
Hira masuk bersama dengan Ayah minta di turunkan di atas ranjang lalu Dantai menurunkan putrinya tepat di samping Anta tengkurap.
"Hira, pijat kaki Bunda, yaa." Hira mulai memijat paha Anta tanpa menunggu persetujuan Bundanya.
Dantai tersenyum melihat begitu sayang putra-putrinya terhadap Bundanya.
Dia membuka lemari mengambil baju dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah beberapa menit kemudian dia keluar dengan telah memakai pakaiannya melihat kamarnya sudah sepi putra-putri sudah keluar dan Anta duduk di bibir ranjang dengan kaki menjuntai di lantai.
Dantai menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu menghampiri Anta mencium bibir Istri dengan sangat lama lalu menatapnya. "Kenapa, apa yang bunda pikirkan?"
Anta menyentuh dan meraba wajah Dantai. "Aku tak pernah mengenal wajah ini lagi Dan."
Dantai tersenyum. "Kenapa kau merubah panggilanmu? dulu kau suka panggil aku Afif, kenapa berubah?"
Anta terkekeh. "Entahlah Dan, panggilan ini begitu akrab di telingamu bukan, semua orang memanggilmu Dantai, seolah itu bagian dari dirimu, aku ingin menjadi bagian dirimu."
Dantai tertawa. "Boleh asal jangan kau panggil aku Tai-Tai."
Anta tertawa. "Kau mengingatnya?" Dantai mengangguk. " Iya, satu minggu yang lalu, aku mengingat masa lalu kita, Bun.
"Ku harap kau mendapatkan pengelihatanmu juga, Bun. Suatu saat nanti." kata Dantai penuh harap.
"Ya, semoga Allah mengembalikan pengelihatanku kembali." kata Anta sambil terpejam mengingat masa yang indah saat ia masih bisa melihat.
__ADS_1
"Bun, Mandi sana! Aku akan siapkan pakaian Bunda," kata Dantai sambil mencium bibir Anta sekilas.
Anta berjalan menuju kamar mandi sambil berkata, "jangan ambilkan pakaian yang aneh-aneh ya malu sama anak-anak."
Dantai tertawa mendengar jawaban istrinya.
Beberapa menit kemudian Anta sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bath robe, berjalan menuju ranjang lalu mengganti pakaiannya di hadapan Dantai, Dantai hanya melihat saja pemandangan itu tanpa ingin mengganggunya.
Setelah berganti pakaian Dantai mengajaknya bergabung di ruang tengah bersama Anak-anak, Papi, Mami dan Nenek, di sana mereka bersenda gurau di sana.
Emir dan Hira selalu membuat suasana semakin ramai ada saja kelakuannya. Saat ini mereka berebut keripik kentang, padahal di meja masih ada keripik kentang yang lainnya. "Hira di meja kan masih ada keripik yang sama," kata Dantai pada Hira.
Hira menatap Ayahnya " Aku mau punyanya kak Emir, Hira malas buka yang baru."
Dantai terkekeh. "Bawa kemari Ayah bukakan."
Hira tersenyum. "Buat Ayah dan Bunda." Dantai pun tersenyum. "Trimakasih Hira, kamu perhatikan sekali."
Emir menatap pada Ayah. "Jadi Emir tidak perhatian pada Ayah dan bunda gitu."
Dia mengambil keripik dan di berikan pada Dantai, Dantai tertawa sambil menepuk keningnya ia lupa kalau anak kecil selalu iri dengan saudara dalam hal pujian. "Trimakasih, Emir putra Ayah yang tampan ini, Kamu perhatian sekali, sama dengan putri ayah yang cantik ini." kata Dantai memuji keduanya.
Emir tersenyum merasa puas. Dantai membukakan keripik kentang untuk Hira lalu untuk Anta dan terakhir untuk di dirinya sendiri untuk menyenangkan Emir.
Adzan magrib berkumandang, mereka melakukan sholat jamaah. Iyut solat di atas kursi rodanya bersama dengan mereka.
