
Rio masih setia menanti jawaban sahabatnya, setelah hening terdengar lagi suara yang sedikit lemah itu mungkin dia juga shock mendengar ini dariku.
"Aku tunggu kedatanganmu segera, Assalamualaikum," Dantai menutup telponnya.
Bahkan Rio belum sempat membalasnya. Kekacauan yang di buat saat ini sungguh luar biasa. Ingin rasanya menyembunyikan dirinya pada lubang yang tertutup, tetapi ia tidak ingin lari dari situasi ini.
Rio meletakkan handphonenya ke nakas, ia pun keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya dimana Hira saat ini berada.
Dibukanya pintu sedikit ragu, di kuatkan hati dan otaknya, lalu ia pun masuk keruangan kerjanya itu, dia masuk di kamar privasinya itu.
Melihat Hira masih tertidur di dalam kamar privasi ruang kerjanya dalam keadaan polos, Rio melihat tubuh Hira membuatnya tergoda kembali. Namun dia tahan sekuat tenaganya walau ia tahu begitu menikmati tubuh wanita yang dicintainya itu.
Rio membangunkan Hira. Ra bangun, kita harus ke Singapura sekarang juga, Om gak mau seperti ini, Hir. Cepat mandi! Om ambilkan bajumu," perintah Rio pada Hira.
Hira dengan malas menuju ke kamar mandi, Om, Hira masih ingin peluk Om," katanya sambil mode menggoda.
"Hira!" panggil Rio dengan tatapan penuh peringatan.
"Iya Om!" jawab Hira sambil tertawa.
Hira pun berjalan menuju kamar mandi, masuk lalu menguncinya, terdengar kucuran air di dalam kamar mandi.
Rio keluar dari Ruangan kerjanya berjalan menuju kamar Hira mengambil beberapa pakaian komplit gadis itu lalu kembali lagi ke ruang kerjanya, diletakan di atas ranjang.
Rio menunggu gadis itu keluar, dia melihat Hira sudah keluar dengan memakai bath robe.
"Cepat ganti pakaianmu
Ra dan segera kembali ke kamarmu! Takutnya Bilal tahu kalau kamu ada di sini nggak bagus untuk perkembangan dia," perintah Rio
"Ya, Om, kok Hira terus sih Om yang disalahkan," protes Hira
Kamu, 'kan yang ke sini Hir, cari singa macam Om gini dan dalam keadaan seperti itu, coba! Apa Om nggak tergoda?" tanya Rio.
"Kamu pakai baju lengkap saja Om sudah tergoda apalagi kamu begituan," kata Rio
Hira terkekeh. "Aku tuh juga tergoda sama Om apalagi kalau Om nggak pakai baju di ruang Olah raga."
__ADS_1
"Ahh, gombal kamu, gantinya di kamar mandi saja," kata Rio pada Hira
Hira pun tertawa. dia membawa bajunya dalam kamar mandi dan berganti pakaian di sana lalu keluar dari kamar mandi.
Tunggu Om di ruang tengah ya," kata Rio pada Hira
Rio menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat di selesaikan tadi malam, dia mulai fokus dengan angka-angka yang ada di laptopnya. Dasar pengganggu kecil, pikirnya.
Sebelum kita ke Singapura kita ke dokter dulu Hir, umurmu masih 16 tahun rawan untuk hamil dan melahirkan, Om nggak mau kamu punya anak dulu, setidaknya umur kamu 20 baru kita program untuk punya anak.
Hira tertawa. "Aku ini dokter kandungan sebelum ke sini saja aku sudah antispasi Om."
Rio mengusap wajahnya kasar.
"Oh! Jadi makanya kamu berani goda Om, kamu gak di kasih tahu sama ayahmu kalau itu gak boleh, Hir," tandas Rio dan menatap Hira dengan tatapan tak terbaca
"Jangan begitu dong Om kesannya Hira itu kan anak yang nakal," kata Hira sambil menitikkan air matanya. Rio menghelah nafas dan memeluk gadis itu.
