
Anta membuka paper bag dan mengambil serta dilihatnya pakaian itu, ada sebuah catatan di dalamnya yang membuatnya semakin merona. "Beneran ni Dan, aku harus pakai ini?" tanyanya pada suaminya. Lelaki itu menoleh sambil tersenyum, dia sudah melepas kemejanya terlihat tubuh sixpack yang tergurat Indah membuat Anta menelan salivanya sendiri.
"Ini pendek sekali Dan, apa yang di tutupi, lihat ada robekan di bagian tertentu, ahh! mana bisa aku memakainya?" katanya lagi
"Ayolah sayang, apa aku yang harus membatu memakaikannya?" katanya lagi sambil melepas cel@n@ panjangnya.
Melihat itu Anta langsung masuk kedalam kamar mandi dan memakainya. Namun, ia benar-benar tidak bisa keluar dengan pakaian yang bahkan tak mampu menutupi keindahan tubuhnya, dia begitu frustasi, semua rasa membaur jadi satu antara malu dan ingin tahu expresinya suaminya itu.
"An, kenapa lama sekali? aku yang masuk apa kamu yang keluar?" tanyanya setengah berteriak.
Dengan ragu ia membuka pintu kamar mandi, alangkah terkejutnya saat ia melihat Dantai sudah berdiri tepat di depannya mata nakalnya itu mulai memindahi bagaian tubuhnya paling sensitif.
Tangan jahilnya mulai membelai lembah indah milik istrinya yang tak tertutup kain. kaki serasa tak bertulang tatapan nakal dan sentuhan Dantai membuatnya membeku lelaki gagah yang berdiri di depannya dan hanya berbalut b o xer itu menyerangnya tak memberi jeda sama sekali.
Bibir dan tangannya bekerja sesuai dengan instingnya, ketika tangan sudah puas mengobrak-ngabrik lembah indahnya, berganti bibir dan lid@hnya mulai beraksi di area yang sama.
Jemari tangannya bermain di pegunungan milik istrinya, des@h@n keluar dari bibir Istrinya begitu saja. Dantai menyudahi permainan kecilnya lalu berdiri dan mencium bibir indah istrinya dengan penuh perasaan serta meng u lumnya. Dantai baru melepaskannya ketika dia benar-benar membutuhkan udara untuk bernafas.
__ADS_1
"An kau cantik sekali aku sangat menyukainya rasanya tak ingin pergi ke rumah Salva. Tetap di sini saja mengurungmu sampai besok," kata Dantai menatap wajah cantik sang istri turun ke leher yang sudah dihiasi dengan lukisan bibirnya, turun lagi di pegunungan yang indah dengan ceri merah di puncaknya membuatnya ingin menikmati kembali.
Benar-benar pakaian yang luar biasa begitu banyak lobang di daerah tertentu hingga tak butuh merobeknya ketika ingin menyentuhnya.
"Dan, aku benar-benar malu," kata Anta tak berani menatap mata suaminya itu.
"Kenapa malu? Aku sangat suka, An," katanya sambil mengandeng tangan Anta mengajaknya ke ranjang. "Masih bisa jalan enggak? Ini belum menu utama loh sayang, baru kudapan," godanya sambil terkekeh, Anta mencubit perut suaminya. "Kau salah cubit, sayang," goda Dantai lagi membuat wajah itu semakin merah merona.
Dantai yang sudah tak tahan, direbahkan tubuh Istrinya ke ranjang lalu ia melepaskan kain terakhir yang membalut tubuhnya dan mulai membimbing tangan istrinya untuk menyentuh aset berharga miliknya.
Tak lama kemudian ia mulai menggempur sang istri, memasuki lembah yang indah, lembab nan hangat. Tangannya tak berhenti menyusuri pegunungan sambil menikmati ceri merah yang ranum di puncak pegunungan secara bergantian dengan bibir s e ksinya itu.
"Hari ini sangat luar biasa, melebih malam pert@ma kita, trimakasih, sayang," bisik Dantai sambil mengecup kening sang istri. Anta hanya mengangguk dan tersenyum.