__ADS_1
Setelah itu Rena menyiapkan makanan malam di bantu oleh Bik Sarti, seperti biasa dua kembar itu membikin heboh meminta membantu membawa makanan di meja makan.
Tak urung mereka pun mengalah dengan memberikan piring dengan makanan yang aman untuk di bawah ke meja makan, Emir membawa sepiring potongan buah pepaya dan Hira membawa sepiring puding di letakan di atas meja setelah selesai mereka duduk bersama di meja makan.
Dantai membantu Iyut duduk di kursi meja makan, lalu merekapun makan bersama.
Setelah selesai makan Dantai membantu Iyut duduk di kursi roda. Iyut mau kemana? Di sini bersama anak-anak ataukah di kamar?"
"Disini saja Dan, Nenek ingin lihat anak-anak belajar, Dan apa pengelihatan Anta tidak bisa pulih? Sebelum Nenek tiada, ingin sekali melihat Anta bisa melihat kembali," katanya sambil melihat cucu mantunya itu.
Dantai menghelah nafas. "Aku selalu berdoa dan mempelajari cedera otak besar Anta yang mempengaruhi pengelihatannya Nek, bahkan sudah ku bahas dengan dokter alih saraf yang lainnya mereka pun mempunyai pendapat yang sama kemungkinan kecil Anta bisa melihat kembali."
Kita berdoa saja hanya doa yang bisa kita lakukan saat ini, Nek." kata Dantai tersenyum ia lalu meninggal Iyut di ruang tengah bersama Andi, Rena, Emir dan Hira.
Andi menghampiri ibunya. " Bu, mau duduk di sofa sambil selonjoran?" tanyanya sambil berjongkok didepan kursi roda Ibunya. Ibunya hanya mengangguk lalu Andi menggendongnya dan mendudukkannya di sofa lalu Andi menata bantal untuk sandaran Ibunya di di ujung gagang kursi.
Bu Nirma, Ibu Andi bersandar dengan sangat nyaman melihat cicitnya belajar. Dantai membawa beberapa peralatan untuk mengecek kesehatan Neneknya. Dantai begitu memperhatikan kesehatan beliau hingga makanan yang disiapkan untuk beliau pun di atur sesuai standard kesehatan manula, menggaji ahli gisi untuk menjaga asupan makanan Neneknya.
Dantai tersenyum. "Semua normal, Nenek harus sehat terus agar bisa melihat si kembar dewasa, dan bisa melihat adik-adik Emir dan Hira juga." Nenek Nirma terkekeh sambil memukul cucu menantunya itu. "Apa kau akan berencana untuk menambah anak lagi? Apa jangan-jangan Anta sudah mulai berbadan dua."
Dantai tertawa. "Belum, Nek. Akan tetapi jika Nenek bahagia dengan kehadiran Cicit-cicit Nenek yang lain akan ku buatkan." Dantai tertawa.
Nenek Nirma ikut tertawa begitu juga Andi yang duduk di dekat Ibunya. "Kalau buat sih itu sering kau lakukan, Dan. Bahkan kalau kamu menjemput putriku pasti deh gak langsung pulang," timpal Andi terkekeh.
"Papi tahu saja, jadi gak enak sama Nenek di bongkar habis sama Papi." Nenek Nirma kembali tertawa hingga sudut matanya keluar air mata, di genggamnya tangan kekar Dantai menatap penuh kasih sayang. "Trimakasih telah menerima cucuku yang sudah tak sempurna dulu, menemaninya dalam keterpurukan, dan memberikan limpahan kebahagiaan untuknya serta membuatnya tertawa di setiap saat."
__ADS_1
Dantai tersenyum mencium punggung tangan wanita renta itu. "Aku mencintainya saat dia remaja lalu dewasa kemudian menjadi tua, selalu tetap mencintainya, Nek. Saat dia bisa melihat atau pun tidak." Nenek Nirma tersenyum pada Dantai sambil menyeka air matanya.
Emir Melihat Iyutnya berbicara dengan ayah menjadi curiga, ia mengajak Hira untuk mendekati mereka dan meninggalkan pelajarannya.