"Iya memang kamu nakal coba kalau kamu nggak ke sini kan Om nggak ke hanyut," kata Rio pura-pura marah.
"Iya iya semua salah Hira sudah pancing-pancing om, biar kepancing gitu, yaa," kata Hira sebal.
Mereka pun memasak bersama di dapur, sambil berbincang-bincang dan bergurau riang, hingga terdengar suara bocah yang mengagetkan mereka siapa lagi kalau bukan Bilal.
"Kalian masak apa? Ramai sekali," tanya Bilal
"Ayo tebak sendiri saja! Masak apa kita?
"Oh sayur sop sama omelette, itu saja Dad?" tanya Bilal sambil mengerucutkan bibirnya
"Waktunya nggak ada, Boy, kamu sekarang cepat mandi nanti kita ke Singapura," kata Rio
"Ngapain ke Singapura Dadd?" tanya Bilal
"Daddy mau meminang Kak Hira mu, Boy dan langsung menikahinya sekarang juga di sana Boy," kata Rio
"Maksudnya Dedi sama Kak Hira mau nikah sekaran?" tanya Bilal.
__ADS_1
"Iya kenapa? Katakan apa kau setuju?" tanya Rio sedikit kawatir.
"Iya Bilal setuju dan sudah tahu kalau Daddy gak bakal kuat nunda untuk menikahi mama Hira," kata Bilal pada mereka.
"Ehh, ngomongnya kamu?" Rio terkejut dengan ucapan putranya.
Sementara Hira tertawa mendengar ucapan Bilal. "Manisnya panggil Kak Hira dengan Mama," kata Hira sambil merangkul calon anak sambungnya itu.
"Benaran Boy kamu nggak apa-apa kalau Daddy sama kak Hira," tanya Rio pada Hilal.
"Yah gak apa-apa asik aja punya ibu muda kayak kak Hira dan terus orangnya juga asik, bisa jadi teman Billal juga," jawab Bilal
"Aduh, manis sekali Anak Mama," kata Hira sambil memeluk Bilal
"Kak, Bilal engap nih, kena punya kak Hira yang besar itu," kata Bilal frontal
Rio di buat pusing dengan tabiat Hira dan putranya itu, ingin membicarakan soal batasan Hira dengan putranya, saat ini belum tepat.
"Emm, maaf, kata Hira terkekeh.
"Princees!" panggil Rio untuk memperingatkannya.
"Iya, Dad," jawab Hira sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian Bilal keluar dengan balutan kaos lengan pendek dan celana jinsnya dan menjinjing koper kecilnya, sudah siap untuk mendampingi sang Daddy menikahi gadis pujaan hati Daddy-nya itu. Dia telah tahu saat sang Daddy memberikan surat dari mamanya yang di tulis saat sebelum melahirkan dirinya, sang mama meminta dia membantu menyatukan cinta Daddy-nya itu.
Awalnya ia tidak mengirah bahwa sang ayah akan jatuh cinta pada seseorang anak yang usianya masih kecil dan relah menghapus cintanya untuk cinta sang Mama. Namun, Ia semakin yakin ketika kak Hiranya datang kemari sang Daddy begitu gelisah, Ingin seolah tengah menahan gejolak dari dalam dirinya.
"Hir, kamu sudah siap, belum?" tanya Rio sambil mengetuk pintu kamar Hira.
"Sebentar Om," jawab Hira, tak lama kemudian, Hira muncul dengan balutan kaos dan celana jins yang sama dengan putranya.
"Kalian janjian?" tanya Rio pada Hira.
Hira terkekeh. "Ini untuk Om, sudah Hira siapkan tadi cuma, gak enak saja takut Om nolak kita copelan."
Rio pun menerima kaos tersebut lalu melepas pakaiannya dan memakainya di hadapan Hira, membuat gadis itu menelan salivanya.
__ADS_1
Bilal yang tahu itu tertawa lalu melempar buntalan kertas ke arah Hira yang di ambil dari meja tak jauh dari tempat dia berdiri.