
Di Apartemennya, Dosen yang bernama Aldo, merasa seperti telah jatuh dalam sebuah ketinggian yang membuatnya terluka begitu dalam.
Ia bangkit dari ranjang Apartemennya mengambil rokok dan menyulutnya.
Permainan belum juga di mainkan tapi sudah game over. Cinta baru saja di semai belum juga tumbuh tapi tiba-tiba di paksa pergi dari hatinya. Jika saja dia duluan mengenal Anta mungkin yang bersanding adalah dirinya walaupun itu khayalan liarnya tapi sungguh ia ingin di posisi sebagai suaminya, baru saja ia mau memutuskan masuk Islam tapi akhirnya urung di lakukannya karena gadis yang dikaguminya dan merupakan alasan kenapa ia ingin berpindah agama ternyata sudah menikah. Malam semakin larut tak membuatnya mengantuk, bahkan ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu Anta.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruhan ruang yang terjangkau dengan pengelihatannya. Ia memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan dengan sangat keras. Di berjalan meninggalkan balkon menuruni tangga satu-satunya menuju kamar tidur, ia baringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan mata berusaha untuk bisa terlelap dan melupakan kegundahan hatinya yang paling dalam.
...----------------...
Pagi hari nya Aldo terbangun, dilihat jam dinding sudah jam 7.00 pagi segera membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Dengan tergesa-gesa keluar dari apartemennya. masuk kedalam lift membawanya kelantai dasar lalu berjalan cepat menuju arah parkir lalu masuk kedalam mobilnya, Ia mengendarai mobil dengan kecepatan yang sedikit cepat dari biasanya, akhirnya iapun sampai di area parkir kampus. Aldo berjalan dengan cepat menuju kelasnya, dilihat jam tangannya, "Belum terlambat," gumamnya, segera ia memasuki ruangan kelasnya, pertama yang di carinya adalah seorang wanita yang mengenakan jilbab dan memiliki mata kebiru-biruan itu. Dia tersenyum saat matanya menemukan gadis itu.
Memulai dengan mata kuliahnya dengan melemparkan soal pada mahasiswanya untuk didiskusikan dengan kelompoknya dan menarik kesimpulan dari sebuah masalah yang timbul ketika sebuah keputusan diambil. Aldo menikmati wajah nan ayu dari mahasiswa itu tak peduli dia punya suami apa tidak, entah mungkin ia jauh dari kata waras, hati dan otak serasa bersatu untuk melakukan sesuatu yang salah, biar saja membuat suatu alibi berkedok persahabatan atau tugas kuliah yang harus di selesaikan yang terpenting ia ingin selalu berada dekat dengan wanita itu. Dalam hatinya pun berkata, "jika bisa ku rebut maka akan kurebut dirimu, dan jangan salahkan aku jika suatu saat nanti ia memilihku."
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa waktu untuk mata kuliah yang harus berakhir.
Ia pun mengakhiri pelajaran dan tetap duduk di belakang mejanya menunggu seluruh mahasiswa ke luar dan ia bisa mendekati Anta tanpa ada gangguan yang lain. Aldo mendekati tempat duduk Anta, "Bagaimana tugas yang saya berikan?" katanya mencari topik pembicaraan yang pas untuk bisa mendekati mahasiswa itu.
__ADS_1
"Masih di kerjakan pak dan masih di pikirkan jawabannya." jawab Anta sambil tersenyum.
"Siapa saja ya namanya tadi kelompok mu?"
"Oh, namanya Baran, Sinta dan Anni, kenapa emangnya? bukankah baru besok di diskusikan?" tanya Anta pada Dosen itu.
"Iya, makanya saya tanya padamu tentang kesiapan untuk mempresentasikan besok." katanya Aldo sambil tak berhenti menatap Anta.
"Kita lihat besok saja Pak, oh iya kenapa anda masih di sini? Bukankah mata kuliah anda telah selesai dari tadi." kata Anta sambil mengarahkan alat pada tulisan dibuku itu yang di ubah menjadi suara yang bisa di dengarkan Anta dengan headsetnya.
Aldo tertawa,"Kenapa? Tidak ada larangan dosen tetap di kelas, toh belum ada mata kuliah lagi."
Aldo tertawa, "Jika iya apa kau bersedia mengerjakannya, dan pasti akan menambah nilai mu di mata kuliah saya apa kau tertarik?"
"Wou, tawaran yang begitu menggiurkan, Apa itu berlaku untuk saya saja apakah juga untuk yang lain?"
"Uji coba berlaku untuk yang lain, akan menyesuaikan." katanya sambil tersenyum samar otaknya berfikir bagaimana caranya agar dia punya alasan untuk bisa berbincang-bincang dengannya walaupun hati dan otak bersinergi mengingatkan bahwa dia adalah istri orang dan telah punyai anak yang butuh perhatian lebih dari ibunya.
__ADS_1
"Penyesuaian yang bagaimana? Apa bisa jadi saya saja ataukah tergantung Bapak memberikan Quis untuk siapa?"
Suara Anta membuyarkan lamunannya. Aldo menatap Anta, "Apa kau keberatan? aku punya hak untuk tidak meluluskan mu." kata Aldo yang mulai sedikit tersinggung.
Anta tertawa, "Maaf jika Bapak tersinggung sebenarnya saya hanya tidak merasa diistimewakan dalam mata kuliah Bapak, jika Bapak mengadakan Quis untuk penambahan nilai terhadap saya, mereka pun berhak untuk mendapatkannya, itu saja."
Aldo tertawa Kembali," Tentu saja mereka pun akan mendapatkannya seperti yang kau dapatkan lalu apakah kamu takut jika tidak lulus?"
"Aduh ... Bapak jelas takut dong pak masak tidak, kita kuliah itu untuk dapat predikat lulus bukan hanya duduk di kursi ini sampai pantat tepos tapi gak dapat apa-apa, otak sampai panas karena memikirkan hepotesa dan analisa. Berharap punya nilai bagus bukan nilai yang jungkir balik, jelaslah saya merasa takut kalau nilai saya jadi ambles. Apa lagi saya tadi berfikir mungkin Bapak tersinggung dengan apa yang saya bicarakan tadi."
"Jika benar saya tersinggung bagaimana? Apa kau bersedia menebusnya?"
"Di tebus dengan apa? Jika itu bukan sesuatu yang tidak bisa saya lakukan akan saya kabulkan, bagaimana pun anda seorang dosen, harusnya saya bisa menahan lidah saya agar tidak membuat Bapak tersinggung tapi nyatanya saya justru membuat anda tersinggung. Dan maaf membuat anda tersinggung. Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Pak. Kalau ternyata tadi anda tersinggung."
"Ok! Apa kau bisa memenuhinya bila saya ingin mengajakmu makan siang besok."
"Lihat nanti saja ya, Pak. Karena saya bukan wanita bebas pergi begitu saja, saya juga harus ijin terlebih dulu."
__ADS_1
"Baiklah kapan kau bisa hubungi saya waktu di kampus saja, tidak perlu telpon. Dan kuharap ini hanya kita yang tahu soal ini," katanya sambil pergi meninggalkan kelas itu dengan membawa tas dan semua buku-bukunya di atas meja.
Anta menghelah nafas tidak mungkin ia tidak bercerita kepada suaminya akan tetapi dia kawatir ini justru menjadikan suatu bumerang dalam pencapaian nilainya. Ia tahu Dosen itu mempunyai tujuan yang dengan dirinya tapi ia tak mau menerkah begitu saja.