
Saat ini mereka sudah bersiap-siap untuk pergi menikmati mentari di pagi hari di pinggiran pantai, mereka menunggu speed boad yang membawanya dari Overwater Villas ke pinggir pantai.
Berjalan bergandengan tangan menikmati sejuknya angin pantai di pagi hari, membiarkan kaki tanpa alas menapaki pasir putih yang dingin.
Senyum merekah di bibir pemuja cinta yang meraih kehangatan di sisa badai. Membiarkan luka mengering seiring waktu berjalan, menapaki rasa yang masih mengabur, tak peduli mata hati buta menerima kasih tanpa cinta, tetap saja bisa terasa basah walau sangat hambar
Jasmine membuang rasa perih yang tiba-tiba hadir direlung hati, cinta tak bertuan berdiri menunggu, di depan pintu hati hingga sang pemilik membuka lebar menyambut penuh kehangatan.
Rio tahu bahwa hati sang istri sedang tidak baik-baik saja, entah apa yang membuat wanita ini menjadi berubah seolah pikiran tidak berada di sini
"Ada apa? Apa yang kau pikirkan? Akan kah aku membawamu kembali ke vila? Kita tuntaskan di tempat tidur," bisiknya membuat Jasmine melotot dan memukul tangan pria tersebut. Rio pun tertawa. Lalu merangkul pundak Istrinya, kita mau sarapan di mana terserah kamu di sini banyak restoran, kau tinggal pilih dan aku tinggal bayar," kata Rio terkekeh.
Jasmine terseyum, dia menatap Rio dengan penuh arti. "Trimakasih, telah berusaha mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu jika tidak, untuk apa aku membawamu ke sini," kata Rio berbohong, ia tak ingin Jasmine selalu menanyakan apakah dia mencintainya ataukah tidak.
Mereka pun sarapan disebuah restoran prasmanan. Rio memilih makanan yang cocok dengan lidahnya begitu pula dengan jasmine. Mereka sarapan dengan tenang setelah selesai mereka menuju penyewaan kapal selam untuk wisata bawah laut.
Setelah itu mereka masuk ke kapal selam lalu duduk di tempat duduk mereka, bersama penumpang lainnya.
"Apa kau senang Jas?" tanyanya pada istrinya.
"Ya, aku sangat senang, apalagi bersama mu Mas Yo," katanya sambil tersenyum.
"Kita akan selalu bersama, Jas. Aku akan membersamaimu selamanya," kata Rio. Jasmine menatap sang suami dengan tatapan sendu, lalu tersenyum.
Rio memegang jemari tangan sang istri sambil berkata, "Kita akan seperti ini sampai mempunyai beberapa anak lalu anak-anak kita menikah kemudian kita menua bersama, saat anak-anak nanti sudah besar, kita akan ke sini, mengenang cinta kita sekali lagi.
Saat itu aku bukan lagi pria gagah yang kau tatap berjam-jam untuk menungguku menoleh kepadamu. Saat itulah pria tua ini akan menatapmu dan menanti senyuman yang manis di bibirmu," kata Rio yang membuat Jasmine semakin tergugu.
"Hai aku sedang merayumu, kenapa kau malah menangis? Apa aku bukan pria yang pandai merayu?" katanya pada istrinya sambil menghapus air mata istrinya.
__ADS_1
"Justru kau pandai merayu membuatku ingin menangis," kata jasmine.
"Jangan menangis kita di sini untuk menikmati wisata bawah laut, nanti di kira kita sedang bertengkar," kata Rio sambil meraih kepala Istrinya lalu merengkuhnya dan menaruhnya kedalam dada mereka.
Setelah puas menangis ia pun kembali menikmatinya hingga kembali ke atas atas daratan.
Beberapa tempat mereka kunjungi dengan transportasi udara, karena bandara sangat dekat dengan tempat mereka menginap.
Pantai- pantai yang indah dan beberapa restoran yang mampu memanjakan lidah mereka, telah mereka kunjungi.
