
Dantai mendorong kursi roda Anta mengitari area rumah sakit sambil terus berbincang dan bercanda hingga ia sampai ke ruang perawatan Anta, di sana Rudi dan Andi menunggu.
Ketika Dantai dan Anta memasuki ruangan Rawat Anta, Rudi mengulum senyum bahagia.
"Bagaimana perasaan mu An?" tanya Rudi seketika.
"Rud, kau juga di sini?" tanyanya dengan senyum yang mengembang.
"Tentu, aku tak akan membiarkan pria bucin ini gila sendirian, memikirkan kau akan menolak ke hadirannya di sini," kata Rudi tergelak.
Dantai terkekeh," Dia telah menolak ku untuk menikahinya sekarang juga."
"Aku tidak menolak mu hanya menunda sampai kau lulus, aku takut merepotkan mu nanti," kata Anta sambil mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan Dantai.
"Om, setuju dengan putri om, kamu selesai kan dulu kuliah mu lalu datang lah ke om bersama orang tua mu."
"Baik om, boleh saya menemani Anta selama satu minggu di sini?"
"Boleh, tapi jaga batasan ya...Dan."
"Ok! om, Dan janji deh."
"Jangan kwatir om, dia pria baik sama dengan saya, om," Kata Rudi terkekeh.
" Sayangnya Anta tidak punya adik kalau punya, om jadikan kamu menantu om juga."
"Dia sudah teken kontrak om dengan cewek, jadi gak ada cewek yang bisa dekati dia lagi,"
kata Dantai sambil tertawa.
"Loh kok bisa Dan, gimana ceritanya?"
Dantai menceritakan apa yang terjadi 6 bulan yang lalu di depot Rudi. Mereka pun tertawa, Rudi tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lalu gimana ke lanjutan dengan Rud?" tanya Andi pada Rudi
"Yah gitu deh om, aku yang susah saat ini, lahir batin deh," katanya sambil tertawa.
"Masak setiap kali dia ajak kencan aku, pakaian minim sekali om mana susah suru dia ganti pula. Di tekan juga gak bisa om karena menyangkut kelangsungan hidup depot aku."
"Ya, sudah nikmatin aja, Rud."
__ADS_1
"Apanya om yang di nikmati?" tanya Rudi bingung.
"Tergantung Rud, itu membuat kamu senang apa menderita?" tanya Andi sambil terkekeh di ikuti oleh Dantai dan Anta.
"Nah itu om yang jadi masalahnya aku merasakan dua-duanya om," kata Rudi sambil meringis.
"Jadi kamu ada di sana saat mereka telpon aku?"
"Bukan telpon non, video call," kata Rudi
"Apa, video call ! jadi kamu juga lihat aku Fif.
"lya," kata Dantai
"Maaf An, kami tak tega melihatnya seperti orang gila," kata Rudi. Anta menghela nafas panjang," Ya sudah lah gak papa."
"Dan," panggil Rudi
"Ya."
"Besok aku harus pulang, kalau tidak gadis itu bakal bikin masalah lagi di depot."
"Pagi saja Dan,"
"Ok! aku pesan kan untuk keberangkatan pagi.
"Kenapa buru-buru pulang, Rud?" tanya Andi.
"lah itu dia om, gadis itu selalu buat saya pusing,"
"An nanti ikut kumpul ya... sama teman-teman, biar di jemput Dantai."
"Lihat nanti ya Rud," jawab Anta
"Tak ada penolakan An, sudah tak ada yang ingin kau hindari."
"Pergilah An, buat hati mu bahagia," kata Andi pada putrinya.
"Om masih ada keperluan, om tinggal dulu nanti om jemput," kata Andi pada mereka.
"Baik om," jawab mereka.
__ADS_1
Andi pun pergi meninggalkan mereka.
Dantai memanfaatkan waktu bersama Anta. sementara itu Rudi dan sari keluar untuk mencari makanan, tak lama kemudian mereka pun kembali dengan kantong plastik yang berisi beberapa nasi kotak, Rudi mengeluarkan empat nasi kotak dari kantong plastik dan menaruhnya di meja, ia mengambil 1untuk di makannya, begitu pula Sari, Dantai mengambil satu di letakan di meja dan berjalan mendekati Anta yang duduk di kursi roda, ia heran kenapa sepi begini kemana mereka pikirnya, ia menajamkan pendengarannya. Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba tubuhnya melayang dan berpindah pada pada sofa yang empuk.
