
pembangunan restorannya yang akan di lihat mereka memang masih 40% dan jalan masih berbatu membuat Clara kesulitan menyusul Boy, high heelsnya nyangkut di bebatuan membuatnya terkilir dan terjatuh.
Pak Boy!" teriak Clara. Boy yang sudah jauh dari Clara mendengar jeritan Clara pun menoleh kebelakang, dia pun terkejut lalu berjalan menghampiri Clara yang terduduk di tanah sambil memegang pergelangan kakinya. Boy berjongkok melihat pergelangan kaki Clara yang membengkak dan membiru.
"Kamu itu ceroboh sekali sih, sudah tau jalannya begini, kamu jalan juga loncat-loncat mana pakai high heels lagi."
"Itu Bapak jalan juga cepat, bikin saya keteteran ngikuti langkah Bapak, kemarin kenapa bapak gak bilang ke ayah kalau survei lokasi, jadi kan saya bisa pakai sepatu kets." kata Clara dengan mata berkaca-kaca menahan sakit.
"Sudah jangan nangis, naik ke punggung saya," kata Boy pada Clara.
"Gimana bisa naik pak rok bawahan saya pendek jika tahu begini saya pakai celana panjang, Boy yang pusing karena Clara tak berhenti bicara, akhirnya menggendong gadis itu. dan mendudukkan di atas batu besar dekat pohon besar, tunggu di sini dulu saya mau lihat proses pembangunannya," katanya sambil menatap Clara, lalu tiba-tiba mengecup bibir itu sekali lagi lalu pergi begitu saja," Clara terbengong dengan perlakuan Boy.
Di kantornya Surya bertemu dengan Brian yang berkunjung ingin membahas sesuatu hal yang pribadi, mereka duduk santai di sofa.
"Begini pak Surya 2 hari yang lalu itu mobil Boy itu di tabrak dan ternyata penabraknya adalah putri Bapak, dan ponakan saya itu kelihatan tertarik dengan putrinya Bapak, jadi mungkin keinginannya untuk mengajak anak Bapak bekerja juga dalam misi pendekatan.
"Bagaimana menurut pak Surya apa bapak mengijinkan anaknya di dekati? tanya Brian
"Surya pun terkekeh, saya sudah membaca itu, maka saya mengijinkan, katanya pada Brian yang ikut tertawa .
Setelah selesai Boy kembali ke tempat di mana Clara duduk. ia pun melihat pergelangan kaki Clara. di lepas kan sepatu Clara lalu krak dengan cepat dia menggerakkan kaki Clara ia pun berteriak dan memukul bahu Boy berulang kali," Bapak itu mau patahin kakiku atau bagaimana? sakit tau! gimana kalau saya malah gak bisa jalan." katanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Boy menghela nafasnya," coba dulu kakinya bisa di gerakan enggak, Clara mengerakkan kakinya lalu tersenyum dan tertawa lalu memeluk Boy dengan antusias. ia tiba-tiba saja melepas pelukannya," Maaf kelepasan," katanya sambil meringis.
"Gak papa kelepasan terus juga gak papa, saya gak keberatan kalau kamu peluk saya." katanya beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului Clara.
"ih itu sih mau Bapak." katanya sambil menyusul Boy yamg saat ini berjalan pelan menuju mobilnya, Boy terkekeh," Gak papa karena itu normal," katanya sambil duduk di mobil di belakang kemudi dan Clara pun duduk di sebelah Boy."
"Pak Boy gak punya keinginan mampir ke mana gitu, cari makan apa gitu?
__ADS_1
"Enggak tuh, saya malah pingin makan orang saat ini," kata sambil mengemudi,
"Bapak kanibal? sayang sekali ganteng-ganteng suka makan orang."
"Udah deh, sekarang juga ke kantor ayah kamu, dan besok kita nikah deh." Katanya sambil fokus mengemudi.
