
Setelah di rasa sudah cukup mereka pamit pada Dantai ada keperluan lain yang harus mereka selesaikan.
"Kok sudah mau pulang sih? kan baru ketemu." Kata Dantai jengkel.
"Kita sering ke sini ya tante, tapi yang di jenguk tidur meluluh," mereka minta dukungan pada Ira baru saja masuk.
"Emang aku mau? Sudah sana pulang semua sana aku juga mau tidur!" kata Dantai sambil berdiri dengan sempoyongan dan di pegangi Rio yang saat itu posisi dia dekat dengan Dantai. Rio memapah Dantai sampai ke ranjang.
"Maaf ya Dan, besok saat kau mau ke Singapore kami datang dan mengantar mu ke bandara," kata Gibran mewakili teman-temannya.
"Ok! Trimakasih telah menjengukku." kata Dantai sambil tersenyum, mereka pun berpamitan pada orang tua Dantai dan keluar dari ruangan perawatan Dantai.
Setelah mengunjungi Dantai di rumah sakit mereka pun melajukan motornya ke rumah nenek Anta. Begitu sampai mereka di sambut bik Ija.
"Loh Den Dantai gak ikut? Den Rudi sama siapa?"
"Maaf bik Dantai masih sakit belum bisa ikut, ini di wakilkan teman-teman ke sini." Kata Rudi sopan.
"Mari masuk Den, saya panggil non Anta dulu."
"Kami di sini saja bik lebih enak," Jawab Rudi mewakili mereka.
Bik Ija pun masuk kedalam tak lama kemudian ia kembali lagi dengan Anta yang duduk di kursi roda yang didorong oleh bik Ija, Rudi pun berdiri menghampiri bik Ija mengambil alih mendorong kursi roda Anta mendekati Rio,Aril dan Gibran.
"Rud, sama siapa kamu ke sini?" tanya Anta menoleh ke arah Rudi.
"Sama Rio, Aril, dan Gibran." jawab Riko sambil duduk di sebelah Anta.
"An, mana Hp kamu aku mau pinjam dulu?" tanya Rudi pada Anta.
__ADS_1
"Sebentar aku ambil dulu ya," jawabnya tersenyum dia meraba tas mencari resleting tas untuk membukanya setelah menemukannya ia mengeluarkan Hp flip Jitterbug miliknya lalu menyerahkan pada Rudi.
"Kau tahu aku disini An?"
"Yah aku harus melatih pendengaran ku Rud agar tahu di mana orang yang sedang mengajakku bicara."
"Kau akan bisa melihat lagi An," Kata Rio sambil menatap kagum pada kekasih sahabatnya itu.
"Dokter sudah menyerah, Ri aku tak yakin."
"Kau mengenali suara Rio, An?"
Anta mengangguk, " bahkan suara mu Ril," katanya terkekeh.
"Kau begitu ceria An, aku salut padamu," kata Gibran.
"Harus Bran, aku tidak ingin hari ku segelap mataku. aku harus menerima ini dengan ikhlas, mencobah mencari mimpi yang lain untuk menemukan kebahagiaan ku."
"Kalian gak tahu aja perasaanku, hatiku begitu sakit ketika dia bilang bukan siapa-siapa. Hatiku sakit ketika dia pergi tanpa menoleh lagi padaku, aku tak mengenalnya tapi aku tak ingin dia pergi, ngerti ngak sih kalian!"
Anta pun menangis mendengar rekaman suara Dantai. Anta menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Kenapa kau tak menyebutkan namamu An?" tanya Rio pada Anta.
"Bagaimana aku bisa menyebutkan namaku Ri? dia baru bangun dari koma begitu terbangun dia lupa siapa aku. Aku takut ketika aku menyebutkan namaku dia jadi lebih para lagi, Ri."
