Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Rencana healing


__ADS_3

Aldo selalu menghabiskan malamnya di sini dengan asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungnya. Akan tetapi setelah Era datang taman ini menjadi kencan pertamanya bersama istri kecilnya.


Aldo memeluk kekasihnya hatinya itu, ia tak tahu kenapa begitu menyukai gadis ini, menunggunya dewasa untuk dia persunting. Menjadikanya ratu di dalam hatinya. Kini gadis itu ada di sini dalam pelukannya siap untuk mengarungi biduk rumah tangga bersamanya, namun belum bisa diajaknya mengarungi lautan cinta yang menghanyutkan jiwa, hati dan tubuhnya.


Dia menatap istrinya penuh rasa cinta.


"Sejak kapan punya ide, sambut Abang dengan penampilan seperti itu," bisik Aldo. Era tertawa. "Sejak serangan siang tadi." Aldo tertawa dan masih menatap lekat wanitanya. "Aku suka, maukah kau melakukannya setiap hari saat aku pulang kecuali kau dalam keadaan halangan." Era mengangguk dan tersenyum manis.


...----------------...

__ADS_1


Di dalam kamar Anta tengah duduk di sofa, pikirannya berkecamuk tentang apa yang terjadi padanya di Jerman. Setelah kepulangannya dari sana ia belum menceritakan apa yang terjadi di sana, Dantai yang baru menengok anak-anak melihat Anta tengah melamun, dia mengkunci pintu kamarnya berjalan mendekati Anta, ia duduk berjongkok di depan istrinya melepaskan kancing baju terusan istrinya yang sebatas lutut. Satu persatu hingga terlepas semua, Dantai tidak tahu apa yang tengah dipikirankan Anta hingga tak menyadari kehadiran saat ini dengannya padahal instingnya biasa kuat. Dantai menarik keatas kain yang menutupi bukit indah yang menjadi kesenangan untuk bermain di sana dan bibir itu sudah mengulum pucuk indah kegemaran dan tangannya meremas salah satunya membuat Anta terkejut dan membuyar apa yang di pikirkan saat ini, Ayah ... teriaknya lirih, tangan lainnya telah menarik kain yang menutupi lembah terlarang dan bermain di sana, hingga membuat Anta tak bisa berkutik, Dantai tersenyum, dengan cepat ia melucuti semua benang yang menutupi tubuh Anta, di rebahkan tubuh istrinya di atas sofa. Bibirnya masih menikmati stroberi yang tumbuh di puncak bukit secara bergantian dan tangannya masih mengembara di lembah yang kini mulai basah oleh ulahnya, bibir itu menyapu tubuh Anta dari atas menuju kebawah terus kebawah hingga ke lembah kenikmatan bermain di sana dengan sangat lama lalu melakukan penyatuhan. Dantai larut dengan rasa yang tercipta apalagi suara nyanyian cinta keluar dari bibir mungil istrinya ia terus memacu dengan cepat hingga mencapai puncak kenikm@tan.


Nafas masih memburu Dantai masih dalam penyatuan di tatapnya istri cantiknya. " Bun, apa ada masalah? Katakan padaku, bukankah kita sepakat untuk selalu terbuka bukan." Dantai bergerak membuat Anta melenguh. "Jangan bergerak, Mas! Aku akan cerita."


