
Keesokan harinya Rudi berpamitan untuk pulang ke Jakarta Andi mengantar sampai ke Bandara lalu kembali ke apartemen kembali.
Dantai menghabiskan waktunya bersama Anta, menemani untuk terapi sepanjang waktu. beberapa hari ini ada kemajuan Anta sudah bisa berjalan hingga satu meter dari hari kedua di temani Dantai,hari ketiga bertambah 3 langkah, hari ke empat bertambah 7 langkah hari kelima di sudah bisa melangkahkan kakinya sejauh dua meter dan akhirnya terjatuh,
Dantai lalu menggendong Anta dan membantu duduk di kursi roda ia berjongkok di depan kursi dan mengusap keringat di dahi Anta.
"Cukup sayang, besok lagi," katanya lembut.
Dantai menghampiri dokter Karina terapis Anta.
"Bagaimana dok? dengan perkembangannya, harus menjalani terapi berapa lama lagi ia bisa berjalan?"
"Saat ini saya melihat perkembangan yang luar biasa dalam diri Anta dorongan yang membuat ia berusaha untuk sembuh, yaitu Anda. Jika dorongan itu terus ada pada diri Anta kemungkinan dalam satu bulan lagi ia bisa berjalan."
"Apa yang bisa saya lakukan dok waktu saya di sini terbatas?" tanya Dantai pada dokter Karin.
"Beri semangat di manapun Anda berada, bisa lewat video call agar membantu mempercepat proses dalam terapinya."
"Baik, Dok terimakasih banyak," ucap Dantai pada dokter Karin.
Dantai pun berpamitan pada dokter Karin, Ia mendorong kursi roda Anta keluar dari ruangan terapi, berjalan menuju ruang perawatan Anta, mereka pun masuk kedalam Dantai berjongkok mensejajarkan diri dengan Anta.
"Bagaimana perasaanmu hari ini Honey?"
"Aku sangat bahagia, tak ingin kau pergi tapi aku pun tak boleh egois kepada mu, Aku janji padamu untuk berlatih berjalan dengan cepat agar aku segera bisa berjalan kembali."
"Aku akan membantu menyemangati mu,"
"Bagaimana caranya kau menyemangati ku? Sementara kau jauh dari ku," tanyanya pada Dantai dengan tatapan kosong.
"Kau ingin tahu?" tanya sambil menyeringai, Anta menggangguk.
"Turuti aku ya...! sekarang aku ingin kau berlatih berdiri selama satu jam," katanya sambil meraih tangan Anta lalu menariknya pelan, dengan perlahan Anta pun berdiri dengan sedikit sempoyongan.
Dantai meletakan satu tangan ke pundak Anta agar tidak terjatuh, lalu di letakannya ke dua tangan Anta ke pinggangnya dan satu tangannya lagi ke pinggang Anta kemudian dia tekan perlahan hingga menyentuh dada bidangnya," peluk aku seperti ini selama satu jam akan ku salurkan hawa positif padamu agar besok kau semangat berlatih."
Anta pun tertawa," Kalau begini namanya modus."
__ADS_1
Dantai pun tergelak,"Bukan sayang, ini benar, hanya dengan begini aku bisa menyalurkan beribu hawa positif pada mu."
"Bagaimana tidak modus dari dulu kau paling pintar mengerjaiku," Kata Anta terkekeh sambil memeluk Dantai dengan erat, tercium bau maskulin dari tubuh Dantai yang menyejukkan hatinya.
"Boleh aku tanya lagi?" tanya Dantai
"Apa? tanya Anta menatap Dantai kosong.
"Apa kau tidak mau menikah sekarang dengan ku? aku ingin membawa mu pulang."
"Kau sudah janji akan menunggu ku bukan?" tanya Anta
"Ya," jawab Dantai sambil memeluknya semakin erat.
"Kau juga janji mewujutkan keinginan ku kan?"
"Hem," jawab Dantai memejamkan matanya sambil menikmati aroma tubuh Anta.
"Fif, Apa kau tidur?'
"Fif, Jika aku tak bisa melihat kembali apa kau tetap ingin bersamaku? tanya Anta.
