Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Bertemu Boy


__ADS_3

Beliaunya akan datang kalau ada pengunjung yang memesan lukisan khusus dan kalau datang sekitar jam satu hingga jam dua siang hanya sebentar saja kecuali hari minggu dan sabtu beliaunya akan datang kemari dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore, Pak." kata Pelayan itu pada Andi dengan sopan.


"Bisa saya bertemu dengan Pak Boy," tanya Andi pelayan.


"Bisa, Pak. Kebetulan beliau sedang ada di sini," kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka menuju ruangan owner. Pelayan itu mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka, seorang lelaki muda dan gagah berdiri di depan pelayan, rambut yang masih basah membuat si Pelayan sedikit segan untuk menyampaikan keinginan pengunjung. "Ada apa Pak?" tanyanya pada Pelayan itu.


"I--i--itu pengunjung ingin bertemu Bapak," kata Pelayan gugup, Boy tersenyum. "Baiklah, sebentar tunggu di sini, saya ijin dulu dengan istri saya, Pak," kata sambil masuk ruang pribadinya tak lama kemudian dia kembali lagi lalu menutup pintu kantor lalu dia mengikuti pelayan menuju meja Andi.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Boy pada Andi, Emir dan Hira mendongak keatas merasa mengenal suara itu. "Om Boy!" teriak mereka bersamaan. "Kalian kenal?" tanya Andi pada Cucunya.


"Om Boy ini kan rekan bisnis Ayah, Kek," kata Emir pada Kakeknya.


"Oh, jadi ...?" tanya Andi ragu


"Iya, Pak restoran ini juga milik Dantai dan lukisan yang terpajang di di atas dinding milik Dantai beberapa sudah terjual bahkan ada juga milik Emir dan sudah terjual semua, Pak," kata Boy sambil menarik kursi dan duduk bergabung dengan mereka. Andi menoleh kepada Cucunya. "Kapan kamu buatnya?" tanya Andi dengan rasa kagum.


"Ya setelah selesai belajar Kek, dalam kamarku ada ruang khusus untuk lukisanku seperti punya Hira juga, 'kan Kek," kata Emir pada kakeknya.


"Kalau begitu, kenalkan nama saya Andi mertuanya Dantai." Andi mengulurkan tangannya pada Boy pemilik restoran itu.

__ADS_1


"Saya Boy, Pak. Senang berkenalan dengan Anda yang terkenal pengusaha sukses dan penuh ide cemerlang," kata Boy sambil menjabat tangan Andi.


"Anda bisa saja saya tak sehebat yang Anda bicarakan, justru saya kagum pada kalian Anak-anak muda yang lebih punya ide yang sangat bagus."


Mereka tertawa saling berbincang dan memuji satu sama yang lainnya.


Tak seberapa lama mereka pun menyudahi makan mereka, ketika Andi ingin membayar di larang oleh Boy.


"Sudah, Pak. Sudah kami selesaikan," kata Boy pada Andi.


"Wah, jadi gak enak ini saya," kata Andi sambil terkekeh.


"Yaa ... yaa saya mengerti trimakasih banyak traktirannya ini saya," kata Andi dengan ramah.


"Iya sama-sama,Pak."


Andi pun keluar restoran bersama Cucunya menuju ke mobil mereka lalu meninggalkan restoran itu.


Andi pun keluar restoran bersama Cucunya menuju ke mobilnya.

__ADS_1


"Kek aku duduk di belakang yaa, mau tidur, sementara hari Kakek jadi sopir yaa," kata Emir sambil terkekeh.


"Sudah masuk sana! Biar kakek mengemudikan sendiri saja," kata Andi sambil membuka pintu dan masuk serta duduk di belakang kemudi, begitu pun Emir sudah berbaring, di kursi belakang dan Hira di kursi tengah. Andi pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkir restoran melintasi jalanan sepi menuju arah rumahnya. Si kembar tertidur dalam perjalanan, tepat adzan Magrib mobil masuk kedalam halaman rumahnya. Andi membangunkan mereka. Hira dan Emir pun terbangun mereka mengerjapkan matanya dan segera duduk, matanya masih merah dan beberapa kali menguap. Hira dan Emir masih mengumpulkan kesadarannya yang masih separuh. setelah itu mereka keluar dari mobil menyusul kakeknya yang lebih dulu masuk memanggil Art dan tukang kebun untuk membawa buah dan tukang kebun untuk membawa buah-buah kedalam rumah.