Di saat pagi hari hingga sore Rio memanjakan istrinya berpergian di berbagai tempat dan ketika malam hari ia memanjakan istrinya dengan sentuhan cinta bergelora.
Selama satu Minggu mereka berada Maldives dengan pesona wisata yang luar biasa, pengalaman yang indah bagi Jasmine dan akan menjadi kenangan terindah saat dia harus meninggalkan suaminya nanti, ia tidak pernah menyesal, seandainya suatu saat akan menyerahkan cintanya pada wanita lain. yang akan menjadi pengganti dirinya.
Dia cukup puas jika saat ini sudah menguasai separuh hati suami.
Hari ini Jasmine berbenah untuk kembali ke Indonesia.
Setelah melewati malam yang indah bersama suaminya, dia pun mulai menata baju-bajunya, ke dalam koper.
"Sebentar, Mas Yo. Sekalian nunggu rambutku agak kering, nanti bantalnya basah.
"Ya, gak apa-apa basah, Jas. Daripada kamu besok kelelahan," protesnya kembali.
"Ini tinggal sedikit lagi, Mas Yo," kata Jasmine.
Rio bangun dari rebahannya lalu berjalan mendekati Istrinya. "Sini biar aku saja! Aku gak mau yaa, kamu kelelahan," larang Rio.
"Mas Yo, 'kan yang buat aku kelelahan," jawab Jasmine.
Rio terkekeh mendengar jawaban Jasmine.
__ADS_1
"Bukan, sayang tapi bikin kamu seneng," kata Rio sambil memasukkan sisa pakaian yang masih dalam lemari.
Setelah selesai semua dia menyusul sang istri pergi tidur.
"Tidurlah!" bisiknya sambil memeluk Jasmine.
Malam merayap menemani insan yang tengah tertidur lelap, dengan pekat dan hawa sejuknya hingga cahaya sinar matahari menyembul malu-malu menampakan wajahnya yang terang.
Jasmine dan Rio sudah terbangun sejak adzan subuh berkumandang, suami-istri itu sudah siap untuk meninggalkan tempat yang paling istimewa sepanjang pernikahannya.
Sarapan pagi istimewa telah di siapkan oleh resort mereka pun makan dengan tenang.
Rio tak melihat sahabatnya itu, sepertinya vila yang di tempati telah kosong. Dasar si Dantai, pulang gak bilang-bilang, pikir Rio.
Mereka telah menyelesaikan sarapan paginya. Tinggal menunggu speed boat yang membawa mereka di tempat yang di tujuh
Tak seberapa lama yang di tunggu datang juga mereka pun naik kendaraan air yang mengantarkan ke Bandara, tak seberapa lama merekapun tiba di sana.
Rio dan jasmine berjalan menuju ke terminal keberangkatan dan di sana mereka melihat Dantai dan Anta duduk di ruang tunggu dan menghampirinya.
"Ku kira kalian sudah pulang, karena ku tanyakan pada pihak pengelola kalian sudah check out.
"Kami mengunjungi beberapa pulau, dari pada bolak-balik ke vila yang sama lebih baik kami bawa koper kami dan menginap di sana," jawab Dantai dengan expresi datar.
"Aku gak kepikiran yaa, Dan kayak kamu," kata Rio sambil terkekeh.
"Karena kamu lagi asik sama jasmine jadi otak kamu jadi tumpul," Sarkas Dantai.
Rio pun tertawa. "Kamu juga sibuk dengan Anta tapi kenapa otakmu tidak tumpulnya?" tanya Rio
"Dari dulu kamu dan aku kan memang selisih dua tingkat Yo dalam berpikir?" jawab Dantai dengan kalimat menohok membuat Jasmine dan Anta tertawa.
__ADS_1
"Si@lan kau Dan!" umpat Rio membuat Dantai tertawa terbahak-bahak.
Pemberitauan bawah pesawat akan segera berangkat membuat mereka beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pesawat mereka, masuk dan duduk di tempat duduk mereka masing-masing, memasang sabuk pengaman mereka, tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas.