Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Menjaga Maera


__ADS_3

Setelah makan mereka pun keluar dari restoran itu henti-hentinya Maera memuji menu makanan itu dan kemewahan tempatnya. Mereka menghampiri mobilnya dan masuk kembali lalu berjalan lagi membela jalanan.


Sepanjang jalan ia bertanya kenapa Abang tidak membayar semua makanan itu. Aldo hanya menjelaskan pada Maera seadanya.


"Nanti aja pulangnya ya, Ikut ke kampus dulu menunggu menyelesaikan pekerjaan Abang" kata Aldo sambil mengemudikan mobilnya menuju kampus.


"Baiklah, tapi di sana ada makanan ringan tidak? Kalau tidak bisa pingsan aku, karena bosan menunggu Abang kerja," kata Maera sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu kira ruangan kerja abang itu supermarket apa, Ra?"


"kali, Bang," jawab Maera.


"Kalau kamu mau kita mampir dulu ke supermarket."kata Aldo sambil menoleh sebentar lalu tersenyum.


"Yeee, benarkah? Itu baru Abang ku sayang," teriak Maera dengan girangnya.


Aldo hanya tersenyum menanggapi tingkah gadis kecil. Lalu ketika membelokan mobilnya ke supermarket saat akan melewatinya, kemudian berhenti di halamannya, Aldo memberikan lima lembar uang seratus ribuan pada Maera. "Beli apa yang kamu inginkan. Abang tunggu di sini."


Baiklah, tapi ini terlalu banyak, Bang." protes Maera.


"Kalau ada sisa ya di simpan saja, Ra." kata Aldo sambil mengecek handphonenya. Maera pun keluar dari mobil dan berlari ke supermarket.


Tak seberapa lama ia kembali dengan membawa satu kresek besar makanan ringan dan minuman dingin, ia pun masuk dalam mobil dan duduk di sebelah Aldo. lalu mobil itu berjalan meninggalkan supermarket menuju kampus di mana Aldo mengajar. Setibanya di sana mereka pun keluar dari mobil berjalan menuju kantor Aldo.


"Bang, jangan cepat-cepat jalannya, Era kan kakinya kecil." kata Maera


"Naik ke punggung, Abang," kata Aldo sambil berjongkok. Maera pun naik ke punggung Aldo. mereka pun berjalan menuju ruang kerja Aldo.


setelah sampai ia pun menurunkan Maera. kemudian ia membuka pintu ruangannya dan mengajak Maera masuk. Di dalam Maera melihat-lihat ruangan Aldo ia ada kulkas di sana di ambilnya minuman dingin dari kantong kreseknya dan di simpan di dalam lemari pendingin itu. Ia mengambil Satu untuk dirinya dan satu untuk Aldo di letakan kopi dingin di mejanya. lalu ia berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana, gadis itu dengan nyaman berbaring sambil mengunyah makanan yang di beli dari supermarket, sesekali melihat ke arah Aldo yang mulai sibuk dengan laptopnya. mulut dan tangannya tak bisa diam hingga ia pun lelah, di letakan makanan ringan di atas meja lalu menelungkupkan tubuhnya, rasa kantuk tak bisa di tahannya lagi ia pun akhirnya tertidur.


Aldo tersenyum melihat Era yang tidur, dia memotret gadis itu dan dikirimkan ke nomer Dantai agar tak kawatir dan tahu bahwa Maera bersama dengannya.

__ADS_1


waktu terus berjalan tak terasa sudah sore, karena tak tega membangunkannya Aldo menggendongnya sampai ke mobilnya, ia meminta tolong untuk di bukanya pintu mobil tengah oleh sekuriti setelah terbuka ia membaringkan tubuh gadis kecil itu di kursi penumpang, kemudian menutup pintu tengah. Lalu berjalan menuju pintu mobil depan dibukanya lalu masuk dan duduk di belakang kemudi menutupnya kembali lalu menarik tuas dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kampus. dengan kecepatan sedang ia mengemudi kendaraannya, namun tiba-tiba ada orang menyeberang jalan, membuatnya segera menghentikan mobil secara mendadak hingga tergoncang sangat keras.


