling depan sendiri, menyambut Andi.
"Mari Pak saya antar ke ruang kerja Pak Hardan." Sekertaris itu mengetuk pintu, dan terdengar sahutan dari dalam untuk masuk. Sekertaris itu pun membuka pintu dan menjelaskan bahwa Pak Andi sudah datang. Hardan mendongakkan wajah, tersenyum saat melihat siapa yang datang. "Trimakasih, Sonya. Kamu boleh kembali. Ayo masuk Pak Besan, apa kabar nih? Sudah sebulan yaa, kita gak ketemu paling yang ke rumah cuman Dantai, Anta, dan Anak-anaknya." Hardan berdiri dari meja kerjanya dan berjalan menyambut Andi mereka pun berpelukan lalu Hardan mengajak Andi duduk di Sofa. "Iya, ibu sering sakit-sakitan sekarang, apalagi memikirkan Anta karena tak kunjung sembuh dari kebutaan aku sudah bilang pasrahkan saja, Anta sudah menerima kenyataan hidupnya, Dantai juga tulus menerima putriku dengan keadaannya sekarang, setiap hari Dantai mempelajari cedera otak Anta dan mencari celah untuk bisa mengembalikan pengelihatan Anta apa boleh buat jika Allah berkehendak lain.
Hardan menghelah nafas, "Lalu bagaimana keadaan bu Nirma sekarang?" tanya Hardan pada Andi.
__ADS_1
"Sudah lebih baik, apa lagi Emir dan Hira selalu menghiburnya," jawab Andi.
"Syukurlah, kalau begitu nanti kalau Ira sudah kembali aku dan dia berkunjung, kesana," jawab Hardan.
"Emang Nyoya kemana, San?" tanya Andi."
"Ke Surabaya, jenguk Salva, saat ini sedang hamil tua anak kedua," jawab Hardan.
"Wah sebentar lagi kamu dapat cucu lagi, empat berarti yaa, San." kata Andi pada besannya itu.
"Anggap Cucumu juga, karena Salva juga sangat manja sama Mas Andi dan Mbak Rena," kata Hardan pada Andi.
Andi tertawa"Yaa, Kau benar aku harus bersyukur karena mempunyai Salva dan Era yang hadir dalam hidup ku ini, Mas, aku sampai lupa Era, anak angkat ku itu."
__ADS_1
Andi tertawa"Yaa, Kau benar aku harus bersyukur karena mempunyai Salva dan Era yang hadir dalam hidup ku ini, Mas, aku sampai lupa Era, anak angkat ku itu." Hardan menoleh. "Oh, ya bagaimana kabarnya dia?" Andi menghelah nafas. "Ia bersama suaminya, sebenarnya aku agak keberatan menikahkan dia di usia belia, di usia masih berumur 12 tahun, tapi apa boleh buat Era juga mencintai Aldo, dan Aldo berjanji untuk menjaga Era dan menunggu usia Era matang, dan beberapa hari yang lalu Era mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolahnya akhirnya Aldo memutuskan Era untuk home schooling."