
"Ok! Janji yaa, Om. Kalau dapat ijin Om harus temani Hira dan ajak kesitu, Hira mau buat gaduh," katanya terkekeh.
Rio pun tertawa. "Waduh, emang mau bikin apa kamu di dapur Om."
"Mau bikin masak-masakan," katanya tanpa rasa bersalah, dan Rio hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah puas berbincang-bincang Hira menutup panggilan video call-nya.
Setelah puas berbincang-bincang Hira menutup panggilan video call-nya. Setelah panggilan terputus, dia baru sadar bahwa Hira masih kecil, dan apa yang di bicarakan anak kecil tak lepas dari dunia anak-anak ia pun terkekeh.
'Oh, My God. Tenan iki aku wis gendeng,' jeritnya dalam hati.
Rio menyeruput kopi yang sudah mulai dingin lalu mengambil sebungkus rokok di laci mini barnya, lalu menyulutnya kemudian menghisapnya dan menghembuskan asapnya yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Beberapa saat ia larut dalam pikirannya sendiri yang mengembara entah kemana ia tak pernah tahu. Setelah menimbang banyak hal ia memutuskan untuk pulang, dia berpikir tidaklah adil jika tidak menghiraukan istrinya itu karena bagaimanapun ia pun menyetujuinya dan mengucapkan hijab khobul untuk wanita itu.
Roi menyambar kunci mobil di meja, lalu keluar dari ruang kerjanya. ia pun berjalan memasuki lift yang membawanya kelantai dasar, setelah itu ia berjalan ke area parkir dan masuk dalam mobilnya kemudian menjalankannya tepat di pos sekuriti ia berhenti membuka kaca jendela lalu memanggil salah satu dari mereka.
Seorang sekuriti menghampiri beliaunya sambil menunduk hormat dia pun bertanya,"Apa ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya sekuriti.
"Ini kunci kantor saya, dan tolong besok pagi-pagi sekali suruh OB untuk membersihkan ruangan saya, di wastafel ada mangkuk dan gelas kotor tolong di bersihkan pula." pesannya pada sekuriti itu.
__ADS_1
Lalu ia melajukan mobilnya membelah jalanan menuju rumahnya, Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di pintu gerbang rumahnya, sekuriti segera membuka gerbang rumahnya, mobil pun masuk kedalam gerbang dan masuk kedalam garasi mobilnya.
Jasmine yang melihat mobil suami sangat senang sekali ia pun segera berdandan, siap menyambut suami di ruang tamu.
Rio pun keluar dari mobil dan masuk kedalam, rumahnya dengan mengucapkan salam, dijawab dan disambut oleh Jasmine di ruang tamu dengan senyuman yang merekah di bibirnya, Jasmine mengambil tas kerja dan mencium punggung tangan suaminya. "Mas, aku siapkan air hangat yaa." Rio tersenyum sambil mengusap perut Jasmine. "Tidak usah, aku tadi sudah mandi, di kantor."
"Aku bikinin kopi yaa, Mas," tanya jasmine sambil menggamit tangan Rio.
Rio tersenyum kembali. "Boleh, kamu antar keruang kerjaku yaa, tapi kalau kamu capek istirahat, Jas. Biar Narti saja yang mengantarkan keruangan kerjaku."
"Lah, aku ini capek apa toh, Mas? Wong aku ya gak kerja apa-apa, cuma tiduran- bangun, tiduran lagi itu tok kerjaan ku, ini yang paling capek ya Narti itu, bukan aku."katanya terkekeh sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh.
Jasmine segera merebus air dalam panci kecil, menunggunya hingga mendidih lalu dituangkan dalam gelas berisi kopi expreso. Tanpa ia ketahui Rio memperhatikannya. Pria itu menghampirinya dan mendekatinya. "Kenapa kau menangis apa ada masalah pada kandunganmu? Apa perlu kita ke dokter untuk memeriksanya?" tanyanya pada Jasmine.
"Tidak, aku hanya senang kau pulang, aku ingin sekali makan malam bersamamu," katanya sambil menatap Rio dengan tatapan cinta. Rio tersenyum, dia tak berani menatap mata itu, setiap kali membalas tatapan itu membuat hatinya tertikam. "Hari ini aku ada untukmu dan anak kita."ujarnya.
"Benarkah, bolehkah aku me-- mintanya," katanya gugup sambil menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
"Maaf, Jika untuk itu aku sangat lelah, Jas." ucap Rio pelan. "Ya, aku mengerti! Akan kubawakan ke ruang kerjamu," kata sambil menunduk. Rio tahu bahwa Jasmine kecewa. Akan tetapi ia tak sanggup melakukannya, entahlah dia sendiri tidak tahu.
__ADS_1
dikecupnya kening istrinya. "Maaf, biar kubawa sendiri ke ruanganku, jika sudah waktunya makan malam, panggil aku," katanya sambil membawa secangkir kopi dan membawanya ke ruang kerjanya.
Jasmine menatap nanar punggung suaminya. Kaki serasa tak bertulang, ia terduduk di kursi depan meja makan, rasa sedih, malu dan kecewa menjadi satu. Ucapan yang lembut namun cukup membuatnya tertampar. Dihapusnya air matanya lalu berdiri tegap berjalan menuju kamar kemudian menguncinya.
Di dalam kamar Jasmine menangis sejadi-jadinya meluapkan kesedihan, 'Tiada ruang sedikit pun untuku, lalu untuk apa pertahan, mungkin untuk si kecil yang terlanjur ada dan akan hadir di dunia,' jeritnya lirih dalam hati
Terdengar Adzan magrib, Jasmine mengambil air wudhu, dan bersiap untuk melaksanakan shalat magrib, semenjak ia menikah sampai kini hanya sekali dia berjamaah dengan suaminya, karena Rio selalu sholat di masjid atau di kantor.
Rio mengetuk kamarnya. "Jas, buka pintunya, Mas mau ganti baju nih."
Tanpa bicara ia membuka pintu, Rio mengambil sarung dan baju koko lalu membawanya ke luar kamar sambil berpamitan. "Aku ke masjid dulu." Jasmine hanya mengangguk, pintu tertutup seperti hatinya yang tertutup.
Dan cinta bukan lagi hal yang penting untuk saat ini, sekarang Jasmine memutuskan untuk tidak memaksa lagi dia harus menjaga kesehatan hati dan otakku, pikirnya.
Rio sholat magrib berjamaah lalu di lanjutkan dengan sholat isya' kemudian ia pun pulang, dia berjalan menuju keruang Kerja dan berganti di sana.
Setelah itu ia pergi ke meja makan.
Dimeja sudah tersedia makanan yang lezat.
__ADS_1
Walau pun ia marah, kecewa tapi ia tetap melayani suaminya dengan mengambilkan makanan untuknya.