
Rio mengarahkan mobilnya ke wisata pantai, namun sebelum mereka mampir ke Masjid dulu untuk melaksanakan sholat duhur. Setelah itu mereka masuk kedalam mobil, dan Rio kembali menjalankan dengan kecepatan sedang tepat pukul 14.00 mereka sampai ke pantai Pantai Batu Bengkung.
Kemudian, mereka keluar, menikmati indahnya Pantai yang dikelilingi oleh dua batu karang raksasa.
"Bagaimana Prencees kau suka, 'kan?" tanyanya pada gadis kecil yang lari mendahuluinya. "Ya, aku suka Om, maukah Om meluangkan waktu untuk pergi bersama dengan Om," jawab sambil berteriak karena dia sudah berlari terlalu jauh dari jarak Rio berjalan dengan santai mengikutinya.
"Jangan terlalu ketengah Princees," perintah Rio sambil berteriak pula.
Rio berjalan memandang sekeliling pantai, menampakan panorama yang begitu indah, laut dan pantai yang terbelah oleh bebatuan karang yang cukup tinggi, dan mungkin baru saja air laut pasang sehingga berubah menjadi sebuah telaga yang indah.
Ia melihat princessnya bermain di telaga itu, ia pun tersenyum melihat Hira bermain di sana. 'Posisi batu Bengkung ini menghadap ke barat mungkin matahari terbenam sangat indah di lihat dari sini.
Waktu Ashar pun tiba suara adzan terdengar di telinganya, Rio melambaikan tangan kepada Hira, menyuruhnya untuk mendekat padanya.
Hira pun berlari menuju lelaki gagah dan tampan itu. "Ada apa Om?
"Kita sholat dulu Princess, nanti kita akan pulang, kalau sudah melihat matahari terbenam," katanya sambil mengandeng tangan kecil Hira menuju ke masjid. Setelah itu, mereka menikmati matahari terbenam dengan memakan camilan di kedai tenda dan duduk di atas tikar yang tergelar di atas pasir putih.
Setelah itu merekapun pulang, Rio mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, terlihat Hira sedang tertidur pulas. Jalan begitu lengang karena hari sudah petang sebab mereka pulang setelah sholat magrib dulu.
Dua jam kemudian mereka sampai di Vila, Roi keluar lalu berjalan memutar membuka pintu kemudian menggendong Hira yang tengah tertidur sambil menutup pintu dengan kakinya.
Rio berjalan masuk kedalam Vila dan berpapasan dengan Andi. "Tidur?" tanyanya. "Iya, Om. Mungkin lelah, karena berlarian di tepi pantai." jawabnya sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar Hira dan membaringkannya di atas ranjang. Lalu ia mengganti lampu dengan yang redup.
kemudian keluar dengan menutup pintu perlahan. Dia berjalan menuruni tangga, akan menuju ke dalam kamarnya.Tatapan teduh Andi tertuju padanya. "Yo, maaf yaa, Hira menyusahkanmu."
"Tidak apa-apa, Om. Lagian semua pekerjaan saya sudah saya serahkan kepada Yudi," jawab Rio sambil berhenti sejenak.
"Ya, sudah bersihkan dirimu! kucel sekali, seperti pengasuh pengasuh anak saja," Timpal Andi terkekeh yang di sambut dengan tawa Rio.
Rio berjalan kembali menuju kamarnya, membuka dan menutup dengan perlahan. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, beberapa lama kemudian, ia keluar hanya berbalut handuk yang menutupi area i n t i mnya.
__ADS_1
Kemudian mengambil baju yang ia beli dan laundry kemarin, kaos lengan pendek dan celana pendek rumahan menjadi pilihannya.
Roi berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuat kopi. Setelah itu dia membawanya kedalam kamarnya.
Dia duduk di sofa dan meletakan kopinya di atas meja, disesap dengan perlahan, lalu disandarkan punggungnya sambil mengambil handphone yang di letakan di atas nakas sebelum ia ke kamar mandi. Ada dua panggilan tak terjawab di sana juga ada pesan wa yang tersemat pula.
