
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang melaju di jalan raya Singapura yang sedikit padat. sementara itu di tengah cucunya sedang saling berdebat tentang kemana dan bermain apa setelah pulang sekolah. Andi menimpalinya sang cucu," Rundingkan nanti sekarang sudah sampai." Emir dan Hira turun mencium punggung tangan kakek sambil menjawab,"Ok! kakek." Mereka pun berlari memasuki gerbang sekolah dan mobil Andi meninggalkan gedung sekolah Emir dan Hira.
Jam dua siang Andi menjemput cucu-cucunya. Mereka berlarian menuju mobil kakeknya di area parkir sekolah.
Emir langsung masuk dan duduk di sebelah kakeknya. Bibir Hira mengerucut tak trima ketika kakaknya duduk di dekat kakeknya. "Ya, aku sendirian dong di sini," kata Hira sambil menghempaskan pantatnya.
Emir menoleh kebelakang menatap adiknya. "Kasian kakek kalau sendirian, masak kakek jadi sopir, mending kamu bisa jadi Putri tidur di situ." Andi tertawa mendengar perdebatan bocah kecil itu.
"Ya-ya, aku akan tidur, tapi awas ya kalau sudah sampai tidak bangunkan," katanya. Ia menaruh bantal di ujung kursi lalu merebahkan badannya di kursi penumpang. " ini wilayah privasi saya ya, ha-ha-ha." Emir hanya memutar bola matanya ke atas mendengar claim dari adinya. "Aku gak mau bangunkan ya, Ra." Lalu ia menoleh ke kakeknya. "Kakek bawakan baju ganti buat kita kan?" tanya Emir pada kakeknya.
"Bawa, di bangku belakang, ambil Ra!"
Andi masih fokus mengemudikan mobilnya. Hira bangun lalu melongok ke kursi belakang dan mengambil dua paper bag, dilihatnya satu persatu dan di ambilnya punyanya kemudian yang lainnya di berikan ke Emir. Masih fokus menyetir Andi berkata, "Cepat ganti bajunya, kalau ketahuan bunda, Kakek bisa kena marah." Emir menatap kakeknya. "Mana ada, malah bunda yang takut sama kakek." Andi Tertawa. "Masak." Emir mengangguk sambil mengambil pakaiannya di paper bag. "Kakek beli?" Andi tergelak. "Tadi bundamu ada di rumah sama mbak Dewi jadi kakek gak berani ambil baju kalian." Emir berganti pakaian lalu baju seragam ia simpan di paper bag begitupun Hira lalu menaruhnya di kursi belakang.
Mobil pun berhenti di sebuah Mall, mereka turun dengan riangnya. Andi membawanya ke arena permainan anak-anak. Di sana mereka sangat gembira. Mereka mencoba permainan apapun, sedangkan Andi duduk di kursi dekat area permainan sambil melihat cucunya bermain dengan sangat senangnya, berpindah-pindah tempat bermain hingga mereka pun berlari ke tempat di mana Kakeknya duduk. "Kakek kami lapar." Andi tertawa. "Kakek kira hanya dengan bermain kalian kenyang." Mereka tertawa mendengar sahutan kakeknya. "Tidak kakek, sebelum mulut kita makan sesuatu." Andi beranjak dari duduknya. "Baiklah, ayo kita makan. Mau makan di mana kita?" Hira melompat kegirangan. "Hore, aku mau masakan Korea kakek." lalu Andi menoleh ke Emir. "Apa kita bisa makan di restoran yang berbeda dalam waktu yang sama, Kek?" Emir menatap sang Kakek dan Andi pun tertawa. "jelas tidak bisa Mir." Emir pun tersenyum. "Lalu kenapa kakek menatapku seolah ingin bertanya padaku?" Andi mengangguk. "Emang tatapan kakek punya arti bertanya padamu Mir?" Emir menatap tajam pada kakeknya. "Jadi kakek tidak bertanya padaku begitu?" Andi terkekeh. "Bertanya sih?" Mereka tertawa mendengar jawaban kakeknya mereka keluar dari Mall dan mencari restoran Korea yang ada di area Mall. mereka pun menemukan dan masuk ke dalam restoran tersebut lalu duduk di meja kosong, seorang pelayan menghampiri dan menanyakan pesanan mereka. "Kalian makan apa tanya Andi?"
