
Kadang ia berpikir apa yang di cari sebenarnya, cukup membuat otak tetap waras saja adalah hal yang sulit, apalagi dengan hati ini, sungguh suatu hal yang tak mampu dia kendalikan sama sekali.
Apa ini kasih sayang seorang Om terhadap anak dari teman baiknya atau sesuatu yang dia takutkan selama ini, kadang otak menyuruh untuk membiarkan saja dan mengikuti alur kemana hati dan jiwa berlabuh, tak cukup sekedar kata cinta untuk tahu di Darmaga yang akan di singgahi sementara atau menetap untuk selamanya. Satu puntung rokok sudah terbakar habis menyisakan satu centimeter dari gabusnya lalu di buang begitu saja melalui jendela kemudian menutup dengan rapat dan menarik tirai.
Rio berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.
...----------------...
Pagi-pagi mereka sudah di berada di meja makan dengan menu yang sederhana, selesai sarapan Rio pun mengajak kedua anak itu untuk pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi sang ibu.
Bik ija menata nasi dan lauk ke dalam kotak makan lalu dititipkan pada Rio untuk Majikannya yaitu Dantai.
Rio berpamitan pada bik ija lalu mengajak mereka keluar dari rumah menuju halaman lalu mereka masuk kedalam mobil, Hira duduk di samping. Rio, pria itu pun mulai menjalankan dengan kecepatan sedang.
Emir yang penasaran sedari tadi belum bertanya dan tidak di beritahu sedari tadi pun bertanya, "Bagaimana keadaan Bunda, Om?" tanya Emir pada Rio
Dengan masih fokus menyetir Rio menjawab pertanyaan Emir. "Bunda sudah melewati masa kritisnya, dan sudah di pindahkan di ruang perawatan VIP, tinggal menunggu sadar saja."
"Oh syukurlah aku begitu kawatir pada Bunda begitu banyak darah yang keluar pada waktu itu Om, aku pun memikirkan bagaimana dengan pengelihatan Bunda?" tanya Emir
"Nah itu Om gak tahu, Mir. Mungkin kalau bundamu sudah sadar baru bisa di periksa," kata Rio
__ADS_1
Mobil terus berjalan melintasi jalanan sepi karena masih terlalu pagi melewati beberapa gedung perkantoran kemudian berbelok arah ke rumah sakit lalu berhenti di area parkir rumah sakit, dan mereka pun keluar dan berjalan menuju lobby lalu berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang Inap Anta.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di ruangan dimana Anta di rawat.
Begitu sampai mereka mengucapkan salam, Dantai menoleh dan menjawab salam dari mereka.
"Ayah," seru kedua bocah kembar itu sambil menghambur kepelukan Dantai, kemudian melihat ke arah sang Bunda yang terbujur tak berdaya dengan selang infus di tangannya.
Emir mendekati sang Bunda mengecup kening wanita itu.
Rio masuk dan menaruh bungkusan plastik yang berisikan kotak makan, satu termos kecil kopi dan sebotol air mineral, kemudian dia duduk di sofa sambil bersandar di sandaran kursi Rio memanggil Dantai.
"Ya," jawab Dantai.
Dantai berjalan ke sofa lalu duduk di sebelah Rio, menyibak Bungkusan plastik lalu dikeluarkan kotak makan, termos dan air mineral di letakan di atas meja, di ambil dan dibuka kotak makan kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya sambil matanya melihat anak-anaknya sedang berbicara kepada ibunya. "Bun, apa Bunda tak ingin bangun dan melihat anak-anak bunda? Bunda jangan takut kalau Bunda hanya melihat kegelapan saja mata Emir jadi mata Bunda juga, kemana Bunda ingin pergi akan kuceritakan setiap tempat yang kita lalui, tolong buka matamu, Bun! Agar Emir tahu Bunda baik-baik saja," kata Emir sambil meletakkan tangan kanan Bundanya di wajahnya.
