
Mereka masih berbicara dengan Anta kadang mereka melirik Dantai yang terus menatap Anta yang terlihat di kamera laptop Rudi, tanpa sepengetahuan Rudi beberapa kali Dantai memotret expresi Anta. tak lama kemudian Rudi mengakhiri panggilannya, Dantai pun merebut laptop Rudi lalu mengambil kabel data menyambungkannya di handponenya dan mulai memindahkan foto-foto Anta, setelah selesai ia mematikan laptop itu dan mengembalikannya Rudi.
"Oh jadi dari tadi kamu sibuk foto-foto?" tanya Rudi.
"Hem, Aku suka expresinya tadi. Aku tak tahu apakah kami dulu punya kenangan atau tidak. maka mulai saat ini aku ingin membuat ingatan yang baru tentangnya." Jawab Dantai masih melihat foto-foto Anta.
"Kalian tahu kan siapa nama gadis itu, tolong katakan padaku siapa gadis itu?"
"Gadis yang mana Dan? yang cium Rudi tadi pagi atau yang mana?" tanya Aril sambil terkekeh.
Dantai pun akhirnya tertawa," kalau cewek yang ambil ciuman pertama Rudi tadi, jelas Rudi lah yang ingin tahu namanya. Rudi mau ambil lagi ciuman yang di bawa gadis itu." kata Dantai asal.
Rudi mentoyor bahu Dantai, sementara yang lain ikut ketawa.
"Aku serius, ingin tahu nama gadis ini siapa dia?" tanya Dantai lagi dengan menunjukkan foto yang baru di ambil dari laptop Rudi ke teman-temannya.
Aril, Rio dan Gibran menatap Rudi bersamaan.
"kenapa menatap ku begitu? kamu cari tahu sendirilah Dan! Kami sudah di sumpah sama dia gak boleh sebutin namanya ke kamu." Kata Rudi yang mulai kesal dengan teman-temannya.
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
" Masuk!" teriak Rudi menyuruh orang di balik pintu itu masuk.
Bang Iman penjual bubur sruntul itu pun masuk dengan tergesa-gesa," Wah gawat mas Rudi mbaknya yang tadi pagi datang lagi, gak tahu kenapa di dalam mangkoknya banyak lalat padahal waktu saya ambilkan gak ada mas.
Ia minta ketemu sama mas kalau gak dia akan bikin depot kita tutup dengan menyebarkan foto-foto itu ke media sosial."
__ADS_1
Rudi menghela nafas dan memandang Dantai. Dantai pun tersenyum menepuk bahu sahabatnya itu," Sudah urusi dulu cewek itu, yuk bang keluar sekalian buat kan kami 4 mangkok bubur ya."
"Baik mas," kata bang iman keluar di ikuti Rudi dan kawan-kawannya.
Rudi langsung melebarkan langkahnya ketika matanya menangkap di mana gadis itu duduk. Setelah sampai ia pun menarik kursi yang ada di depan gadis itu lalu duduk berhadapan dengan gadis itu.
Sementara teman-temannya duduk di kursi lain yang tidak jauh dari Rudi dan gadis itu duduk. Rudi pun duduk dengan menatap gadis itu dengan tajam."apa mau mu sebenarnya? tolong jangan cari masalah dengan ku!" katanya sedikit meninggi, sejenak terlihat gadis itu terjengkit, lalu tersenyum.
"Aku kesini tidak mencari masalah dengan mu, aku kesini mau cari hatiku yang kau tahan di hati mu," katanya tanpa merasa bersalah.
Mendengar jawaban gadis itu semua teman Rudi terkikik menahan tawa.
Rudi memutar bola matanya jengah lalu menyorot tajam ke meja teman-temannya.
"Mbak jangan bertele-tele, kami di sini mencari nafkah, tindakan mbak ini buat kami rugi. Itu bang iman anak juga masih kecil-kecil jadi tolong jangan buat orang kehilangan mata pencahariannya. Tutik singkirkan mangkok itu! bang iman tutup roling door kasih pelakat depot sedang tutup! Mumpung belum ada pelanggan kemari." perintah Rudi pada karyawannya.