Gubrak!


Maera pun terjatuh dari atas kursi penumpang dengan keras, "Aduh!" teriaknya.


"Abang! Kenapa gak hati-hati sih?!


Aldo tertawa. "Maaf Maera tadi ada orang menyeberang tanpa melihat jalan, ya ... jadi abang berhenti dengan tiba-tiba."


"Sakit tahu, Bang." gerutu Maera.


Aldo pun terkekeh. "Jangan salahkan aku, Ra. Salahkan orang yang menyebrang jalan, Ra," jawab Aldo.


"Mana orangnya?" tanya Maera.


"Pergi, Ra," jawab Aldo masih fokus dengan kemudinya.


Maera mendengus, lalu duduk bersandar. "Kenapa gak bangunkan aku, Bang?" tanya Maera sambil menyipitkan matanya.


"Ini gara-gara, Abang. Ngajak Era ke kantor, Abang. Jadi sekarang badan aku sakit semua."


"Maaf, Ra. Besok deh sofa Abang ganti dengan spring bed." kata Aldo sambil tersenyum samar.


Tak seberapa mereka pun sampai di kediaman Andi. "Abang gak mampir ya, Ra. Abang masih sibuk nih," kata Aldo.


"Nanti Abang belum bisa ke sini, Ra," kata Aldo kembali


"Kenapa?" tanya Maera lagi.


"Abang harus kerja, Ra. Biar dapat uang banyak dan kasih uang jajan kamu banyak."

__ADS_1


"Kenapa, Abang kasih uang jajan sama Maera?"


"Untuk jagain kamu," kata Aldo lagi.


"Kenapa, jagain Era?" tanya Maera lagi.


"Supaya tidak di ganggu cowok lain."kata Aldo.


"Emang Era apanya, Abang?" kembali Maera bertanya.


"Kamu calon istri, Abang, jadi harus Abang jaga dan Abang tunggu sampai kamu besar, baru Abang nikahi." katanya frontal sudah gatal rasa ingin nyentil keningnya.


"Emang, Abang mau sama aku? aku ini hanya anak angkatnya papi Andi, dulu aku tinggal di panti asuhan dulu," kata Maera.


"Maulah, Ra. Aku juga sudah yatim piyatu, sejak umur 14 tahun aku kehilangan orang tuaku. Kamu itu masih kelas 2 SD, tapi pikiranmu sudah sangat dewasa." kata Aldo.


"Janjinya, Bang. Bakal nunggu Era besar awas ya kalau Abang suka mbak-mbak,"


"Kamu mau sama, Abang? kalau kamu besar, Abang, pasti sudah tua." kata Aldo sambil menatap Era.


"Berapa emang umur, Abang, nanti?" tanya Era mendekatkan wajahnya ke Aldo.


Aldo terkekeh, melihat ulah Era padanya.


"Usiaku nanti 36 tahun saat kamu berusia 18 tahun."


"Tidak apa, suami rasa ayah," kata Maera sambil tertawa. Aldo pun mengusap rambut Maera gemas.


"Jadi deal ini mau sama, Abang. Kalau sudah besar." tanya Aldo pada Maera lagi dan dia mengangguk.


"Kalau begitu harus jaga hati ya kalau kamu sudah masuk SMP."

__ADS_1


"Pasti, Bang. Abang juga ya, jangan sampai suka sama mbak-mbak, awas ya. Nanti Era nangis loh." kata Maera lagi.


"Iya, sudah sana masuk nanti di cariin, Abang yang di marahi sama om," kata Aldo sambil terkekeh. Maera mencium punggung tangan Aldo lalu berlari masuk kedalam pintu gerbang. Aldo pun mengirim pesan singkat pada Dantai bahwa ia hanya bisa mengantarkan Maera sampai pintu gerbang karena masih ada pekerjaan yang harus diurusnya. Aldo menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Andi menuju restorannya. Tak lama kemudian ia sampai di sana dan masuk kedalam ruangannya lalu duduk di meja kerjanya menghadap layar komputer, memeriksa keuangan beberapa restoran yang ada di Singapura, dia mulai larut dengan angka-angka di dalamnya.


__ADS_2