
Ke esokan harinya Dokter Rizal dan Sari sudah kembali ke Indonesia dengan di antar oleh Dantai dan meninggalkan Maera untuk di asuh oleh keluarga Andi.
Detik berputar searah jarum jam membuat waktu terus bergulir hingga menembus masa. Tak terasa satu tahun terlewati, si kembar sudah berusia genap satu tahun, Dantai memperkerjakan dua orang baby sister untuk si kembar agar Mami dan Nenek tidak capek, Dantai juga memperkerjakan satu asisten rumah tangga dan satu supir. Maera sudah duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Sedangkan Papi kembali sibuk mengurus usahanya karena beberapa masalah ketika beliaunya vakum dan menyerahkan pada asistennya Pak Antok dan beliaunya merasa tidak sanggup untuk mengatasinya sendiri dan Papilah yang turun tangan untuk mengatasi Masalah perusahaan.
Salva telah menikah dengan Aril dan mereka tinggal di Jakarta, di sebuah apartemen milik Aril. Aril memiliki andil di usaha Rudi mereka mengelolanya bersama hingga menjadi restoran bergaya unik, dari menu tradisional hingga makanan western lalu ada pertunjukan musik dengan di iringi oleh orgen tunggal pengunjung boleh menyanyi atau pun request lagu. Itu semua tidak luput dari tangan dingin Karenina CEO Barbar kekasih Rudi itu, bahkan Kharen ikut bernyanyi bersama Salva yang mempunyai suara merdu tak kalah dengan kakaknya yaitu Dantai.
Anta sudah mulai kuliah di Curtin Singapura, mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen. Menggunakan semua alat yang di berikan nyonya Celo padanya. Laptop keluar terbaru dengan modifikasi printer berukuran sebesar notebook. Sebuah alat petunjuk jalan berukuran 4x7cm desain terbaru yang di buat tuan Harri khusus untuk Anta, Alat itu tidak hanya menjadi penunjuk jalan Anta tapi juga mampu mendeteksi apapun. di Curtin banyak sekali mahasiswa yang menyandang disabilitas sehingga dia pun nyaman untuk kuliah di sana. Anta pun belajar dari kenyataan hidupnya sendiri apa yang terjadi pada dirinya tak mungkin berhenti dan tak mungkin terus meratapi suatu kenyataan yang sudah tak sama seperti dulu, hidup terus berjalan dan harus tetap berusaha membahagiakan diri dengan survive dalam kehidupan ini.
Anta mengikuti kuliah dengan mengeluarkan laptop modifikasi memasang kertas HVS di printer sambil mendengarkan dosen yang sedang menerangkan mata kuliah itu.
Dosen itu berhenti menerangkan, tertarik dengan apa yang di lakukan mahasiswi yang di ketahui tunanetra itu dia pun berjalan menuju tempat duduk Anta dan mulai melihat 1 lembar kertas HVS telah terlepas dan di lihatnya di sana telah tertulis semua kalimat yang di terangkan dengan huruf braille. Dosen yang di ketahui bernama Aldo itu kembali ke depan dan menerangkan mata kuliahnya. setelah jam mata kuliahnya habis ia tak segera keluar duduk di mejanya, melihat Anta yang tak pernah keluar kelas itu jika mata kuliah Anta selesai. Anta menutup laptopnya mengeluarkan alat stiknya terhubung dengan kabel dan headset di telinganya lalu mengambil buku, buku itu di bukanya dan alat itu di arahkan pada tulisan yang ada di buku itu. Aldo berjalan ke meja Anta lalu duduk di depan meja Anta, "Apa itu sebuah alat yang bisa membaca dan kemudian kau mendengarkannya."
Anta tersenyum, "Bapak belum keluar?"
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya Anta?"
Anta terkekeh, "Iya, ini hadiah spesial dari tuan Harri, katanya ini memang khusus untuk saya."
"Siapa tuan Harri, boleh saya tahu." tanya Aldo pada Anta.