__ADS_1
Hira mengacungkan tangannya lalu menjawab, "bulgogi, nasi khas Korea dan kimchi." Kemudian ia menatap Emir.
"Aku kimbab saja dan ice krim rasa vanilla, coklat dan stroberi mix" Hira berteriak. "Aku rasa stroberi dan coklat, Paman," katanya pada pelayan yang sudah berumur. "Ok! Bulgogi, nasi khas Korea dan kimchi dua, kimbab satu, ice krim rasa vanilla, coklat dan stroberi satu, rasa stroberi dan coklat satu, caffelate satu, sudah itu saja. pelayan itu mengangguk kemudian pergi dari meja Andi untuk menyiapkan pesanan mereka. Tak lama kemudian pesanan pun datang mereka makan dengan lahap. lalu menghabiskan ice krim. setelah selesai makan mereka tak ingin pulang. Pergi ke taman dulu dan bermain di sana. Kembali Andi duduk di kursi taman menunggu mereka bermain.
Usia Emir dan Hira adalah lima tahun, karena kecerdasan di atas rata-rata membuat mereka di terima di Elementary school ternama di Singapore.
Hari beranjak sore, Andi mengajak mereka pulang mereka pun naik kedalam mobil dan meninggal taman nasional itu menuju kediaman Andi.
Berjalan dengan kecepatan sedang melewati gedung-gedung tinggi, serta jalanan yang sedikit padat.
"Mana kakak tahu Ra, kan kakak bukan cenayang yang bisa tahu semuanya." katanya ketus.
"Ihh, begitu deh jawabnya, Kakak ngeselin tahu," protes Hira. Emir tertawa. "Lalu aku jawab apa, Dek?"
"Jawab yang manis gitu, Bang." tuntut Hira. Emir pun tertawa kembali. "Lah, kalau tanya itu ya, ke Bunda, Dek. Bukan ke Kakak. Kakak mana tahu soal itu, Dek?" Hira berengut. "Iya, Hira tahu, tapi jawab jangan gitu, jawabnya itu begini, Hira Cantik, Kakak gak tahu. Begitu jawabnya, jadi Hira gak sebel."
__ADS_1
Emir pun terbahak. "Oke, Hira Cantik, Kakak gak tau tanya saja sama Bunda ya, nanti." Emir tak berhenti tertawa.
Andi tersenyum. "Ya sudah, nanti di tanyakan sama-sama, mungkin bunda masih repot jadi belum bahas ini, ayah kalian juga 'kan dokter jadi susah ambil cutinya. Mungkin ayah lagi ngurusi cuti jadi belum bisa jawab pertanyaan kalian, tapi kalau kakek boleh kasih saran, lebih baik gak usah tanya dulu sama bunda dan ayahmu, tunggu mereka yang berbicara sendiri, mengerti?"
mobil pun sampai di halaman rumah Andi mereka pun keluar dan berlari masuk kedalam, sesampainya di pintu terjadi huru-hara kembali.
"Hira yang masuk!"
"Kakak, dulu yang masuk!"
"Hira!"
"Kakak!" teriak bocah-bocah itu saling bersautan dan berdiri didepan pintu masuk saling berdesakan, mereka berdua tidak masuk karena lobang pintu penuh sesak dengan tubuh mereka terlihat lebih besar dari umur mereka.
Andi membuka bagasi mobil mengambil baju Hira dan Emir di berikan ke Art yang baru keluar membuang sampah. Lalu menyusul cucu-cucunya ia berteriak memanggil istrinya untuk menghadapi anak-anak yang sama kera kepala. Rena keluar dari dalam rumah, Andi dan Rena bekerja sama untuk menghentikan keributan. Rena mengendong Hira ditarik kedam bersaman Andi menggendong Emir masuk kedalam. "Sudah masuk kedalam semuanya, jangan ribut." Emir dan Hira saling membuang muka dan pergi ke kamar masing-masing.
__ADS_1