
Jam satu Rizal telah sampai di Bandara Singapure. Mereka menunggu ke terminal kedatangan. Rizal pun melakukan panggilan beberapa kali hingga akhirnya tersabung," Assalamualaikum, Dan kami sudah sampai di Bandara Singapura.
"Wa'alaikum salam, Bang iya, baru keluar dari kampus, posisi di mana, Bang?"
"Posisi di ruang tunggu di terminal kedatangan, Dan."
"Ok! ditunggu ya ... Assalamualaikum."
Wa'alaikum salam
"Piye Mas, Mas Dan bisa kan jemput ke sini?"
"Bisa Dek, orangnya baru keluar dari kampus dan akan.segera kemari."
"Masih lama Bang nunggunya?" tanya Maera.
"Sebentar lagi Ra."
...****...
Dantai baru saja keluar dari kelasnya dan mendapatkan panggilan dari Bang Rizal.Dia pun berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam, kemudian pergi meninggalkan kampusnya menuju Bandara.
30 menit kemudian sampailah ia ke Bandara internasional Singapura. Dantai keluar dari mobil dan berjalan di ruang tunggu terminal kedatangan.
Dari kejauhan Dantai melihat Bang Rizal beserta istri dan Maera. Dantai pun berjalan dengan cepat menghampiri mereka, saling mengucapkan salam pelukan bagaikan orang yang tidak bertemu lama.
"Bagaimana perjalanannya? Mbak Sari amankan kandungannya?" tanya Dantai
"Aman, Bang."jawab Sari
"Maaf ya, Bang kalau nunggu lama, baru keluar kelas tadi waktu Abang telpon.
"Gak papa kita di sini juga duduk-duduk saja kok, Dan."
"Hello, Maera ikut juga si imut ini. Ayo,Bang kita bincang- bincang di mobil saja.
"Ayo, Dek." ajak Rizal pada istrinya sambil menggandengan tangan berjalan mengikuti Dantai yang berjalan lebih dulu
__ADS_1
dengan Maera.
Sambil berjalan Maera bertanya banyak hal.
"Om, Adiknya sudah bisa apa?" tanya Maera dengan logat cadelnya.
"Adiknya sudah bisa tidur, bangun, pup dan ngompol." jawab Datai sambil berjalan menuju mobilnya.
Maera tertawa, " Kalau gitu sih belum bisa apa-apa dong," katanya pada Dantai.
Setelah dekat Dantai memasukan koper-kopernya ke dalam bagasi, mereka pun masuk dalam mobil kemudian pergi meninggalkan Bandara.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan Bandara, membelah jalanan kota Singapura. Seperti biasa Maera tidak bisa diam selalu berceloteh, apa pun yang di lihatnya di tanyakan ke Sari.
"Mbak Sari gak tahu Ra, tanya Om Dan itu."
Maka jadilah ia bertanya Dantai tentang gedung-gedung tinggi dan apa yang di lihatnya semua di tanyakan.
Tanpa terasa mereka sudah sampai, mereka pun keluar mobil, Dantai dan Rizal mengeluarkan koper-koper dari dalam bagasi. Maera sudah jingkrak-jingkrak kesenangan.
"Ayo Mbak Sari, kita duluan masuk gak usah nunggu Om dan Abang." kata Maera pada Sari.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Wah, tamu jauh ini, ayok masuk Nak Sari," sambut Rena
"Bagaimana kabarnya, Nyonya," tanya Sari antusias.
"Baik, Nak aduh sudah besar ya kandungannya?" tanya Rena.
Begitu pula Andi menyambut hangat Rizal, "Gimana kabarnya Dokter?" tanya Andi pada Rizal
"Baik-baik saja, trimakasih." jawab Rizal
"Hello, Cantik kamu ikut juga ya?" tanya Andi sambil mengendong Maera di bawa masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ayo duduk sini dulu, biar grandfa bawa kemari si kembar," kata Andi sambil menurunkan Maera di karpet.
Andi pun mengambil busa ukuran sedang di taruhnya di tengah karpet lalu mengambil bantal untuk si kecil setelah itu meletakan bayi itu satu-persatu.
"Ma, Pa, mau balik ke kampus lagi masih ada perkuliahan lagi, Mas dan Sari, saya tinggal dulu ya, kalau mbak Sari capek Istirahat loh," pamit Dantai.
"Oh, iya Dan, lanjutkan jadi ngerepotin toh."
"Ya enggeh boten toh, Dokter Rizal, wong jemput saja kok ngeropoti toh Bang, ya sudah saya berangkat dulu." kata Dantai sambil berjalan keluar rumah
Monggo-monggo mas," jawab Rizal pada Dantai.
Mendengar suara ramai Anta keluar dari kamar, " Mbak Sari sudah datang, kok gak cari aku toh Mbak."
Sari terkekeh, "Lah dospundi Mbak wong kalean Nyonya di tarek mriki teros lenggah dateng mriki pun boten saget ngadek kulo Mbak An, kale niki loh Mbak ningali nyogo jenengan ganteng kalean uayu tenan ne Mbak Ibune kale Ayahe loh Mbak kalah" kata Sari dalam logat bahasa Jawa.
(Lah bagaimana lagi Mbak sudah di terik sama Nyonya ke sini sudah tidak bisa berdiri lagi saya,Mbak An, sama lihat anak kamu tampan dan cantik ayah dan ibunya kalah)
Anta tertawa," Lah, piye mbak wis di pek kabeh karo anake."
(Lah gimana Mbak sudah di ambil semua sama anak-anaknya)
"Mrene loh mbak lengah mriki, saget mriki nopo mboten menawi mboten saget nyuwun tolong kale maera."
(Kesini loh mbak duduk sini, bisa ke sini apa engak kalau ngak bisa biar di tolong Maera)
"Eh, ngenyek sampen iki pokoke sampean nyocosae aku yo isok mrunu mbak pokok eneng suaro aku yo isok marani basio rah ketot mbak Sari.
(Eh, kamu menghina ya mbak selama kamu ngomong aja aku bisa datang mendekatimu mbak pokoknya selama ada suara aku bisa tahu walaupun gak bisa melihat mbak)
"Ngapunten Mbak An mboten ngenyek namung kuatir mawon mergi sayang kale Mbak An, lah saniki pun katah kemajuan ne loh Mbak An iki aku loh mbak seneng pol pendeke."
(Maaf mbak An tidak menghina khawatir saja karena sayang sama kamu mbak An, lah Mbak An sekarang ada kemajuannya saya loh Mbak senang sekali pokoknya)
Anta tergelak," Ngerti aku Mbak Sari sampean loh gak bakal ngenyek wong sampean yo sayang banget karo aku, aku loh guyon,Mbak."
(Mengerti Mbak Sari kamu ngak bakal hina aku karena kamu sayang sekali sama aku, aku loh bercanda)
__ADS_1
"Enggih mbak kulo ngertos."
Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu serta di berikan kelancar rizki bagi anda semua.