Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Mood Booster


__ADS_3

Rio pun menerima panggilan video, dan ia terkejut ternyata Hira, nampak di layar penuh dengan wajah yang menggemaskan itu. "Assalammualaikum, hello Om, kenapa gak main ke sini lagi, kata ayah Om sudah punya tante dan mau punya anak." Sangking terkejut Rio sampai terbengong, rasa bahagia menyeruak di hatinya, Suara panggilan dari Hira membuatnya tersadar. "Wa'alaikumsalam, Cantik. Apa kabarnya." Hira cemberut. " Kabar Hira buruk, karena Om menikah gak bilang- bilang Hira." Rio pun terkekeh. "Maaf yaa, Om gak sempat kabari Hira, karena ayah Om juga lagi sakit. Hira tersenyum. " Tidak apa-apa, tapi Om mendapatkan hukuman seumur hidup om untuk menelpon Hira setiap hari jam segini." Rio tertawa. "Bagaimana kalau jam kerja saja sabtu dan minggu libur. Hira berfikir sejenak membuat Rio semakin gemas. "Ok! Baiklah, janji yaa."


Rio mengangguk dan sambung telpon terputus.


Rio bangun dan berjalan kembali keluar dari ruangan privasi kembali kemeja kerjanya. Setelah mendapatkan video call dari Hira hatinya membuncah. Ia merasa gadis itu adalah mood booster-nya. Dia kembali membaca file yang ada di mejanya dan menandatanganinya. Dia pun larut dalam pekerjaannya, hingga Adzan Ashar berkumandang, ia pun keluar untuk sholat berjamaah jamaah di masjid bersama Yudi setelah selesai mereka berjalan menuju ruangannya kembali di perjalanan menuju kesana Yudi mengingatkan kembali akan ada pertemuan dengan klien kembali jam empat. "Ok, siapkan berkas-berkas kita berangkat sekarang, aku tunggu di sini saja." Yudi mengangguk dan berjalan setengah berlari ke ruangannya untuk mengambil file kerja sama dan laptop lalu berjalan kembali masuk ke dalam lift dan keluar kembali ketika sudah berada di lantai dasar. Berjalan menuju area parkir dan masuk kedalam mobil di mana Rio sudah menunggu di dalam. Dia duduk di belakang kemudi dan menjalan 'kannya dengan kecepatan sedang. Tak seberapa lama kemudian mereka tiba di restoran Cina dengan nuansa yang khas. Mereka pun masuk dan duduk di tempat duduk yang sudah di pesan sebelumnya. Duduk saling berhadapan dan mulai membahas tentang kerjasama mereka, Yudi mulai membuka Laptopnya mempresentasikan program kerja sama mereka dan segala keuntungan yang akan mereka dapatkan. Beberapa saat mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius. akhirnya mereka menandatangani perjanjian kerja sama tersebut. Setelah selesai mereka keluar dari restoran dan berjalan menuju area parkir lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu. "Pak kita kemana? Pulang ataukah kembali ke kantor. Kita kembali ke kantor saja Yud, masih banyak yang harus diselesaikan."


"Baik, Pak." kata Yudi masih mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, ia membelokan ke arah gedung kantor perusahaan merasakan berjalan ke area parkir dan berhenti di sana lalu mereka pun keluar dari mobil dan berjalan melewati lobby masuk ke dalam lift yang mengantarkan mereka di lantai paling atas. Setelah sampai mereka keluar lift dan berjalan menuju ruangan masing-masing. Yudi adalah Adik Gibran, Roi dan Gibran mendirikan usahanya sendiri hingga ayah Roi jatuh sakit sehingga mengharuskan ia kembali ke perusahaan keluarganya dan Gibran memegang perusahaan yang Dia rintis bersama. Gibran menawarkan adiknya pada Rio untuk membantunya Satu tahun yang lalu hingga sekarang.