Dantai masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lama kemudian ia keluar dengan tubuh yang berbalut handuk sebatas pinggang, ia menatap sang istri yang sedang rebahan dengan tubuh tertutup selimut, "Bun, mandi gih! Sudah ayah siapkan air hangat, terus kita sholat duhur dulu, baru lanjutkan perjalanan," kata Dantai pada Anta yang segera bangun dan pergi ke kamar mandi dengan langkah gontai.
setengah jam kemudian Anta keluar kamar mandi dengan mengenakan bath robe. ia mengeryitkan dahinya saat melihat sang suami sudah berganti pakaian dengan memakai kaos berkerah dan bawahan jin membalut tubuhnya.
__ADS_1
"Ayah, kapan bawa baju ganti?" tanya Anta pada Dantai
"Tiga paper bag yang bunda bawa tadi tidak semua baju dinas, Bun. Satu bajuku, satu lagi punya Bunda tuh," katanya sambil mengerakan kepalanya ke arah paper bag. Anta terkekeh sambil memukul keningnya. "Kirain semua isinya sama begituan semua," katanya sambil mengambil paper bag lalu membawanya ke kamar mandi, terdengar tawa suaminya mengiringi kepergiannya. Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai tunik warna biru tua dan cel@na panjang kain dengan warna senada serta hijab warna tosca terlihat serasi dipandang mata.
"Mukena aku di mobil, Yah," kata Anta meminta sulusi.
"Sudah Ayah Ambilkan, tuh," jawab Dantai sambil mengelar sajadahnya dan bersiap untuk sholat dhuhur, Anta mengikutinya di belakangnya dia menggelar sajadahnya dan memakai mukenanya, Dantai melihat kebelakang untuk memastikan istrinya telah siap setelah itu mereka pun melaksanakan sholat berjamaah, setelah selesai mereka bersiap-siap untuk cek out dari hotel, tak lama kemudian mereka keluar dari hotel dan menuju mobil dan mereka pun meninggalkan hotel menuju ke Surabaya.
"Kita bakal jadi bahan omongan deh di sana," kata Anta sambil menyadari punggungnya di kursi tempatnya duduk.
"Ya, gak apa-apa paling mereka juga ngertilah kita ngapain," kata Dantai sambil fokus mengemudi, tak ada jawaban, ternya Anta telah tertidur pulas. "Ya, dia tidur deh," gerutu Dantai.
...----------------...
Sementara itu Andi berserta rombongannya sudah sampai di rumah besannya yang ada di Surabaya tidak mendapati mobil yang di tumpangi mereka berada di sana. Mereka belum sampai juga, Andi hanya tersenyum lalu mengajak istri dan cucu keluar dari mobil, mereka berjalan menuju rumah besar sederhana dengan banyak pepohonan didepannya menambah keasrian rumah itu.
Ucapan salam di sambut hangat oleh pemilik rumah dengan menjawab bersamaan dengan anggota keluarganya, Harlan dan Ira pun keluar senyum merekah di bibir mereka. Sudut matanya mencari-cari sesuatu, tetapi tak menemukannya. Suara ceria Emir dan Hira mengalihkan pencarian pada putra dan anak menantunya itu. Andi yang tahu Ira sedang mencari siapa menyeletuk sambil terkekeh, "Mereka padahal berangkat duluan, tapi belum sampai pada nyasar kemana?" Mereka pun tertawa mengerti arah bicara Andi.
__ADS_1
"Ya sudah di tunggu saja," kata Harlan yang belum menghentikan tawanya. sementara dua bocah kecil itu sudah masuk kedalam kamar tantenya melihat bayi Kaila yang lucu bersama Izyan sepupunya.
Setelah saling berpelukan dan berama-tama mereka pun saling bertanya kabar masing-masing dan mempersilahkan untuk duduk di sofa kamar tamu. Bik Mirna datang dengan membawa minuman dan makanan.