Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Rencana Pergi Babymoon


__ADS_3

Jasmine yang memanggil suaminya tak kunjung datang, membuatnya keluar sendiri dari kamar mandi dan tersenyum melihat suaminya tertidur. Jasmine berganti pakaian dengan piyama tidurnya lalu naik ke ranjang dan menempati ruang kosong sebelah suaminya. Saat ranjang tergoncang Rio pun terjaga. "Hai hati-hati," pintanya.


Dia duduk dan meraih tangan Jasmine membantunya duduk di ranjang. "Kenapa tidak bangunkan aku?" tanyanya pada istrinya. "Kau begitu pulas, aku tak tega membangunkanmu," kata Jasmine pada suaminya. Rio tersenyum. "Kemarilah, tidurlah disini!" kata Rio menunjukkan dadanya. "Boleh?" tanya jasmine dengan mata berbinar. "Hemm," jawabnya sambil mengangguk. Jasmine merebahkan tubuhnya dengan kepala di dada Rio. "Mas Yo," pangil Jasmine.


"Hem, ada apa? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya sambil memegang perut istrinya dan wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Rio merasakan gerakan di perut jasmine. "Dia bergerak, Jas. Kapan jadwal periksanya, kenapa tak pernah mengajakku?" tanya Rio.


"Kamu sibuk, aku tak ingin mengganggumu, Mas Yo," kata jasmine


"Sudah ku katakan aku milikmu dan anakku, kapanpun kau butuh aku, teleponlah!" perintahnya.


"Hem," jawab jasmine sambil terpejam, malam ini dia sangat bahagia seolah ia tak ingin waktu berjalan dengan cepat, dia tidur di dada dan dalam pelukan suaminya.


Rio pun memejamkan matanya kembali terlelap dengan memeluk wanita yang sangat mencintainya dan tak pernah peduli walau di hati tak pernah ada dia.


...----------------...


Suara Adzan subuh membangunkan tidurnya, dia membuka matanya tak ada istrinya di sampingnya.


Dia bangun dan duduk di bibir ranjang, mencari sosok wanita yang ia peluk semalam, lalu ia melihat bayangan sang istri keluar dari kamar mandi dan ia menoleh serta terseyum pada wanita itu.


"Kenapa tidak membangunkanku?" protesnya


"Kau terlalu lelah aku tidak tega," jawab Jasmine.


"Tunggulah kita sholat berjamaah!" perintahnya.


Rio berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu keluar dan berdiri di atas sajadah yang telah di siapkan istrinya kemudian mereka sholat subuh berjamaah. Setelah selesai Jasmine mencium punggung tangan suaminya.


"Jas, hari kita akan periksa kandunganmu, aku ingin mengajakmu pergi untuk babymoon karena kita tak pernah pergi berbulan madu, maaf akhir-akhir ini aku pulang malam untuk menyelesaikan urusan kantor karena ingin mengajakmu pergi, katakan kau ingin pergi ke mana? Namun, sebelum pergi aku ingin tahu kondisimu dan bayi kita," jelas Rio pada istrinya

__ADS_1


"Benarkah?" tanyanya pada suaminya


"Hem," jawab Rio sambil tersenyum


"Aku ingin ke Maldives, bolehkah?"


"Ya, kita akan kesana, tetapi kita akan temui Dokter kandunganmu dulu, hem," kata Rio lembut. Jasmine mengangguk, lalu melepas mukenanya dan melipatnya, lalu meletakan di nakas.


Rio menatap istrinya, rambut hitam lebat dan panjang sepinggang itu jatuh menutupi wajah cantiknya.


"Jas!" panggil Rio


Jasmin mendongak."Ya," jawab terseyum. "Kemarilah, duduklah di pangkuanku!" pintanya


"apa begini?" tanyanya sambil duduk memunggungi suaminya di pangkuannya, tangan Rio mulai membuka satu persatu kancing piyama jasmine melepas tali penyangga gunung kembarnya. "Hari ini hingga satu minggu kedepan aku tidak ke kantor, aku biasa sibuk dengan pekerjaanku jika aku di rumah jangan mengeluh jika aku mengerjaimu seperti saat ini, Aku menyukai ini," katanya terkekeh, sambil tangannya menyentuh keindahan tubuh jasmine.