Rudi masih menatap tajam pada gadis itu. gadis itu dengan tersenyum menyodorkan kertas ke pada Rudi, Rudi mengambilnya. lembar kertas itu bertuliskan 'hari libur temani saya dari pukul 19.00-21.00 selama satu tahun.'
" Jika itu kamu tandatangani dan kamu melaksanakan apa yang tertulis di perjanjian itu maka depot kamu akan Aman tapi jika kau tidak mau maka saat ini juga makanan yang tidak bersih itu beredar di media sosial dengan cepat bom, depot kamu tutup dan tak akan bisa usaha makanan lagi."
Rudi pun mengambil kertas itu dan menandatanganinya dengan cepat lalu menyerahkan kertas itu pada gadis itu." Mana fotonya?" pinta Rudi.
"Oh tidak bisa tuan tampan kalau kau mengingkarinya bagaimana coba?" tanyanya pada Rudi sambil mengerjapkan matanya.
"Lagi pula foto itu sudah ku kirim ke asisten ku jadi sekali pun ini terhapus tak akan jadi masalah buat ku, jadi tampan mulai sabtu depan kita akan kencan," Katanya lagi mengelus pipi Rudi lalu pergi begitu saja.
Setelah gadis itu pergi Rudi menghela nafas, dia meraup wajahnya dengan kasar, ia beranjak dan berjalan ke meja teman-temannya dan bergabung di sana tak lupa ia menyuruh pak man membuka kembali depotnya. pak Man pun membuka kembali pintu rolling door dan menaruh pelakat buka, lalu menghampiri Rudi, "Nak Rudi Bapak mintak maaf karena Bapak nak Rudi dapat masalah."
__ADS_1
"Tidak ini bukan salah Bapak, jika saya tak menandatanganinya dia akan selalu datang mengganggu, sudah tak apa pak hanya permintaan kecil dan itu hanya 2 jam saja." jawab Rudi dengan sopan, pak Hilman mengangguk dan kembali ke tempatnya dan pengunjung pun mulai ramai dari kalangan mahasiswa dan anak remaja.
"Dia minta apa Rud ?" tanya Dantai sambil menikmati makanannya.
"Kencan," Jawab Rudi dengan wajah datarnya. Dantai tersedak mendengar jawaban Rudi dan segera meraih gelas berisi air minum dan meminumnya, Aril , Rio dan Gibran tertawa terbahak-bahak.
"Kalian kalau tidak berhenti tertawa lebih baik pulang!" katanya jengkel.
"Apa rencana kamu sekarang Dan ?" tanya Rudi mengalihkan pembicaraan agar tak selalu berpusat pada dirinya saja.
"Aku besok mau ke Surabaya, mencari jejak masa laluku.
"Akan ku temani," kata Rudi
"Aku, juga! jawab Aril, Rio dan Gibran serentak.
"Trimakasih," Jawab Dantai dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Rud, apa kau bisa mintakan nomer wa perawatnya? Aku ingin mengetahui perkembangannya setiap hari Rud, aku ingin mendengar keluh kesahnya setiap ia merasakan kesulitan. Aku hanya kehilangan ingatan ku bukan hati ku Rud, aku bisa melihatnya bahkan datang mendekatinya sementara dia Rud, Dia dalam kegelapan dan dia tak bisa mendekati ku dengan keterbatasan nya." Dantai mengusap mata basahnya lalu membuang muka ke lain menghilang kan rasa sesak di dada.
"Ya aku punya nomer Sari nanti aku hubungi dia, Dan sebelum kau menghubunginya, biar dia tau dulu siapa dirimu dan mempunyai hubungan apa dengan nona mudanya." kata Rudi dengan menepuk bahu Dantai.
"Kenapa sih kalian pelit sekali kasih tahu nama dia?" tanya Dantai dengan tatapan tajam pada mereka.
"Kalau kau tahu dengan mudah itu gak seru, Dan," kata Aril terkekeh yang di ikuti semua temannya.
"Ahhh, kalian ini teman ku apa bukan sih?" sungutnya pada teman-temannya.
__ADS_1
"Bukan!" teriak mereka bersamaan dengan memeluk Dantai disertai tawa berderai.