Dantai mengecup bibir itu sekilas. "Ok, Katakan!" Anta memejamkan matanya menahan rasa yang di timbulkan dari pergerakan Dantai. "Apa dalam posisi seperti ini?" Dantai tersenyum. "Begini akan lebih nyaman jika aku mendengar sedikit hal yang mungkin akan mengusik hatiku." Anta menelan ludahnya dengan susah payah. " Klien yang kutemui ternyata adalah Reno matan kekasihku waktu di SMU Jakarta sebelum pindah ke Surabaya bertemu denganmu. Dia memelukku saat pertemuan itu." tiba-tiba Dantai begerak membuat Anta terkejut dan menjerit lirih. "Maaf, aku cemburu Honey, hanya itu?" tanyanya sambil mengulum punc@k dada Anta dengan beringas, Anta melenguh sambil mengangguk, ia sudah tak mampu berbicara karena Dantai bergerak dengan liarnya membawa kepuncak gaer@h, masih dengan rasa cemburu ia bertanya lagi. "Tidak lebih dari itu kan?" Anta belum mampu menjawab karena ia masih merasa lemas dengan apa yang di lakukan Dantai, tak kunjung mendapatkan jawaban Dantai mengerakan kembali memporaporandakan isi di dalamnya membuat Anta kembali menjerit semakin liar bergerak kesana kemari, dengan nafas yang masih tersengal, ia menjawab,"Ti- tidak." Dantai masih bergerak hingga ia mencapai puncak bersama Anta untuk ketiga kalinya, dengan nafas yang masih memburu Dantai bertanya," Tidak bisakah kau lepas proyek itu."


"Aku tak akan melepaskanmu. An. Sampai kapan pun." Dantai melepas penyantuannya lalu mencium kening Anta. di gendongnya tubuh.Anta menuju kamar mandi dan di baringkannya di bathub diaturnya air yang mengalir dengan temperatur yang pas untuk tubuh Anta yang mungkin sangat kelelahan karena ulahnya. "Mandilah aku akan mandi di sana." Dantai berjalan menuju shower dinyalakannya dan mulai mengguyur rambut dan tubuhnya. tak seberapa lama ia selesai. " Sayang apa kau sudah selesai," tanya Dantai saat ia sudah dekat dengan bathub di mana Anta berada. Setelah selesai Anta dan Dantai keluar dari kamar mandi berganti pakaian dengan piyama Dantai membantu Anta untuk berpakaian. Lalu mereka naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana. "Tidak usah dipikirkan lagi, biar Dewi yang mengurusi proyek itu, jika suatu saat nanti ia ingin kamu yang menangani proyek itu maka Alihkan saja pada Boy, kita tak akan rugi. Coba besok berikan filenya padaku akan ku pelajari apa ada cela untuk kita menghindari terjadinya kerugian jika ternyata mereka memutuskan kerja sama secara sepihak jadi jangan kawatir." Dantai memeluk tubuh istrinya di tatapnya wajah cantik itu. "Sayang, minggu depan kita akan healing bersama si kembar aku akan.menelpon Dewi untuk mengatur jadwalmu agar kita bisa pergi, aku sudah mengurus cutiku jadi kita bisa memenuhi keinginan anak-anak kita untuk berlibur, cari tempat yang ingin kau kunjungi atau diskusikan dengan anak-anak ya." Anta menggangguk. "Cepatnya akan ku bicarakan dengan anak-anak, aku tak bisa menayangkan betapa mereka bahagia, mereka sudah menunggu lama.


"Ayah tadi marah'kan sama bunda sampai segitunya sama bunda?"tanya sambil menyusupkan wajahnya di dada bidangnya.

__ADS_1


"jelas aku cemburu, Sayang. Kamu di peluk laki-laki lain, kalau aku ada di sana ia sudah babak belur."


"Maafkan aku, tidak bisa menjaga diri, aku juga tidak mau berbohong padamu, rasanya malu menceritakan itu padamu, tapi aku takut jika tidak kukatakan padamu dan kau mendengar dari orang lain akan lebih parah lagi." Anta semakin memeluk Dantai.


"Apa tadi kau takut?" tanya Dantai sambil tangannya menyusup kedalam piyama Anta.


"Iya, Aku baru tahu kalau kau marah seperti itu, kau tadi sangat buas dan liar, membuat aku tak sanggup Menghalau kemarahanmu, tapi aku suka," katanya lirih sambil terkekeh. "Kalau begitu buat aku marah tapi jangan dengan cara seperti itu ya ...."


Mereka pun terlelap saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2