Jasmine memukul tangan Rio dan suaminya tertawa. "Apa tidak apa jika aku berkunjung kembali?" katanya sambil memegang perut istrinya lalu merayap turun ke lembah kenikmatan dan bermain di sana. Jasmine memejamkan matanya, menahan rasa yang diciptakan suaminya. "Tidak apa-apa," kata Jasmine.


"Jas, aku menginginkan mu, boleh?" pintanya


"Lakukanlah, Mas Yo. Aku istrimu aku menyukai semua yang kau lakukan padaku," kata Jasmine lagi semakin tak kuat memendung hasratnya.


Pria itu kembali membawanya keperaduan berpeluk kasih sayang berbaur hasrat yang semakin menggebu entah kenapa setelah malam itu Rio selalu ingin melakukannya, disaat dekat dengan istrinya seolah menjadi candu untuknya. Hawa pagi nan dingin berubah menjadi panas dengan gelora cinta mereka, sedikit demi sedikit Rio melupakan gadis kecil bermata biru yang tak mungkin ia rengkuh.


Mbak Narti telah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Beberapa hari ia melihat sang majikan keluar dengan rambut basah dan nyonya mudanya itu akan tersipu malu saat dia menatap dengan bahagia.


Mbak Narti tahu betapa sang majikan mendambahkan itu, saat ini dia melihat hal yang sama keluar kamar dengan rambut basah, namun ada yang aneh, nyonya itu sedikit pucat. Rio dan Jasmine duduk dan mulai memakan makanan pagi.


"Tuan, maaf apa nyonya baik-baik saja, kenapa wajahnya pucat?" tanya mbak Narti.

__ADS_1


"Iya, kah?" tanyanya terkejut lalu menoleh ke Istrinya dan memang wajahnya pucat. Tanpa sadar ia bertanya tentang aktivitas ranjangnya di hadapan Mbak Narti. "Jas, apa kau tidak apa-apa? Apa aku terlalu menguras tenagamu? Apa aku terlalu banyak meminta?" Jasmine menyembunyikan rasa malunya sementara itu Narti menahan tawa melihat kecemasan tuannya itu yang baru ia lihat hari.


"Selesaikan sarapan mu, kita segera ke dokter kandungan aku tak ingin terjadi apapun padamu mengerti!" perintahnya tegas.


"Iya, sebentar yaa, Mas Yo," pamitnya pada suaminya


"Mau kemana?" tanya Rio


"Mengabari Dokter Dara, kalau kita akan kesana," kata Jasmine tenang,


"Baiklah, lekas kembali! Kau belum mengisi perutnya sama sekali," perintahnya kembali.


"Iya," jawab Jasmine ia pun pergi ke kamar dan mengunci pintunya, lalu menelpon Dokter Dara. Beberapa saat kemudian panggilan telponnya tersambung. "Assalammualaikum, Dokter Dara. Nanti kami akan datang kesana, tolong sembunyikan keadaanku padanya!" Dari seberang terdengar helaan nafas berat dari Dokter Dara. "Baiklah, apa yang membuat Tuan Rio ingin memeriksanya kembali? Dua hari yang lalu Anda sudah periksa, 'kan?"


"I-- itu kami melakukan hingga tiga kali, dia kawatir terjadi apa denganku dan janinku dan kami berencana untuk untuk pergi ke Maldives," jawab Jasmine


Suara tertawa terdengar membuat Jasmine menelan salivanya sendiri.


"Minum vitamin yang saya berikan ke kamu lalu tolong berikan telponnya, saya mau bicara dengan Tuan Rio," kata Dokter Dara.


Jasmine membuka pintunya, lalu berjalan menuju meja makan. "Mas Yo, Dokter Dara mau bicara ni," kata Jasmine. Rio menoleh dan menerima handphone dari Jasmine. "Hello, ya Dok ini saya." Rio memulai percakapannya.


Dokter Dara memberikan pengarahan dan memberikan nomer telpon dokter kenalan di sana jika terjadi sesuatu yang darurat. Rio meringis sambil melirik istrinya. "Ok! Dok, trimakasih. Wa'alaikumsalam. Rio memberikan kembali handphone pada Jasmine.


"Apa kata Dokter Dara?" tanya Jasmine


"Gak apa-apa, dan suru pakai pengaman biar gak kontraksi awal," jawab Rio datar membuat Jasmine tertawa.


"Jangan tertawa kamu!" larang suaminya dengan raut wajah dongkol.

__ADS_1


__ADS_2