__ADS_1
"Kenapa anda begitu tertarik dengan kehidupan saya? apa anda ingin membuat novel tentang kehidupan saya?" gurau Anta sambil terkekeh
"Mungkin," jawab Aldo yang tak lepas dari wajah cantik Anta, mata yang lebar kebiru-biruan, hidung mancung bibir tipis merah alami tanpa polesan ketika tertawa nampak lesung pipit yang dalam.
"Bapak gak keluar?" tanya Anta pada dosen itu.
"Ya, Sebentar lagi saya akan keluar, saya suka lihat mahasiswa yang rajin."
"Apa nanti di jemput?"
"Iya, Pak."
Anta tertawa, "Trimakasih, sayangnya saya di jemput."
Aldo tertawa, "Ya sudah saya akan keluar, selamat belajar."
"Ya, Pak. Trimakasih."
"Tak seberapa lama, ada panggilan dari Dantai di terimanya panggilan telpon itu
__ADS_1
"Assalamualaikum, ayah. Ada apa?"
terdengar suara dari sebrang, "Wa'alaikum salam, Bun. sudah selesai belum? kalau sudah keluar gih, atau ayah nyusul Bunda di situ, Ayah sama Hira ada di parkiran, nih." kata Dantai melalui telepon.
"Bunda aja yang keluar kesitu."
Anta pun memasukan semua peralatannya. kecuali stick kecil berukuran 7 cm itu memandunya untuk berjalan sampai tujuan, akhirnya Anta sampai ke parkiran di mana Dantai berdiri di bawah pohon, Hira yang melihat Bundanya berjalan ke arahnya berjingkrak- jingkrak dalam gendongan Dantai tangan Hira mengulur pada Anta lalu mulutnya," Nda... Nda ...Nda," Dantai tertawa menyongsong Anta, "Tadi, Mami telpon katanya Hira rewel jadi dari kampus langsung ke rumah lalu balik ke sini, sekalian ngajak Bunda makan siang."
"Boleh, Bunda lapar nih," kata sambil meraih Hira dari gendongan Dantai, tangan Hira mulai mencari sumber makanannya, "Hei, jangan sanyang tungguh di mobil aja. Ayo, Bun. ke mobil," katanya sambil merangkul pinggang sang istri, lalu segera menyuruhnya masuk ke mobil karena Hira sudah tak sabar untuk meminta Asi dari Bundanya begitu sampai di dalam Anta membuka kancing baju atas lalu mulai menyusui putri kecilnya.
"Bun, nanti malam giliran ayah ya..." katanya sambil terkekeh.
"Sudah yah cepat jalankan mobilnya," perintah Anta. Tak lama kemudian kendaraan yang di tumpangi Anta, Hira dan Dantai pun berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan kampus membelah jalan, " Emir gak nangis tadi?" tanya Anta.
"Emir tadi tidur,Bun. Jadi gak tahu kalau adiknya di ajak ayahnya keluar kalau tahu sudah kejer dia deh." jawab Dantai sambil fokus menyetir.
Kita pulang dulu aja ya, Bun. Nanti ada kuliah lagi jam berapa si Bun?" tanya Dantai sama istrinya, sebenarnya hari ini kita di undang Boy untuk merayakan keberhasilan kami membangun restoran yang ke empat. Tapi aku sudah bilang bahwa gak bisa, karena ingin berdua dengan mu. Eh, si Hira malah nangis gak diam-diam cari Maknya," kata Dantai sambil tertawa.
Anta tertawa, "Ayahnya gak boleh berduaan ya... "
__ADS_1
"Padahal ayah sudah pesan kamar hotel loh, Bun. Rencana kacau deh sama Hira." Hira yang di sebut oleh Dantai langsung menghentikan hisapan dan matanya menyorot ke ayahnya, "Uluh-uluh. Anaknya marah nih, Yah. Disebut namanya oleh sang Ayah." jawab Anta. Dantai terkekeh mendengar ucapan Anta karena putrinya itu pintar sekali membuat drama hingga omah jadi bingung sehingga Dantai lansung meluncur ke rumah untuk menenangkan bayi itu tapi ketika di ajak ke mobil lansung berhenti begitu saja tangisnya.