
Di meja makan mereka mulai berkumpul dan makan bersama kecuali Nenek Nirma yang makan di kamar di suapi oleh perawat nya.
Di kesempatan itu Dantai pun mengutarakan keinginan hatinya untuk mengajak putra-putrinya berlibur di Indonesia khususnya di Surabaya dan di malang. Dantai mulai berbicara dengan anak-anaknya.
"Ayah sudah mengajukan cuti selama satu Minggu dan kita akan liburan ke Surabaya dan Malang, sekalian menjenguk tantemu Selva dan berkunjung ke teman-teman Ayah dan terakhir akan ke Jakarta bertemu dengan paman Rudi. Bagaimana menurut kalian atau ingin ke tempat lain?" tanya Dantai sambil menatap wajah kedua anaknya.
"Aku juga ingin pergi ketempat lain ayah, misalnya ke Bali atau ke Lombok?" pinta Emir pada ayahnya.
"Ok! Kau pilih salah satu, Mir. Bali apa Lombok? Karena waktu gak akan cukup kalau kita pergi dua tempat itu, Nak," kata Dantai pada putranya itu.
"Baiklah aku lombok saja, untuk ke Balinya lain waktu saja, kalau kita pergi ke Indonesia lagi," katanya sambil meneruskan makannya.
"Bagaimana kamu, Nak?" tanya Dantai pada Hira.
"Aku terserah Aya yang penting bisa ketemu Om Rio," kata Hira sambil terkikik. Tiba-tiba tenggorokan Dantai terasa kering, ia mengambil segelas air dan meneguknya membasahi tenggorokannya karena terkejut dengan jawaban Hira.
"Hira, mungkin kita akan susah bertemu om Rio, karena om Rio, 'kan sibuk, Nak," kata Anta pada putrinya itu.
"Om Rio itu sesibuk apapun akan mau menemui Hira, Bun," kata Hira sedikit meninggi.
__ADS_1
"Hira, yang sopan pada Bunda!" perintah Dantai pada Hira.
"Kalau gak ketemu ngapain kita pergi ke Surabaya, cuman mau ketemu keluarga tante Selva, ke malang ketemu keluarga tante Era, apanya yang menyenangkan kalau cuma begitu? Tadinya Hira itu senang di Surabaya pasti bertemu dengan Om Rio, tapi ternyata kemungkinan itu tidak ada," kata Hira sedikit marah, ia meletakan sendok dan garpunya lalu meminum segelas air dan pergi begitu saja ke kamarnya.
Dantai menghelah nafas. "Lanjutkan makan, Bun. Dan juga kamu, Mir. Biar ayah yang bicara pada Hira." Dantai menyelesaikan makannya lalu beranjak pergi ke kamar Hira, sementara Andi hanya geleng-geleng kepala melihat kemarahan Hira. "Apa aku salah ngomong, Pi? Sampai segitu marahnya dia."
"Bunda gak salah, Hira saja yang sensian," kata Emir pada Anta. Andi menepuk bahu Anta. "Yang sabar, Nak."
Mereka pun selesai makan Emir mengantar ibunya ke kamar. "Tidak usah di antar Bunda sudah hafal," kata Anta pada putra.
"Tidak apa ingin memanjakan Bunda saja," jawab Emir.
"Hemm, manis sekali anak Bunda, terimakasih yaa. Sekarang kembali ke kamar dan belajar! Jika ada yang susah tanya Ayah!" perintah Anta, Emir pun mengangguk. Emir pun pergi ke kamarnya dan Anta merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Otaknya sibuk berfikir, ia pun tak tahu mengapa Rio menghilang begitu saja, tidak ada kabarnya padahal Anta pun menganggap rasa sayang Rio adalah suatu hal yang wajar seperti sayang terhadap anaknya sendiri.
Sementara itu di kampus, Aldo baru saja keluar dari kelas terakhir jam empat sore, hari ini pun ia telah mengantongi surat ijin cuti selama satu Minggu, dia berjalan dengan hati senang karena akan mengajak istri kecilnya berjalan-jalan di berbagai negara.