Jasmine
Apa urusan di sana belum selesai? ayah dan ibu akan datang lusa, aku harus bilang apa pada mereka?
Rio
Katakan ada urusan pekerjaan dan belum pulang.
Rio mengirim pesan pada Jasmine, kemudian meletakkan handphone-nya, di atas nakas kembali.
Rio menghelah nafas lalu menghembuskan dengan kasar. Dia menghabiskan kopinya kemudian berjalan menuju Ranjangnya. Di rebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
Dipejamkan matanya untuk mulai mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.
Malam berjalan tanpa bisa di cegah dan di hentikan mengiringinya yang mulai terlelap dalam mimpinya.
...----------------...
Di rumah sakit di kamar VIP Dantai dan Anta menikmati kebersamaan mereka tanpa ada yang mengganggunya.
"Apa kau ingin jalan-jalan aku siapkan kursi roda yaa, sayang," kata Dantai dan Anta mengangguk.
Dantai segera kekantor untuk mengambil kursi roda dan beberapa saat kemudian kembali keruangan.
"An duduk lah sini mari kita berpetualang sekarang, hari ini anggaplah pertama kali kamu melihat dunia, dan aku akan membawamu kemanapun yang kau inginkan," kata Dantai
__ADS_1
Anta pun duduk di kursi roda, dan Dantai mendorongnya sambil membawa infus tinggi-tinggi. Mereka pun pergi ke taman rumah sakit, menikmati indah senja hari itu.
Mata Anta berbinar, seolah pertama kali melihat dunia, hatinya menghangat air matanya menetes. "Hai kenapa menangis?" tanya Dantai pada istrinya.
"Aku menangis karena bahagia Dan, aku sangat gembira, kupikir aku tak akan bisa melihat selamanya. Dan apa kau punya foto anak-anak waktu bayi atau video mereka," tanyanya sambil menoleh ke suaminya.
"Ada, sayang. Sebentar yaa," jawab Dantai.
Dantai mengeluarkan handphone-nya lalu di berikan kepada Anta.
"Ini sayang, di dalam sini ada foto dan video mereka, lihatlah," katanya sambil memberikannya dan Anta menerimanya.
Anta membuka handphone suaminya itu lalu membukanya, ditatapnya foto-foto anak-anak semasa bayi yang tak pernah bisa di lihatnya. "Mereka sangat tampan dan Cantik juga lucu," katanya sambil menatap kembali suaminya.
Dibuka video anak-anak dari mulai ia lahir semuanya di simpan dengan rapih dan akan di perlihatkan kelak ketika Anta bisa melihat, sungguh dia tidak pernah putus harapan untuk istrinya bisa melihat kembali.
Anta tertawa melihat kelucuan video anak-anaknya dan itu adalah pemandangan yang luar biasa bagi Dantai, dia tidak lagi perkataan andai waktu bisa diputar.
Sekarang yang ada hanya terimakasih Ya Allah, itu yang ada hati Dantai, terdengar lagi suara tawa Anta, ketika melihat Video si kecil ketika usia dua tahun dan mereka saling berkelahi.
Expresi yang membuatnya bahagia, sudah lama sekali tujuh tahun lamanya.
"Mereka sangat lucu, 'kan?"
"Ya, Mereka sangat lucu Dan, trimakasih banyak telah menyimpan ini semua untuk aku," ucap Anta.
"Ya, tidak perlu berterima kasih, Bun. Apa pun yang bisa kulakukan untukmu," katanya sambil tersenyum.
"Ayo, kita kembali sudah mulai petang," kata Dantai dan Anta mengangguk.
Dantai mendorong kursi roda Anta kembali ke ruangan rawat inapnya.
__ADS_1
Dantai berjalan sambil bercerita banyak hal tentang saat anak-anak masih bayi, bagaimana dia repot membesarkan dua anak itu, juga rasa bahagia saat pertama melihat anak-anaknya lahir.