"An pertemuan tadi aku rekam diam-diam sudah ku simpan di ponsel mu rekaman lengkapnya dan penggalan yang tadi, yang lengkap ku berikan nama Afif, yang penggalan tadi ku beri nama Afif sayang, jadi kalau kamu sebutkan rekaman Afif sayang maka nanti rekaman itu terdengar." Sontak saja mereka tertawa mendengar penjelasan Rudi, Anta pun tertawa dan memukuli Rudi yang sebelumnya ia cengkram dulu tangan Rudi agar tidak lari. Rudi pun pasrah di pukuli bahunya berulang kali.
"Aku sudah simpan nomer Rio, Aril, Gibran sesuai namanya ya An, aku sudah simpan nomer ku, Bella dan Asep."
__ADS_1
"trimakasih Rud." jawab Anta sambil tersenyum. Bik Ija datang membawa 5 mangkuk bakso dan 5 gelas minuman di bantu pak man.
"Makan dulu den, non. Ini enak loh den kesukaannya non Anta."
"Iya bik trimakasih," jawab mereka.
Rudi mengambil satu mangkok bakso di potong-potongnya bakso dan mie kecil-kecil di masukannya sedikit sambal lalu saos tomat setelah itu di taruh di depan Anta di ambilnya tangan Anta dan di disentuhkanya pada mangkok dan sendoknya," sudah ku potong-potong makanlah."
"Trimakasih, Rud," ucap Anta pada Rudi dan mulai menyuapkan makanan dengan menggesekkan sendoknya ditangan kiri yang memegang mangkoknya. teman-temannya yang melihat itu trenyuh pada Anta.
"An, Rencana ke Turki kapan?" tanya Rudi pada Anta
"Aku nggak ke Turki Rud, aku belum siap jika ternyata di sana fonis dokternya juga sama. Aku ingin berobat disini dulu."
"An kemanapun kamu berada kabari kami, kami akan menjenguk mu bergantian." Kata Aril pada Anta.
"Trimakasih, kalian mau menjenguk ku, karena aku kan teman kalian koma, aku benar-benar mintak maaf pada kalian.
"Itu sudah musibah An, Dantai sekarang baik-baik saja. hanya butuh waktu untuk bisa mengingatmu kembali, jangan merasa bersalah lagi." kata Gibran dan Anta mengangguk.
Mereka pun berbincang-bincang dengan akrap sesekali derai tawa mereka, tak lama kemudian teman berpamitan pulang pada nenek dan orang tua Anta. Rumah pun sepi kembali Anta di Antar maminya ke dalam kamar untuk beristirahat.
Hari berganti dengan cepatnya, saat ini ada hari keberangkatan Dantai ke Singapura di loby ruang tunggu keberangkatan Rudi kawan-kawan melepas kepergian Dantai. Waktu keberangkatan masih 30 menit lagi, mereka bersenda gurau memanfaatkan waktu untuk keakraban sebelum keberangkatan Dantai. tidak jauh dari mereka nampak seorang gadis duduk di kursi roda dengan seorang suster yang mendorong kursi roda berdiri membelakangi mereka, gadis itu adalah Anta ia ingin melepas kepergian Dantai tanpa di ketahui keberadaannya ia hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya sehingga memintanya untuk mendekati mereka, derai tawa dan gurau Dantai terdengar di telinga Anta, air matanya menetes tanpa bisa di bendung. Dantai menatap sekelilingnya mencari sesuatu namun tak menemukannya.
"Dan, Cari siapa?" tanya Rudi sambil mengikuti arah pandang Dantai. Rudi melihat ada seorang suster yang berdiri membelakangi mereka, Rudi mengulum senyum.
"Aku seperti merasa dia ada di sini Rud." katanya kembali matanya menyalang tajam pada tubuh suster yang belakanginya yang berjalan menjauh dengan mendorong kursi roda pasiennya menuju pintu keluar.
"Dan sudah waktunya pergi," kata Rudi lagi yang membuyarkan konsentrasinya pada pandangannya, Ia mengangguk sambil berbisik pada Rudi," Tolong kau cari tahu gadis buta yang duduk di kursi roda yang aku ceritakan pada mu waktu itu, aku curiga aku mengenalnya." Rudi mengangguk, mereka pun melepas kepergian Dantai dengan rasa haru.
__ADS_1
Flashback Off