"Makan dulu Honey," kata Dantai sambil mengambil nasi kotak dan membukanya, la mulai menyendok dan di arahkan ke mulut Anta," Buka mulutnya sayang," kata Dantai lembut.
"Dan biar aku sendiri saja aku bisa," katanya malu
"Tidak aku ingin memanjakan mu, kita tak akan sering begini Honey, tadi waktu sholat duhur di masjid pun kau hampir jatuh, andai kita sudah menikah aku akan lebih mudah menjaga mu Honey."
"Jangan kwatir dan jangan terlalu memanjakan ku, aku harus mengatasi ketidak percaya diri ku dulu Fif. Aku selalu takut untuk bertemu dengan mu, aku takut kau tak akan mencintai ku karena kondisi ku saat ini.
"Kau tahu An, hati ku berdebar ketika melihat mu dan tak sanggup menjauh darimu." kata Dantai terus menyuapi Anta, sesekali ibu jarinya menyentuh bibir Anta untuk membersihkan dari sisa makanan.
Hati Anta berdesir saat jemari Dantai menyentuh bibirnya, hingga makanan itu habis tak tersisa dan memberikan segelas air untuk di minum.
Dantai pun mengambil nasi kotak yang tinggal satu, ia pun memakannya dengan lahap, entah bersama Anta nafsu makannya menjadi meningkat. Hari- hari tanpa Anta terasa hidupnya hampa tanpa warna. Ia menyuap makanan ke mulutnya sesekali melihat Anta. gadis itu menyandarkan bahunya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata. Dantai mulai menikmati makanannya kembali. setelah selesai ia pun meneguk air di gelas yang sama yang di minum Anta.
Dantai membersikan tangannya di wastafel lalu membuang kotak sisa makanannya. Ia melihat Anta terlelap dengan sangat nyenyak di sofa.
Di gendongnya tubuh itu dan dibaringkannya di ranjang. ditatapnya sejenak gadis yang menjadi pujaan hatinya itu, lalu ia keluar ruangan membiarkan Anta bersama Sari perawat Anta.
"Rud, kau merokok," tanya Dantai ketika ia sudah berada di luar dan melihat Rudi merokok.
"Hanya sedikit Dan, hati ku kacau," kata Rudi dengan tatapan menerawang
"Maaf, merepotkan mu, Rud."
"Tidak apa Dan, aku senang direpotkan oleh mu Dan."
"Kau tak ingin berbagi dengan ku?" tanya Dantai menatap Rudi.
"Belum saatnya Dan," jawab Rudi.
"Baiklah akan ku tunggu waktu itu," katanya sambil jemarinya menari di di atas handponenya. Tiba-tiba bunyi notifikasi handphone Rudi berbunyi, Rudi mengambil handphonenya dan terkejut dengan nominal yang ada di mobile bankingnya
"Dan, apa maksudnya?" tanyanya pada Dantai.
"Untuk mu, itu tak seberapa di banding apa yang kau lakukan padaku ,Rud. Kau menjaganya, kau membuatnya tersenyum dan tertawa hingga ia melupakan kondisi dirinya yang tak lagi sempurna menurut pandangannya sendiri. Padahal aku selalu melihatnya sebagai Anta yang dulu, yang penuh percaya diri dan selalu mengganggap enteng sebuah masalah, hingga menganggap tak akan terjadi sesuatu padanya, sebesar apapun masalahnya. Aku mengagumi karakternya Rud, aku menyukai kepolosannya ketika aku melihatnya kembali waktu video call dulu aku jatuh cinta padanya untuk pertama kalinya setelah ingatanku hilang."
Rudi memeluk sahabatnya," Trimakasih Dan telah menjadi temanku dari dulu sampai sekarang, kau tahu Dan yang kulakukan hanya hal kecil tidak lebih besar dari yang kau lakukan padaku dan keluarga ku."
__ADS_1