"Coba raba, ini wajah Emir, Bun dan ini wajah Hira yang cerewet itu," katanya sambil menatap wajah Bundanya yang terlelap.
"Enak saja bilang cerewet, yang dari tadi ngomong cuma kamu, kapan aku ngomongnya pada Bunda," protes Hira pada Emir.
Emir terkekeh. "Dengar Bun, dia begitu cerewetnya, sampai-sampai aku pusing mendengarnya, Bunda belum dengar dia protes dan nangis 'kan? Sekarang Bunda harus dengarkan Emir sudah bosan," kata Emir lalu di pergi menyingkir untuk memberikan kesempatan kepada Hira untuk bicara pada Bundanya.
__ADS_1
Hira memeluk tubuh Bundanya lalu mencium pipi Anta. "Bun, maaf 'kan Hira, jika Bunda tidak melindungi Hira tak akan begini, Bun tolong bangunlah aku juga akan jadi mata Bunda, akan ku gandeng tangan mu, Bun. Aku juga bisa bercerita panjang dan lebar jangan biarkan kak Emir yang menghabiskan ceritanya bilang dan marahi Dia, suruh membagi dia di awal cerita dan aku di akhir cerita. Bun, aku tidak cerewet bukan? aku hanya berkeluh kepadamu," katanya sambil memegang tangan Bundanya.
Tiba-tiba tangan Anta bergerak, dan itu di rasakan oleh Hira,
"Ayah, tangan Bunda, bergerak!" teriak Hira, membuat Dantai terkejut dan meletakan makanan begitu saja lalu memencet bel panggilan Tak lama kemudian Dokter datang dengan seorang suster.
Emir dan Dantai sudah berdiri di sebelah Hira, sekali lagi gadis itu memperhatikan wajah ibu itu terlihat Anta mencoba membuka matanya. "Lihat, mata Bunda bergerak," teriak Hira memberi tahu.
Dantai dan Emir ikut memfokuskan pandangannya pada mata Anta, perlahan tapi pasti mata itu pun terbuka. sementara itu, Rio mendapat panggilan dari nomer Andi, segera menerimanya.
"Ya, Om dimana? Apa, di lobby? Baik Om saya akan kesana menjemput, tunggu saja di situ," kata Rio bergegas berjalan keluar menuju ke ruang tunggu rumah sakit sesampainya di sana dia menghampiri Andi dan Rena yang duduk di kursi tunggu, mereka berdiri saat melihat Rio berjalan ke arahnya, setelah mencium punggung tangan kedua orang tua itu, Rio mengajak mereka ke ruang inap Anta sesampainya di sana Andi, Rena, serta Rio melihat pemandangan yang luar biasa bahkan mungkin di luar pemikiran mereka.
Anta membuka matanya perlahan menampakan gadis kecil yang cantik, terseyum dengan lesung pipit yang dalam, ia menagis serasa tak percaya oleh pengelihatannya sendiri, di pejamkan dan di bukanya kembali, ia masih bisa melihat gadis itu lalu bibir dengan lemah mengucapkan takbir tanda syukur yang terhingga. "Allaahu akbar."
Anta terseyum pada putrinya lalu menatap pria kecil, kemudian terakhir lelaki yang bermata teduh sedang menatapnya, tangan Anta menyentuh pipi Emir lalu mengenggam telapak tangan yang kekar itu, "Hai, apa kabar? lama sekali rasanya aku tak melihatmu, kau terlihat begitu dewasa, aku terperangkap dengan ingatan masa SMU, Fif. Kau begitu tampan, apa kedua anak di depan ku ini adalah putra dan putriku?" tanya Anta pada Dantai
Dantai mengangguk, lalu memeluk istrinya itu. Apa kau sudah bisa melihat An?" tanya Dantai tergugu.
"yaa," jawabnya pelan.
Dantai mengucap takbir dan hamdalah di ikuti anak-anaknya yang memeluk ibunya sambil menangis, tangisan kebahagian tak terhingga.
__ADS_1