
Satu bulan kemudian Dantai belum juga bangun dari komanya, membuat Harlan dan Ira bersedih dan cemas. Sementara itu Rena dan Andi memutuskan untuk membawa Anta berobat keluar negeri. Andi berencana membawa Anta ke Istanbul Turki.
"Mam, Pa tolong antarkan aku keruang rawat Afif aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kalinya."
"Baik lah, Ayo papi temani ke sana."
Andi mendorong kursi roda putrinya menuju ruang rawat Dantai, sesampainya di sana Andi mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya menyembul dari pintu dan mempersilakan mereka masuk.
"Tante, saya ingin bertemu dan berbicara dengan Afif, bolehkah?" Ira menghambur dan memeluk gadis malang itu walaupun kecewa ia tidak marah pada gadis itu.
"Boleh nak, Dantai belum sadar dari komanya, tante mintak tolong mungkin kehadiranmu membuat dia bangun dari komanya.
"Tante, Anta mintak maaf, karena Antalah Afif jadi seperti ini, " kata Anta sambil menunduk.
"Tidak ini sudah sudah takdir jadikan pelajaran, walaupun tante sedikit kecewa dengan An, Baik lah tante tinggal diluar ya."
"Jangan tante tolong temani Anta tante, tante Anta buta tan, Anta tak bisa mendorong kursi roda ini sendiri untuk mendekati putra tante." Kata Anta yang terdiam di tempatnya tanpa melakukan apapun kepala menengok ke kiri dan ke kenan mencobah mencari posisi Ira dengan pendengarannya. Ira menitikkan air matanya lalu duduk berjongkok di depan Anta, disentunya pipi Anta dengan lembut. Maaf tante hanya memikirkan putra tante padahal keadaanmu juga tidak lebih baik dari Dantai, Ira mengecup kening Anta, Anta memejamkan matanya tanpa terasa air matanya merembes keluar. Ira memegang pegangan kursi roda dan mendorong untuk lebih dekat dengan putranya.
__ADS_1
"Nah sekarang kamu sudah sangat dekat An," kata Ira sambil menuntun tangan Anta meraih wajah Dantai," tante ada di di dekat pintu jika kalau sudah selesai tinggal balikan tubuh mu tante akan membantumu nanti.
"Trimakasih tante." Ira pun menjauh sedikit memberi peluang untuk mereka.
"Hai, maaf membuat mu seperti ini dan maaf menyentuh mu aku ingin menghapal setiap lekuk wajah mu dengan tangan ku, mungkin beberapa tahun mendatang wajahmu akan berubah lebih dewasa dan aku hanya bisa menyimpan wajah mu disaat kita masih remaja." kata Anta sambil meraba wajah Dantai dari mata turun ke hidung Dantai yang mancung lalu ke bibirnya.
" Afif tolong dengarkan aku! Kamu sudah berjanji pada ku bukan, jika kau tersesat di ujung dunia yang tak kau kenali pun, kau akan tetep berusaha kembali padaku. Maka ku mohon bukalah matamu lari lah mendekat padaku dan tetap rengkuh hatiku dan jiwaku. Fif ku tagih janjimu hari ini pulang lah padaku, raih tanganku sekuat tenaga dan biarkan hati kita menyatu," bisik Anta sambil menangis.
"Afif Bayu Dantai, ku peringatkan padamu jika kau tak segera datang dan kembali padaku aku akan meninggalkan mu dan tak mau bertemu dengan mu lagi maka setelah itu jangan tepati janjimu!" teriak Anta sambil melepas kan genggaman tangannya, tanpa sepengetahuannya, tangan Dantai bergerak dan perlahan membuka matanya di pandangan matanya pertama terlihat gadis seusianya yang tak di kenali duduk di kursi roda sambil menangis.Ia mengeluarkan suara pertama kali selama satu bulan ini dengan suara serak dan lemah.
"Bu, siapa gadis ini mengapa ia menangis dan a aku berada dimana? Ira terkejut begitu juga Anta, hatinya terasa menghilang di sambar petir. Sebelum Ira menjawab, Anta sudah menjawab.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Dantai menatap punggung gadis itu.
"tidak, kita tidak pernah bertemu," jawab Anta sambil memejamkan matanya serasa belati menghujam tepat di hulu hatinya.
"Biar ibu antar dia keluar dulu ya sayang, sekalian panggil dokter. Ira berjalan keluar ruangan setelah membuka pintu yang semula tertutup. Ira menghampiri Harlan sambil mendorong kursi roda Anta.
__ADS_1
"Dantai sudah bangun dari komanya, tolong temani di dulu, aku ingin bicara dengan Anta." kata Ira sambil membisikkan sesuatu dan Harlan mengangguk lalu masuk ke ruangan perawatan putranya
" Pak, saya ingin bicara dengan putri Bapak, bisakah saya bicara berdua saja?"
"Silakan bu, saya tunggu di sana." Ira pun duduk berjongkok dengan menumpukan lututnya di lantai,
"An , kau tau setelah pengumuman kelulusan Dantai menelpon tante, ia ingin melamar mu setelah 2 hari kepulangannya berkemah. An Ia begitu antusias bercerita ingin merajut cinta dan cita bersama dengan mu. Maka An jika saat ini di melupakan mu itu hanya lah ingatan yang terhempas sementara, tapi tante yakin dia tidak pernah melupakan mu di hatinya."Ira berhenti sejenak dan menghapus air matanya.
"An jika dulu sebelum ini terjadi kau bisa menggenggam dunia mu dengan otak dan bakat mu maka tante mohon tetap menjadi Anta yang dulu genggamlah seluruh mimpimu dengan bakat dan kepandaian mu. Allah tidak mengambil kepandaian dan bakat mu maka tetap berkarir dan berkarya, buatlah semua orang terpukau dengan dentingan suara piano mu. An jika kau tak bisa melihat dengan matamu maka lihatlah dengan hati mu, jika tak bisa melangka dengan kaki mu maka melangkalah dengan iman dan hatimu perbaiki ibadahnya ya. An suatu saat nanti entah ingatan Dantai kembali atau tidak dan Dantai tetap mencari mu dan menggenggam tangan mu membawamu pada tante dan om maka saat itu tante dan om akan merestui mu dan menyatukan tangan dan hati mu. tante mungkin kecewa tapi tak pernah membenci mu. tetap lah ceria seperti dulu ya," Anta mengangguk sambil menangis di pelukan Ira, Ira mencium kening Anta.
"Tante trimakasih, sampai kan maaf ku pada om Harlan."
"Ya, nanti tante sampai kan, ingat om dan tante tak pernah marah atau benci padamu. Anta mengangguk. Ira mendorong kursi roda Anta menghampiri Andi yang berdiri agak jauh dengan mereka.
"Pak, putri anda sangat istimewa buatlah dia tersenyum, terimakasih telah membawa Anta kemari membuat putra saya bangun dari komanya namun sayang ia tak mengingat apa pun tentang putri Anda.
"Tidak apa bu, ini resiko yang harus ditanggung Anta atas kecerobohannya walaupun saya juga ikut andil dalam hal. Sekali lagi maafkan kami dan putri kami."
__ADS_1
"Sama-sama pak," jawab Ira dengan tersenyum Andi mendorong kursi roda putrinya meninggalkan Ira yang terpaku sendirian menatap punggung mereka hingga menghilang di sudut lorong.