Rio sudah sampai ke ruangannya duduk kembali di kursi kebesarannya dan kembali larut dalam pekerjaannya. Senja mulai menampakkan wajahnya dan hari perlahan mulai gelap, adzan magrib berkumandang, Rio kembali keluar untuk menunaikan ibadah sholat magrib di masjid setelah selesai ia kembali ke kantornya mengerjakan pekerjaan kembali, ia mengirim pesan kembali kepada istrinya bahwa ia tidak dan tidur di kantor karena harus mengerjakan proyek yang harus diselesaikan.


Disebuah rumah megah di dalam kamarnya seorang wanita duduk di bibir ranjang dengan hati kecewa. selama mereka menikah Jasmine tidak pernah merasakan hangatnya cinta dari Rio suaminya. Setiap berhubungan dia merasa bahwa Rio hanya menyukai tubuhnya bukan hatinya dan ada sebuah tembok yang sengaja suaminya bangun agar aku tidak bisa masuk lebih dalam ke hatinya.


Jasmine menatap perutnya yang sudah membuncit ia mengusap dengan berkata pada buah hatinya," Nak, tumbuh sehat di rahim bunda yaa. Ketuk hati Ayahmu agar bisa mencintai bunda."

__ADS_1


Sementara itu Rio yang berada di kantor melihat jam tangannya, menunjukkan jam 20.00 Rio mengetik sebuah pesan singkat.


Rio


Princess sudah belajar?


Hira


Rio


Om video call yaa.


Hira

__ADS_1


Ok!


Setelah mendapatkan balasan Rio mengubah menjadi video call dan langsung di terima Hira, nampak dilayar wajah Hira yang cantik dan tersenyum lebar. "Om ada di mana?" Rio tersenyum. "Om ada di ruangan kantor Om, lihatlah banyak berkas-berkas di sini 'kan." Rio mengarahkan kamera di seluruh ruangan. "Om tidak takut sendirian, itu seram loh," kata Hira sambil rebahan di kamarnya. "Tidak Om sudah besar bahkan sudah tua, makanya tidak takut." kekeh Rio.


Gadis itu pun tertawa lesung pipit yang dalam menghiasi kedua pipinya. "Aku bakal takut jika aku sendirian."


"Kalau sama Om takut, tidak?" tanya Rio sambil menikmati wajah cantik Hira yang lucu itu. "Tidak Om tampan dan baik hati, Hira selalu mengagumi Om. Om, kapan ke sini lagi?"


"Nanti yaa, kalau Om sudah tidak repot lagi dan ada waktu luang." Hira mengangguk sambil menguap. "Sama tante dan dedek bayi yaa, Om." Hira menguap beberapa kali dan matanya sedikit meredup. "Tidur, princess. Jangan dimatikan yaa, kameranya arahkan ke kamu." Hira mengangguk handphone-nya didirikan di taruh di atas meja lalu berkata, "Om, Hira tidur yaa."


Rio mengangguk. Hira pun tidur dengan pulasnya. Andai orang tuanya tak memaksanya untuk menikah mungkin ia akan menunggu Hira sampai dewasa.


Rio masuk ke dalam ruang privasinya ia menatap gadis kecil itu. Sungguh ini membuatnya gila. Dia tak tahu kenapa begitu mendambakan putri kecil sahabatnya. Orang tuanya menganggap dia sudah tidak normal lagi menyukai seseorang anak kecil bahkan mulai dari dia masih bayi. Akan tetapi itu di rasakan hanya dengan Hira. Di pandangnya wajah gembul itu dan di cium pipinya, hingga terdengar suara Dantai bertanya pada putrinya, seketika itu panggilan video diputuskannya untungnya dia sudah memotret beberapa kali, hingga membuatnya bisa melihat dengan puas foto Hira yang menggemaskan. Rio merebahkan badannya di atas ranjang mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah sangat lelah sambil memandang wajah Hira yang membuat gairah hidupnya dan semangat kerjanya bertambah, beberapa ide muncul begitu saja ia menulis note di buku agenda yang di kamar privasi setelah dirasa lelah ia pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2