"Tentu, masih ada mataku untuk bisa membuatmu melihat dunia dan masa depan kita."
"Dianta Anta Bella, Jangan lagi berpikir buruk tentang aku, hati ku telah terkunci untuk wanita lain, dan kau sudah masuk di dalamnya tak akan ku ijinkan kau keluar, apa kau mengerti?"
"Ya..," jawab Anta sambil terisak.
Anta memeluk erat kekasih hatinya yang selama ini ia ragukan akan tetap bersamanya atau tidak.
Di tempat lain di Jerman, seorang pria sekitar berumur 21 tahun berdebat dengan ayahnya.
"Aku sudah membereskan masalah yang kau lakukan sekitar 2 tahun yang lalu, Jangan pernah kembali padanya, dia tak mencintaimu lagi Ren, apalagi jika tahu bahwa kau lah yang membuatnya celaka, Ia akan membencimu."
"Aku mencintainya pa, aku salah meninggalkannya begitu saja, aku menyesal tak punya cara untuk kembali. Itu sebabnya aku melakukannya, bukan mencelakainya, tapi untuk mencelakai pria itu, sayangnya ia tidak mati, hanya hilang ingatan saja, dan ku kira mereka akan berpisah selamanya dan ku kira Anta akan baik-baik saja ternyata tidak. Dia lumpuh dan buta." kata Reno pada ayahnya.
"Lalu apa yang kau harapkan dari gadis buta dan lumpuh yang tak mencintaimu? Lupakan dia dan menikah dengan Renata atau penjara!"
__ADS_1
"Baiklah akan ku turuti apa yang menjadi keinginan papa."
"Itu Bagus, dan ingat kubur dalam-dalam apa yang pernah kau lakukan pada mereka, mengerti kau Ren!" kata lelaki paruh baya itu pada putranya lalu pergi meninggalkan pemuda yang masih termenung di belakang meja kerjanya itu.
Dantai tiba di apartemennya milik ayah Anta jam 4.00 sore, Dantai di berikan cardlock agar bisa masuk ke apartemennya.
Dantai pun menempelkan cardlock dan pintu pun terbuka lalu menutupnya kembali.
Dantai memasuki kamar yang di sediakan untuknya kemudian mengambil handuk dan pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi. Dantai mengisi bathup dengan air hangat dan memasukkan aromaterapi lalu merendamkan tubuhnya ke dalam air hangat, rasanya ia tak ingin kembali secepat ini sayangnya tiba-tiba ayahnya menelpon untuk segera pulang ada hal yang harus di bicarakan.
Ada sedikit rasa curiga di hati Dantai namun tak ingin menduga-duga apa yang akan terjadi.
selama 1 jam ia berada di kamar mandi. Ia pun keluar dari kamar dengan telah berganti pakaian.
Ia pun mulai membenahi pakaiannya di taruh kedalam koper sambil menunggu adzan magrib.
Waktu Sholat magrib tiba ia pun melaksanakan sholat magrib, setelah itu ia keluar dari kamar untuk memasak makan malam.
Ia pun mulai mengolah Berapa bahan makanan yang ada di di kulkas.
Ia mulai melumuri ayam dengan saus yang ia racik sendiri lalu memanggangnya dalam oven, menyiapkan sambal dan lalapan setelah selesai ia tata di atas meja, Andi datang di saat makan malam telah siap, ia masuk setelah mengucapkan salam dan dibalas oleh Dantai,
"Wah ini sepertinya enak," kata Andi pada Dantai.
"iya om, mari kita makan bersama."
"Sebentar om mandi dulu."
"Iya om."
Tak lama kemudian Andi muncul dengan wajah segarnya mereka pun makan malam bersama.
"Dan, apa orang tua mu akan setuju jika bersama Anta?" tanya Andi di selah makannya.
"Pasti om, Jika tidak akan ku usahakan mereka setuju. Percaya saja pada saya, om. Tolong jaga Anta untuk saya ya om."
"Pasti Dan," jawabnya sambil mengulas senyum."
__ADS_1