Emir dan Hira berlarian masuk ke dalam dengan menjinjing tas mereka, Dantai dengan sigap menangkap keduanya dengan dekapannya agar mereka tidak berlarian. "Jangan berlarian nanti jatuh. Cepat mandi dan sholat magrib." lalu Dantai pun keluar menuju masjid terdekat untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah, Dia tak langsung pulang berdoa dan berdzikir di sana lalu membaca Alqur'an sampai isya' akan di kumandangkan. Bapak-bapak yang masih di sana pun meminta Dantai untuk mengumandangkan adzan, terdengar sangat merdu membuat mereka terperangah dan memuji suara Dantai.


Setelah selesai mengumandangkan Adzan dia mundur untuk mempersilakan Bapak Haji Hashim selaku sesepuh di sana untuk memimpin sholat.


Emir yang baru datang ke masjid bersama kakeknya menarik baju sang Ayah. Maaf, Ayah. Tadi tidak bisa ikut sholat berjamaah bersama Ayah."


Dantai menarik tangan putranya kebelakang lalu berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Emir. "Tidak apa-apa, tadi kan memang baru datang." Emir mengangguk sambil mengerjabkan matanya. Expresi yang begitu lucu hingga yang melihatnya ingin mencubit pipi yang gembul itu.


Mereka pun masuk kedalam barisan shaf dan mulai sholat berjamaah. Setelah melakukan sholat jamaah mereka pun pulang kerumahnya sambil berbincang-bincang. "Tadi papi ketemu sama Nak Boy pemilik restoran masakan Indonesia, waktu masuk namanya sangat unik bukan restoran tapi Galres BoyDan. Lalu papi masuk kedalam dan takjub melihat dekorasi ruangannya sungguh sangat menarik. Beberapa lukisan ada di sana makanannya begitu komplit, hingga Papi bertanya pada pelayan dan pelayan itu pun memanggil pemiliknya dan aku terkejut ketika Emir dan Hira mengenalnya dan ternyata kalian berdua pemiliknya, kenapa tidak cerita ke Papi Dan?" Dantai tertawa. "Usaha kecil-kecilan Pi, aku malu sama Papi yang usaha sudah besar itu kami rintis sebelum aku menikah dengan Anta. Saat itu aku sangat sibuk kuliah, hingga semua pengolahan yang memegang adalah Boy, di sana modalku tidak sebesar dia Pi, itu sebabnya tidak bisa dikatakan aku pemiliknya." Andi tersenyum. "Itu sudah merupakan hal hebat, Dan. Papi bangga padamu."


"Trimakasih, Pi," ucap Dantai.


"Papi yang harusnya berterimakasih padamu, Dan. Apa kamu kira Papi tidak tahu kalau selama ini kamu membantu Anta dan selalu menjaganya menempatkan orang-orang yang bisa di percayai dan melaporkan apa pun yang terjadi pada Anta setiap harinya," kata Andi pada pada menantunya itu.


"Aku hanya kawatir padanya, Pi. Dia mempunyai ambisi dan kemampuan yang luar biasa aku tak ingin mematahkan saja, Pi," jawab Dantai sambil menoleh ke samping mencari putranya ternyata sudah tidak berada di sampingnya dan Dantai melihat jalanan di depannya ternyata sudah berlari jauh di depan meninggalkan mereka berdua. Dantai dan Andi tertawa melihat Emir yang tidak bisa kalem sama sekali.

__ADS_1


Mereka pun sampai di rumah lansung ke kamar mereka masing-masing untuk berganti pakaian lalu bergabung di meja makan.


__ADS_2