Sesampainya di halaman parkir kampus dia masuk ke dalam mobilnya dan melaju di jalanan yang mulai sepi. Beberapa saat kemudian dia pun sampai di halaman parkir apartemennya, Dia berjalan melewati lobby dan masuk dalam lift yang membawanya ke lantai lima, setelah sampai ia pun keluar dan berjalan menuju flatnya lalu menempelkan cardlock kemudian pintu terbuka dia pun masuk mencari istri kecilnya itu menuju dapur, terlihat Era tengah menyiapkan makanan untuk Aldo suami, tadi sebelum pulang suaminya itu menelponnya kalau dia akan segera pulang, Era pun menyambut suaminya itu dengan hal yang di sukai Aldo.
Seperti biasa Era memakai hem putih lengan pendek yang panjangnya sebatas paha gadis itu postur tinggi tubuhnya membuat dia tampak begitu menarik di mata Aldo. Era tidak mengetahui jika suaminya itu sudah pulang karena keasikannya menata makanan di atas meja. Aldo mengendap mendekati istrinya lalu dia memeluknya dari belakang sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
sesaat ia terkejut namun ketika ia mendengar ucapan salam dari suaminya itu ia pun tersenyum lalu mendongak kepalanya ke atas. "Abang sudah pulang?" tanyanya pada Aldo.
"Hem, aku rindu, sudah sholat?" tanyanya pada istri kecilnya.
"Sudah, Bang. Kenapa?" tanyanya pada Aldo,
"Sudah ku bilang aku rindu," katanya sambil tangan kirinya merayap pada lembah yang ia sukai dan bermain di sana membuat kaki Era terasa lemas karena menahan sensasi luar biasa yang buatnya tidak bisa berkutik namun terasa nikmat sekali, tangan kanan membuka kancing atas hingga ke bawah lalu dibalikan tubuh istrinya ia pun mulai bermain-main di sana, bibirnya merayap dari pegunungan hingga ke lembah yang indah, Dia pun berhenti saat sesuatu benda yang ada dalam tubuhnya mulai mengamuk. Dia melepaskan pakaian bawahnya dan meminta Era untuk melakukan sesuatu untuk menjinakkannya, hingga akhirnya ia pun terpuaskan lalu pergi ke kamar mandi di ruangannya dan membersikan tubuhnya.
Era pergi ke kamar mandi dapur untuk membersihkan tubuh dan memakai baju kembali. Setelah itu dia pergi ke kamar dan melihat suaminya berganti pakaian. Aldo tersenyum dan melambaikan tangannya memangil Era untuk mendekat padanya. Era berjalan mendekati suaminya itu. "Pakailah baju yang sopan, sayang. Abang, gak kuat jika kau baju seperti ini."
"Abang, 'kan yang ingin Era pakai baju beginian," jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Aldo mengecup sekilas bibir itu. "Aku berubah pikiran karena kau belum bisa di ajak lebih, takut membuat Abang gila."
Era mengambil baju terusan sepanjang lutut, dan berganti di hadapan Aldo, membuatnya tersenyum sambil menikmati pemandangan yang ia dapatkan di apartemen saja, karena jika Era keluar akan memakai busana muslimah itu yang membuatnya tersanjung.
Tak lama kemudian mereka keluar dari kamarnya berjalan menuju meja makan dan duduk di sana. Era mengambilkan makanan Aldo lalu mengambil untuk makanan sendiri kemudian mereka makan bersama.
Setelah makan bersama Adzan magrib pun berkumandang dan mereka pun sholat berjamaah. Setelah itu mereka berdoa dan berdzikir bersama, setelah itu membaca Alquran bersama hingga waktu isya' lalu melakukan sholat isya' berjamaah. Setelah itu Aldo mengajak berbincang-bincang sejenak. "Ra, Abang sudah dapat cuti satu minggu untuk mengajak mu berlibur, kau ingin berlibur kemana? tanyanya pada Era.
__ADS_1
"Aku ingin ke Malang, Bang. Di rumah kasih Ibu," jawab Era sambil tersenyum.
"Baiklah, bersiap-siaplah sekarang, besok akan berangkat.