"Bapak itu sebenarnya mau ngelamar saya apa beli kacang sih," kata Clara dengan mengalihkan pandangannya di luar kaca."
"Ya jelas kalau beli kacang gak akan mungkin Clara, gak ada jual kacang."
"Masud saya apa Bapak gak bisa romantis dikit gitu kasih cincin ke Clara gitu, atau rayu Clara gitu." jawab Clara, Boy tertawa mendengar jawaban Clara.
"Kenapa pakai dirayu, kamu tanpa di rayu sudah mau sama saya." katanya terkekeh kembali. Clara yang gemas memukul bahu Boy.
"Bapak itu narsis sekali, siapa yang mau coba?"kata Clara sambil menyipitkan matanya.
"Clara, saya itu orang spontan dan gak suka basa-basi, jadi kalau suka sama wanita ya gitu sikap saya seperti sikap ku kepadamu. Usia saya sudah 27 tahun, jika mau sama saya ayo kita nikah aja."
"Aduh Bapak dari tadi Bapak ya bikin jantung saya cenat cenut." kata Clara dengan rona merah di wajahnya. Boy semakin tertawa keras.
"Bagaimana? kita kembali ke kantor apa ke kantor ayahmu, aku sudah siap,"
"Sudah pak Boy jangan bergurau lagi, kita baru kenal 2 hari." katanya sambil memejamkan mata.
"Aku memberi mu waktu untuk mengenalku lebih baik." lalu dia berhenti di restoran Jepang
"Ayo keluar, kita makan dulu." katanya sambil membuka sabuk pengaman.
"Pak aku malu, aku tidak pakai sepatu, masih takut pakai sepatu itu." katanya sambil menunduk.
__ADS_1
"Ok! take away aja, tunggu di sini," katanya lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam restoran, tak lama kemudian dia membawa dua box makanan jepang lalu Ia meletakkannya di tempat duduk bagian tengah.
Boy menjalankan mobilnya ke kantor, sesampainya di kantor ia pun makan siang lalu mengerjakan pekerjaan tertunda tadi sesekali terjadi perdebatan yang membuat Boy mencuri ciuman pada Clara.
waktu berjalan cepat jam 4.00 waktunya karyawan pulang Clara telah di tunggu oleh asisten ayahnya, Clara pun pulang bersama Asisten ayahnya.
Sedangkan Boy melajukan mobilnya ke apartemen, ia sungguh beruntung Omnya memperbolehkan dia membawa salah satu dari mobilnya.
Ia pun keluar dari mobil begitu sampai di area parkir, memasuki loby lalu masuk kedalam lift yang didalamnya sudah ada seorang pemuda yang menjinjing tas punggungnya sambil menelpon kadang tertawa setelah itu ia ucapkan salam.
Boy menekan angka 10, lalu melirik pria muda yang baru selesai mengakhiri panggilan teleponnya.
"Sudah pulang?" tanya Boy membuat pria itu mendongak," Hai, iya," jawab pria itu yang tak lain adalah Dantai.
"Telpon calon istri?" tanya Boy lagi.
"Bukan teman, kalau dia waktunya tadi dan malam, sambil lihat dia tertidur." jawab Dantai terkekeh.
"Kelihatannya kau sangat bahagia walau ia jauh dari mu? tanya Boy.
" Ya, Karena aku mencintainya dengan hati ku, aku menilainya dengan hatiku. Bukan dengan mataku," Kata Dantai
"Aku jadi penasaran seperti apa dia?"
"Suatu saat akan ku kenal kan, ia berbeda, setidaknya itu yang kurasakan.
"Ya....ya pria bucin." jawab Boy mengatai Dantai.
"Ya...ya ku kira sebentar kau akan jadi pria bucin seperti ku," mereka pun tertawa. lift pun berhenti di lantai 10 mereka keluar dari lift dan menuju apartemennya masing-masing.
__ADS_1